![]() |
| Jembatan Lubuk Siduk, Aceh Tamiang yang terputus total diterjang banjir |
Sebelumnya AHY mendatangi desa itu 10 Desember lalu untuk melihat dampak yang dirasakan warga Aceh Tamiang akibat bencana yang melanda wilayah itu akhir November lalu. Ia juga bertemu para pengungsi dan melihat langsung penderitaan para korban.
Desa Lubuk Siduk salah satu desa yang ia kunjungi. Tak terbantahkan lagi, warga desa pinggiran Aceh Tamiang itu termasuk paling menderita akibat bencana banjir dan longsor tersebut.
Nyaris tak satupun rumah warga yang selamat dari terjangan banjir yang ketinggannya melebihi atap rumah warga. Kondisi itu diperparah dengan tanah longsor dari perbukitan yang mengelilingi desa itu.
Bencana tersebut memaksa semua warga desa harus mengungsi di tenda-tenda darurat di lokasi yang lebih tinggi. Beruntung, tidak ada korban jiwa karena sebelum air membenam desa, semua warga sudah berhasil melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Terjangan banjir sangat kuat, sampai-sampai jembatan baja yang menghubungkan Desa Lubuk Sidup dan Desa Babo yang melintasi Sungai Tamiang terputus total sehingga membuat koneksi antar dua desa itu tak lagi berjalan normal.
AHY menyadari betapa pentingnya peran jembatan itu bagi aktivitas warga sehingga ia berjanji segera membangun jembatan perintis yang bisa digunakan dalam waktu dekat. Jembatan yang dibangun adalah jembatan rintis yang bersifat sementara, tapi tetap berfungsi memperlancar aktivitas warga.
Pembangunan jalan itu melibatkan dukungan dari kementerian lainnya, termasuk Kementerian Kesehatan dan Kementerian Transmigrasi. Sementara komunitas relawan yang turut berperan, antara lain, komunitas jejalah nusantara Overlanding Indonesia, Eiger, CMNP (perusahaan milik pengusaha Yusuf Hamka), Vertical Rescue Indonesia, dan Komunitas Alumni AKABRI 2000.
Pengerjaan proyek jembatan itu dikomandoi Staf Khusus Kemenko Infra Bidang Percepatan Pembangunan, Irjen Pol Arif Rachman dan Staf Khusus Menko Infra Bidang Hukum dan Regulasi, Sigit Raditya. Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari tim Brigade Infrantri 25/ Siwah, Kodam Iskandar Muda.
Selain mengerjakan proyek jembatan, Kemenko Infrastruktur juga membagikan bantuan kepada masyarakat korban bencana, berupaya makanan, pompa air, tenda, kebutuhan air minum, kasur dan lainnya. Setidaknya 30 orang relawan dari Vertical Rescue Indonesia, Overlanding Indonesia, dan warga local yang bekerjasama untuk membangun jembatan itu. Kinerja tim juga diperkuat dukungan pasukan TNI Dari Brigadir Infrantri 25/Siwah Kodam Iskandar Muda.
Guna memperkuat kinerja tim, tenaga ahli dari Kemenkes menyiapkan system penyulingan yang bisa mengubah air sungai menjadi air bersih. Mereka juga membangun MCK dan sarana lainnya. Dengan kerjasama itu diharapkan dalam tiga minggu desa Lubuk Siduk dan Desa Boba sudah terhubung kembali.
Bantuan dan peralatan untuk pembangunan jembatan itu semuanya didatangkan dari Jakarta yang diangkut menggunakan kapal perang KRI Semarang yang berangkat dari Tanjung Priok dan berlabuh di Pelabuhan Belawan pada Kamis malam 25 Desember lalu. Selanjutnya peralatan itu dibawa dengan menggunakan truk dari Belawan ke Aceh Tamiang keesokan harinya.
Aceh Taming merupakan wilayah yang sangat terdampak akibat bencana yang menyerang wilayah Sumatera akhir November lalu. Sebanyak 88 warga kabupaten ini yang meninggal dunia akibat bencana tersebut, sementara jumlah pengungsi mencapai 150 ribu orang.
Lebih dari 22 ribu rumah warga Aceh Tamiang yang rusak diterjang banjir. Sebanyak 10.803 unit di antaranya rusak berat sehingga harus dibangun ulang.
Hingga sekarang belum ada informasi yang jelas soal pembangunan rumah bantuan bagi warga yang kehilangan rumah mereka. ***
