-->

Nilai Tukar Rupiah Terendah Kelima di Dunia, Pemerintahan Prabowo Kehilangan Arah

Sebarkan:

 

Tanda-tanda ekonomi di sebuah negara mengalami kekacauan bisa dilihat dari nilai mata uangnya. Semakin rendah  nilai mata uang itu terhadap dolar, ekonomi negara itu bisa dikatakan semakin morat marit. Situasi seperti inilah yang dialami Indonesia saat ini.

Di bawah kendali Pemerintahan Prabowo-Gibran, mata uang Indonesia terpuruk menjadi salah satu yang terlemah di dunia. Bayangkan saja, nilai 1US$ saat ini sudah mencapai Rp17.400. Ini merupakan nilai terlemah dalam sejarah bangsa. Prabowo benar-benar presiden yang memalukan.

Tak mengejutkan jika Forbes Advisor pada April 2026 menempatkan rupiah sebagai mata uang terlemah kelima di dunia berdasarkan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat atau USD. Di saat yang sama, mata uang Kuwait, dinar Kuwait, tetap menjadi mata uang paling bernilai di dunia.

Satu dinar Kuwait bernilai lebih dari USD 3. “Perbedaan ini bukan sekadar soal nominal mata uang, melainkan refleksi dari kualitas pengelolaan ekonomi dan kepercayaan global terhadap suatu negara,” ungkap ahli ekonomi dan kebijakan publik Achmad Achmad Nur Hidayat.  

Dia menyebut Indonesia hari ini sedang menghadapi persoalan yang lebih dalam dibanding sekadar fluktuasi kurs. Sebab, pelemahan rupiah adalah alarm bahwa fondasi ekonomi nasional masih rapuh.

Achmad menjelaskan nilai tukar pada dasarnya adalah ukuran kepercayaan. Makin kuat kepercayaan dunia terhadap ekonomi suatu negara, semakin kuat pula mata uangnya.

Oleh Karena itu, pelemahan rupiah tidak bisa hanya dijelaskan dengan alasan eksternal seperti perang Timur Tengah atau suku bunga The Fed.

Dia menyebut memang benar faktor global memberi tekanan. Reuters mencatat bahwa konflik geopolitik, tingginya suku bunga Amerika Serikat, dan arus modal keluar dari negara berkembang menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah.

Namun, negara lain juga menghadapi tekanan yang sama, tetapi tidak semua mata uang jatuh sedalam rupiah.

“Artinya ada persoalan domestik yang belum selesai,” ujar Achmad.

Dia menyebutkan investor global melihat Indonesia masih menghadapi ketidakpastian fiskal, lemahnya pendalaman industri, serta ketergantungan tinggi pada impor energi dan bahan baku. Ketika kepercayaan menurun, lanjut Achmad, permintaan terhadap dolar meningkat dan rupiah tertekan.

“Ibarat kapal besar, Indonesia sebenarnya memiliki ukuran dan sumber daya yang luar biasa. Tetapi kapal besar tanpa mesin yang kuat akan tetap mudah dihantam ombak,” kata dia.

Achmad melanjutkan Indonesia terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah. Ketika harga batu bara, nikel, atau sawit turun, penerimaan devisa ikut melemah.

“Sementara kebutuhan impor tetap tinggi, terutama energi dan barang modal. Akibatnya permintaan dolar terus meningkat,” jelas Achmad.

Dia menambahkan jika rupiah terus melemah, maka yang tergerus bukan hanya nilai tukar, tetapi juga rasa percaya diri nasional. “Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah keberanian untuk membangun ekonomi yang produktif dan tahan guncangan,” pungkas Achmad.

Berikut adalah lima mata uang terendah di dunia berdasarkan data Forbes Financial Advisory 2026

  • Rial Iran (IRR), terpuruk karena sanksi ekonomi dan konflik geopolitik.
  • Pound Lebanon (LBP): Lira/Pound Lebanon anjlok akibat krisis perbankan dan politik.
  • Dong Vietnam (VND), masih menjadi salah satu yang terendah karena kondisi ekonomi negara yang kurang baik.
  • Kip Laos (LAK), tertekan oleh beban utang luar negeri dan inflasi tinggi. Laos merupakan salah satu negara miskin di Asia tenggara
  • Rupiah Indonesia (IDR), sudah sering masuk daftar karena nilai tukar yang sangat rendah disbanding USD. Saat ini nilai tukar rupiah mencapai Rp17.400 per US$. Rendahnya nilai rupiah dipicu system pengelolaan ekonomi negara yang kacau bacau. **

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini