-->

Sosok Anisa Florensia Tumanggor yang Tega Membunuh Mertuanya Dumaris Sitio Demi Narkoba

Sebarkan:
Empat pelaku pembunuhuan Dumaris Sitio di Medan yang ditangkap di Sumut dan Aceh Tenggara. Mereka adalah Selamat, Anisa Florensia Tumanggor, Lisbet dan Erwanda

Kasus pembunuhan Dumaris Boru Sitio, 60 tahun, warga Pekanbaru, 29 April 2026 lalu akhirnya  berhasil dibongkar aparat kepolisian. Empat pelaku ditangkap di tempat persembunyian mereka di Sumatera Utara dan Aceh Tengah. Otak pembunuhan itu adalah Anisa Florensia Tumanggor, 21, yang tidak lain adalah menantu korban sendiri.

Kesemuanya melakukan aksi pembunuhan keji itu dalam keadaan terpengaruh narkoba. Bahkan usai pembunuhan dilakukan, keempatnya masih sempat melakukan pesta narkoba di Medan  sebelum melarikan diri ke Binjai dan Aceh Tenggara.

Namun hanya tiga hari mereka bisa menikmati pesta pora itu sebelum akhirnya berhasil ditangkap. Selain Anisa Florensia Tumanggor, ada tiga lagi rekannya yang ikut ditangkap karena terlibat aksi pembunuhan itu. Kini para pelaku telah dibawa ke Polda Riau untuk proses hukum.

Dari hasil pemeriksaan awal, terungkap jelas bahwa Anisa Florensia adalah otak dari semua rencana pembunuhan itu. Ia pula yang mengatur scenario pembunuhan dan yang membawa ketiga rekannya berkunjung masuk ke rumah Dumaris Boru Sitio yang berada di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru.

Anisa Florensia adalah istri dari Arnold Meha -- anak tertua dan pasangan Dumaris Sitio dengan Salmon Meha -- yang diketahui berkebutuhan khusus. Keduanya menikah pada 2022.

Sebelum menikah dengan Arnold,  Anisa Florensia Tumanggor  yang berasal dari Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, awalnya merantau Pekanbaru untuk bekerja di dunia malam. Seiring perjalanan waktu, ia mulai banyak mengenal orang-orang batak di daerah itu, termasuk keluarga Dumaris Sitio.

Dari perkenalan itu kemudian muncul gagasan keluarga Dumaris untuk menikahkan Anisa dengan Arnold yang berkebutuhan khusus.

Anisa tidak  menolak, apalagi ia tahu kalau keluarga Dumaris cukup kaya. Rumah mereka besar dan hartanya banyak. 

Anisa yang hidup serba kekurangan di Pekanbaru langsung menerima tawaran itu sehingga sejak menikah pada 2022, ia menjadi bagian dari keluarga Dumaris.

Selama tinggal bersama keluarga itu, kehidupan Anisa langsung berubah karena semua serba ada. Hidupnya yang semula serba kekurangan, berubah menjadi lebih mewah. Ia menjadi wanita terhormat dari lingkungan keluarga kaya. 

Dalam berbagai sosial medianya, Anisa kerap tampil dengan foto yang menggunakan aksesoris mewah.

Namun kehidupan mewah itu tidak membuat Anisa puas.  Apalagi ia mengaku beberapa kali tersinggung dengan perlakuan pihak keluarga Dumaris. 

Hal itu yang mendorongnya kembali menjalin pertemanan dengan kawan lama yang aktif di dunia malam. Salah satunya dengan  teman SMP-nya, Lisbet Barasa (22), yang bekerja sebagai perempuan SPA di pusat hiburan malam.

Sejak itu, Anisa mulai jadi pecandu narkoba. Lisbet berperan besar merubah perilaku Anisa karena ia kerap menyediakan narkoba untuk rekannya itu. Apalagi suami siri Lisbet,  Erwandi alias Iwan (39), juga aktif dalam peredaran narkoba di Pekanbaru. Perlahan kedua pasangan itu menyeret Anisa Florensia larut ke lingkaran gelap.

Pada 2023, Anisa semakin tidak terkendalikan. Apalagi ia merasa tidak bahagia menikah dengan Arnold yang tidak aktif diajak berkomunikasi dengan baik. 

Anisa  kemudian meninggalkan rumah mertuanya dan menetap di Medan bersama Lisbet yang pindah kerja ke Medan terlebih dahulu. Keduanya bekerja di salah satu SPA dan pusat hiburan malam. 

Dari pergaulan itu, mereka berkenalan dengan Selamat alias Amat bin Ali Asan (34), yang merupakan teman Erwandi, suami siri Lisbet. Malah Anisa kemudian mengaku menikah siri dengan Selamat, tanpa bercerai dengan Arnold yang ditinggalkannya di Pekanbaru.

Hubungan siri dengan Selamat membuat Anisa semakin larut dalam kehidupan malam. Keempatnya – Anisa, Selamat,  Lisbet dan  Erwandi – menjadi pecandu aktif narkoba. Ketergantungan ini mendorong mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang agar bisa bebas pesta narkoba.

Dari sinilah kemudian muncul ide dari Anisa untuk mengajak rekan-rekannya ke Pekanbaru guna merampok  keluarga suaminya, Arnold Meha yang tinggal di Rumbai. Ia meyakinkan rekan-rekannya itu bahwa keluarga suaminya orang kaya dan berharta banyak. Tentu akan banyak yang bisa diambil dari rumah itu.

“Tadinya rencananya cuma mau merampok,” aku Anisa dalam pemeriksana polisi.

Untuk menyiapkan rencana itu, keempatnya  berangkat dari Medan pada 24 April. Selama di Pekanbaru, mereka menginap di sebuah hotel kecil di Jalan Riau, tidak jauh dari lokasi sasaran. 

SeeSebelum melakukan aksi, mereka sempat  melakukan survei selama dua hari lokasi sekitar rumah korban.

Polresta Pekanbaru dan Polda Riau memperlihatkan barang bukti dari pengungkapan kasus pembunuhan dan perampokan, Minggu (3/5/2026)
Setelah rencana matang, 29 April mereka menjalankan semua rencana itu. Anisa terlebih dahulu memastikan bahwa hanya ada mertua perempuannya, Dumaris yang tinggal di rumah itu. Sedangkan mertuanya laki-laki, Salmon Meha, 66 tahun, tidak sedang di rumah.

Anisa dan Lisbet yang masuk terlebih dahulu ke dalam rumah dengan alasan bersilaturrahmi. Mereka disambut dan dipersilahkan masuk oleh Dumaris. 

Saat pertemuan itu, Anisa dan Lisbet tampak mencium tangan Dumaris. Hubungan mereka terlihat cukup harmonis. 

Dumaris dan Anisa sempat berbicara ringan, sekedar bertanya soal kabar. Belum pada tahap pertanyaan soal mengapa Anisa tega meninggalkan suaminya dalam waktu lama.

Saat ketiganya asik berbicara, tiba-tiba muncul  Selamat yang berpura-pura berlagak bagaikan seorang sopir taksi untuk meminta ongkos. Aksi Selamat ini sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan pada Dumaris, karena lakonnya sangat bagus.

Namun ternyata di saat masuk, Selamat sudah membawa balok kayu yang disembunyikan di belakangnya badannya. Begitu melihat Dumaris lengah, dalam waktu cepat ia melayangkan balok kayu itu ke wajah Dumaris. Wanita itu langsung sempoyongan. Kepalanya berdarah. Ia tersungkur di sofa ruang tamu.

Dalam keadaan terjatuh, Selamat kembali menghantam tubuh wanita tua itu dengan pukulan balok berkali-kali sampai tak  berkutik sama sekali. Setelah tidak berdaya, tubuh Dumaris diseret ke kamar mandi.

Dalam situasi kritis itu, tiba-tiba Arnold yang sebelumnya berada di luar rumah, datang dan ingin masuk ke dalam. Anisa lantas memeluk Arnold guna membuat  lelaki disabilitas itu tenang. Ia menyuruh Arnold menunggu di luar rumah. 

Arnold hanya patuh saja. Maklum, kondisi fisiknya memang kurang baik.

Di saat Arnold menunggu di luar, Erwandi bergabung dengan ketiga temannya yang sudah berada di dalam. Keempatnya mulai menggasak isi rumah. Tak lupa mereka merusak CCTV untuk menutup jejak.

Dari hasil penggeledahan itu, mereka berhasil menggasak  uang tunai dolar Singapura sebanyak SGD 400 (setara Rp5,4 juta),  uang bernilai jutaan rupiah, perhiasan emas dan telepon genggam. Setelah itu mereka keluar rumah.

Arnold yang duduk melongo di luar rumah ikut diajak pergi bersama rombongan itu. Rencananya Arnold juga akan dihabisi. Mereka menggunakan mobil rental.

Tapi di dalam perjalanan, Arnold merengek dan meronta minta pulang. Akhirnya upaya menghabisi lelaki berkebutuhan khusus itu gagal dilaksanakan. Arnold disuruh pulang setelah diberi yang Rp50 ribu. Sedangkan Anisa dan rekan-rekannya melanjutkan perjalanan kembali ke Medan setelah memulangkan mobil rental yang mereka sewa.

Mereka sempat pesta narkoba satu malam di salah satu pusat hiburan di Kota Medan. 

Begitu tahu kasus ini menjadi viral di ruang publik, Anisa dan rekan-rekannya berupaya menyembunyikan diri dari kejaran polisi.  Namun upaya pelarian itu tidak berlangsung lama. Jejak pelarian mereka telah tercium aparat keamanan, sehingga tiga hari kemudian satu persatu mereka berhasil ditangkap.

Anisa dan Selamat ditangkap di Aceh Tengah, di rumah salah satu kerabat Selamat. Sedangkan Erwandi dan Lisbet ditangkap di Binjai. Selamat dan Erwandi mendapat tembakan di kaki karena disebut polisi berusaha melawan saat penangkapan.

Kini keempatnya masih dalam pemeriksaan secara marathon di Polda Riau. Selain keempat pelaku, polisi belum menemukan ada pihak lain yang terlibat kasus ini. Arnold Meha dan anak Dumaris lainnya yang sempat diperiksa dalam kasus ini, dipastikan tidak terlibat.

Identitas Keempat Pelaku

  • Anisa Florensia Tumanggor (21) – warga Kuta Sabah, Parlilitan, Humbang Hasundutan, menantu korban, otak pelaku (positif narkoba).
  • Lisbet Barasa (22) – warga Sihotang Hasugian, Parlilitan, teman SMP Anisa, rekan kerja di hiburan malam dan SPA (positif narkoba).
  • Selamat alias Amat bin Ali Asan (34) – warga Bener Meriah, Aceh, eksekutor, pasangan siri Anisa Florensia (positif narkoba).
  • Erwandi alias Iwan (39) – warga Bener Meriah, Aceh, pasangan siri Lisbet, (positif narkoba).

Harta Korban yang Dirampok Pelaku

Uang Tunai

  •     Uang Dolar Singapura: Sebanyak SGD 400 (setara dengan sekitar Rp5,4 juta).
  •     Uang Tunai Rupiah: Jumlah spesifik uang rupiah yang hilang masih dalam pendalaman polisi.

Barang Berharga

  •     Perhiasan Emas: Berbagai perhiasan milik korban dilaporkan hilang digondol pelaku.
  •     Telepon Genggam (Handphone): Unit handphone milik korban turut diambil dari lokasi kejadian.

 

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini