![]() |
| Walikota Medan Rico Waas dan Benny Sinomba Siregar |
Bukan rahasia lagi kalau sejak awal Bobby begitu berharap, pamannya Benny Sinomba Siregar akan ditempatkan sebagai Sekda Kota Medan menggantikan Wiriya Alrahman yang akan memasuki masa pensiun pada Juli 2026.
Jika rencana itu terwujud, tentu akan menambah kekuatan Bobby pada Pilkada mendatang, sebab jabatan Sekda memiliki pengaruh besar dalam menggalang kekuatan jaringan ASN dan keluarganya. Selain itu, jabatan Sekda juga berpeluang besar dalam menggalang pengaruh para camat, lurah dan Kepling.
Peran ini yang telah dilakukan Wiriya Alrahman dalam membantu kampanye Bobby pada Pilkada Kota Medan 2020. Pada Pilkada Gubernur 2024, Wiriya memainkan peran itu saat ia menjabat Pj Bupati Deli Serdang.
Wirya Alrahman adalah ipar dari Agus Andrianto yang sekarang menjabat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI (Imapas).
Agus sendiri dikenal sebagai pendukung utama Bobby Nasution pada dua Pilkada sebelumnya, terutama dalam perannya menggerakkan ‘Partai Coklat’, istilah bagi peran polisi dalam Pilkada.
Sebelum menjabat sebagai Menteri Imapas, Agus adalah perwira tinggi Polri dengan sejumlah jabatan mentereng, mulai dari Kapolda Sumut, Kabaharkam Polri, Kabareskrim Polri hingga Wakapolri.
Berkat besarnya dukungannya kepada Bobby pada Pilkada Medan dan Pilkada Gubernur, sehingga Jokowi meminta ke Prabowo agar Agus diangkat sebagai menteri. Pengaruh Agus ini yang membuat karir Wirya Alrahman sebagai ASN di Kota Medan terus melejit.
Kalau mau jujur, naiknya jabatan Wirya sebagai Sekda pada Oktober 2018 juga tidak lepas dari dukungan Agus Andrianto yang kala itu menjabat Kapolda Sumut.
Agus berperan menekan Walikota Medan kala itu, Dzulmi Edin, untuk memilih Wirya. Jika tidak, bakal ada kasus hukum di Pemko Medan yang akan dibongkar. Tak heran jika selama menjabat, posisi Wirya tidak pernah terusik. Apalagi ia sangat dekat dengan Bobby Nasution.
Tapi mulai Juli nanti, Wirya akan memasuki masa pensiun. Karirnya di ASN bakal berakhir. Tentu menjadi teka-teki siapa yang bakal menggantikan posisinya.
Enam Kandidat
Benny Sinomba Siregar memang menjadi salah satu kandidat yang disebut-sebut berpeluang menempati posisi Sekda Kota Medan. Tapi konflik antara Bobby Nasution dan Rico Waas membuat peluang itu jadi mengecil. Apalagi prestasi Benny sebagai pejabat eselon II sebenarnya tidak begitu Istimewa.
Rico menganggap ia lamban dalam menjalankan tugas sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, sehingga sejak 16 April 2026, Rico memutasi Benny sebagai Kepala Perpustakaan Kota Medan. Jelas, ini jabatan turun kelas.
Langkah Rico ini yang turut memperburuk hubungannya dengan Bobby Nasution.
Dengan pindahnya Benny sebagai Kepala Perpustakaan, citranya sebagai calon Sekda akan luntur sebab ia dianggap pejabat dengan kinerja yang kurang baik. Kalau kinerja sudah tidak baik, bagaimana mungkin bisa bersaing jadi Sekda?
Serangan Bobby lewat kalimat pedas yang selama ini diarahkan kepada Rico, secara tidak langsung turut memperburuk posisi Benny dalam persaingan itu. Apalagi kandidat lain umumnya lebih senior ketimbang Benny. Mereka malah jauh lebih berpengalaman.
Beberapa dari kandidat itu, di antaranya, Dr. Adlan yang sekarang menjabat sebagai Staf Ahli Wali Kota Medan Bidang Kemasyarakatan dan SDM.
Adlan dikenal sebagai sosok ASN yang santun dan memiliki pergaulan luas. Karakter kepemimpinan cukup tenang, komunikatif, dan dekat dengan tokoh masyarakat.
Ada pula sosok Benny Iskandar yang sekarang menjabat Kepala Badan Riset dan Inovasi Kota Medan.
Benny dikenal sebagai ASN yang cerdas dan tidak terlalu terkontaminasi politik. Ia memahami betul arah pembangunan Kota Medan. Pengalamannya yang panjang di bidang tata ruang, kawasan permukiman hingga perencanaan pembangunan menjadi modal kuat dalam menjalankan roda birokrasi pemerintahan.
Lalu ada pula nama Muhammad Sofyan, ASN senior yang saat ini menjabat Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Medan.
Sosok ini pun cukup dikenal luas di masyarakat karena kerap aktif dalam berbagai kegiatan social. Pengalamannya sebagai pemimpin sudah cukup matang. Dengan senoritas dan pengalaman luas itu, Sofyan disebut-sebut paling cocok sebagai Sekda
Dua nama lainnya adalah Laksamana Putra Siregar yang kini menduduki posisi Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Medan.
Mencuat pula nama Ahmad Fadli yang saat ini menduduki posisi Staf Ahli Gubernur Sumatera Utara. Ahmad Fadli disebut-sebut berpeluang hengkang ke Kota Medan karena ia dikenal memiliki jaringan dan pengalaman yang luas.
Yang harus diingat, peran Walikota sangatlah vital dalam menentukan posisi Sekda ini. Sudah tentu Rico Waas tidak akan mau memilih calon Sekda yang tidak sejalan dengan kemauannya.
Dari sisi ini, pilihan kepada Benny Sinomba Siregar semakin menipis, karena Benny Sinomba pasti akan cenderung menjalankan kepentingan ponakannya, Bobby Nasution, ketimbang menjalankan kepentingan Rico Waas.
Bahkan sejak Pilkada Medan 2020, Benny Sinomba sebenarnya sudah aktif bermain dalam kegiatan politik untuk menggalang suara dari kalangan ASN bagi ponakannya itu. Hal ini bisa dipahami karena pertalian darah mereka sangat kental.
Benny Sinomba Siregar adalah adik kandung dari Ade Hanifah Siregar, ibu Bobby Nasution. Tak mengejutkan jika Bobby akan terus berjuang untuk karir pamannya itu.
Saat Bobby menjabat walikota Medan, sebenarnya ia sudah pernah mendorong agar Benny tampil sebagai Plt. Sekda menggantikan sementara posisi Wirya Alrahman yang kala itu ditugaskan sebagai Pj. Bupati Deli Serdang.
Namun langkah itu membuat Bobby mendapat kecaman di sana sini karena kebijakannya itu sangat kental berbau KKN. Lagu pula ada banyak ASN senior di Pemko Medan yang lebih pantas sebagai Plt Sekda ketimbang Benny Sinomba.
Tak kuasa melawan tekanan, Bobby akhirnya membatalkan rencana itu. Tapi ia tetap tidak mau memilih ASN senior untuk posisi Plt Sekda. Jabatan tersebut ia berikan kepada Topan Obaja Putra Ginting alias Topan Ginting yang juga bagian dari kroninya.
Belakangan setelah Bobby pindah tugas sebagai Gubernur, Topan diajak mutasi ke Provinsi untuk menduduki jabatan Kepala Dinas PUPR Sumut. Sampai akhirnya Topan Ginting terjaring korupsi proyek jalan di Tapanuli Bagian Selatan.
Adapun Benny Sinomba tetap bertugas di Pemko Medan, sebab Bobby berkeinginan untuk mendudukkan pamannya itu sebagai Sekda. Bobby kabarnya akan berupaya melobi Mendagri untuk bisa meloloskan ambisinya itu.
Rico akan bentuk Tim Seleksi
Sebelum nama calon Sekda masuk ke Mendagri, Walikota melalui tim seleksi yang dibentuknya terlebih dahulu akan membentuk tim seleksi untuk menjaring kandidat terbaik. Nantinya tim ini akan memilih tiga kandidat yang selanjutnya akan diserahkan ke Mendagri dan juga gubernur.
Di sinilah Rico akan menunjukkan taringnya. Bisa jadi dari tiga nama yang muncul, nama Benny Sinomba tidak akan terpilih. Dengan begitu, Bobby pasti tidak akan bisa melakukan intervensi.
Tapi kalau saja nama Benny Sinomba muncul dalam tiga besar kandidat Sekda itu, maka peluangnya untuk terpilih sangat besar. Bisa dipahami, sebab taring keluarga Jokowi masih sangat kuat dalam mengarahkan kebijakan yang ditetapkan Mendagri Tito Karnavian.
Sampai sekarang Tito tetap dikenal sebagai orangnya Jokowi. Dengan demikian, tidak akan sulit bagi Bobby untuk merayu Tito agar menetapkan Benny Sinomba sebagai Sekda. Sekali lagi, scenario ini hanya akan berlaku manakala Benny masuk daftar tiga besar.
Namun, semua tetap bergantung kepada hubungan Bobby dan Rico. Jika hubungan itu masih panas, maka bisa dikatakan peluang Benny hanya tinggal mimpi. Rico tidak akan memilihnya sebab memilih Benny akan bisa memberikan boomerang bagi peluangnya pada Pilkada mendatang.
Lagi pula, masih ada sejumlah ASN lain yang berpengalaman dan senior yang pantas menduduki jabatan itu. Mereka akan pejabat yang meniti karir dengan bersih.
Beda dengan Benny Sinomba yang karirnya menjulang sejak ponakannya Bobby Nasution menguasai pemerintahan di Kota Medan hasil Pilkada 2020. ***
