-->

Pernyataan Bodoh Presiden Prabowo: Orang Desa Tidak Terpengaruh Kenaikan Dolar!

Sebarkan:
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Kala itu ia berpidato bahwa kenaikan nilai dolar tidak berpengaruh kepada kehidupan warga desa.  (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Hancurnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar belakangan ini mendorong Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan dengan tujuan untuk menenangkan warga desa. Ia mengatakan, kenaikan dolar itu tidak perlu membuat warga desa gelisah, sebab warga desa tidak menggunakan dolar.

“Berapapun kenaikan mata uang dolar tidak akan terpengaruh kepada warga desa.  Jadi jangan takut!” katanya.

Spontan saja pernyataan Prabowo itu mengundang keheranan banyak orang. Mereka tidak menyangka, kok bisa-bisanya Prabowo membodohi rakyat desa seperti itu. Padahal di desa juga banyak orang terpelajar yang paham tentang pengaruh globalisasi terhadap kehidupan mereka.  

 Mereka pasti tahu, hancurnya mata uang rupiah  pasti juga berimbas kepada kehidupan masyarakat desa.

“Jelas ucapan Prabowo itu sangat salah!” kata Prof Ferry Latulihin, pengamat ekonomi yang juga merupakan anggota dewan pakar kampanye Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024 lalu.

Ferry dengan gamblang menjelaskan, kenaikan dolar tetap saja memberi imbas kepada semua masyarakat Indonesia, tidak hanya di perkotaan, juga masyarakat desa.  

Prof Ferry Latuhihin menjelaskan, meski tidak memegang langsung mata uang dolar, kenaikan dolar tetap berdampak langsung terhadap warga desa yang sehari-hari. Ia lantas memberi gambaran tentang kondisi Indonesia  saat ini yang masih bergantung pada impor sejumlah kebutuhan penting, terutama BBM, gula, kedelai, hingga pangan tertentu yang pembayarannya menggunakan dolar AS.

“Ketika nilai dolar dan harga minyak dunia naik, dampaknya akan merembet ke harga kebutuhan pokok sampai tingkat konsumen. Impor BBM itu bayar pakai apa kalau bukan dolar? Kalau dolar naik, apalagi harga minyak naik, semua orang pasti kena dampak. Dolar naik, harga minyak naik emang produksi enggak pakai minyak? Itu akan dipasang ke harga konsumen," ujarnya. 

"Lihat saja, sekarang ini minyak goreng aja pak itu udah naik 35 persen. Yang harga 36 ribu udah 45 ribu. Ini fakta bahwa anjloknya nilai rupiah berpengaruh kepada kehidupan warga desa!" tambah Ferry.

Dengan fakta itu,  Ferry memastikan masyarakat desa tetap terdampak langsung dengan kenaikan dolar karena mereka menggunakan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang harga produksinya ikut terpengaruh kurs dolar.

"Memang orang desa tidak pegang dolar, pegang rupiah juga kadang-kadang kok. Namanya juga orang desa,  enggak punya income memadai. Tapi kalau dikatakan orang desa tidak pegang dolar dan tidak menjadi korban daripada dolar, jelas itu pandangan yang sangat salah," katanya. 

Di akhir pernyataannya, Ferry menyebut Prabowo kemungkinan mendapatkan informasi yang tidak tepat dari lingkungan sekitarnya.

"Pak Prabowo sepertinya dibohongin oleh orang-orang bapak," tutupnya

Rupiah Kian Tak Terkendali

Sampai penutupan pasar pekan lalu, nilai tukar rupiah sudah terpuruk ke titik  Rp17.600/US$, terlemah sepanjang sejarah. Bukan tidak mungkin nilai rupiah akan semakin parah hingga mendekati Rp18 ribu dalam waktu dekat ini.

Kondisi itu sudah pasti akan memaksa Pemerintah harus mengeluarkan dana lebih besar untuk membeli BBM yang wajib dibayar dengan dolar.  

 Tingginya nilai BBM di pasar dunia sudah pasti membuat Cadangan APBN akan terkuras habis. Bisa jadi APBN akan jebol.

Prof Ferry Latulihin
Sampai saat ini Prabowo masih bertahan dengan tidak mau menaikkan harga BBM karena ia khawatir akan mendapat tekanan dari arus bawah. Maka itu, ia memaksa agar APBN terus ditambal untuk menutupi kerugian itu.

Namun sampai kapan APBN bisa bertahan? 

Jika kondisi rupiah semakin tidak terkendali, mau tidak mau harga BBM suatu saat pasti akan naik. Terutama untuk BBM yang bersifat subsidi, seperti pertalite dan bio solar. 

Ketika BBM naik, semua biaya operasional pasti akan ikut naik. Apalagi tarif listrik juga pasti akan mengikutinya. Belum lagi kenaikan harga untuk bahan-bahan impor, seperti elektronik, kebutuhan sandang dan lainnya. Kenaikan semua produk itu pasti akan berimbas kepada kenaikan harga pangan.

Jadi, anjloknya nilai rupiah tidak berpengaruh kepada warga desa? Wah, benar-benar sebuah pernyataan di luar nalar. Bodoh..!

Makanya sangat mengejutkan ketika Prabowo bisa-bisanya  mengatakan anjloknya nilai tukar rupiah tidak terpengaruh kepada warga desa. Ia menyampaikan pernyataan ini saat menyampaikan pidato pada acara peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Bahkan Prabowo  bersikeras mengatakan, meski nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam, perekonomian Indonesia tidak akan terganggu.

"Sekarang ada yang sebentar-sebentar mengatakan "Indonesia akan collapse, akan chaos". Tidak benar itu. Orang di desa juga jangan percaya. Tidak ada pengaruhnya kenaikan dolar bagi orang desa. Rakyat di desa enggak pake dolar kok," kata Prabowo.

Anehnya, para menteri, ahli ekonomi dan pengamat pasar yang hadir di acara itu ikut tertawa terbahak-bahak, seakan menyetujui ucapan tersebut. Secara tidak langsung mereka juga ikut membodohi diri sendiri.

Hal ini yang membuat pemikir independent merasa prihatin. Terkesan ada misi membodohi rakyat.

Namun rakyat yang cerdas malah berpikir sebaliknya. Kita pasti miris melihat acting pemimpin busuk seperti itu..!***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini