![]() |
| Lurah Padang Masiang Hendra Hutauruk (kanan) marah dan membentak ketua DPRD Tapanuli Tengah Ahmad Rivai Sibarani yang memintanya untuk berdiri. |
“Sejak awal kami curiga dengan sikap yang kasar beliau. Sungguh tidak beretika. Kami curiga dia itu make. Makanya kami giring ke kantor polisi untuk mendapat kepastian. Kami minta ia tes urine” kata Amri Simanjuntak, salah seorang warga Padang Masiang.
Saat diamankan di Polres Tapteng, masyarakat desa menuntut agar tes segera dilakukan. Pihak Polres setuju.
Namun dalam prosesnya, Hendra mengaku sulit buang air kecil. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Hendra Hutauruk jatuh pingsan. Suasana di kantor Polres langsung bergemuruh. Pihak keluarga Hendra mengamuk, seakan menuding warga yang memaksa tes urine itu yang membuat Hendra jadi sakit.
Sampai sekarang belum ada kepastian apakah pingsannya itu karena benar-benar sakit atau hanya sekedar drama. Petugas keamanan dan warga setempat lantas membopong tubuh Hendra untuk dinaikan ke mobil dan dibawa ke rumah sakit terdekat.
Tes urin belum sempat dilakukan. Sebaliknya Hendra harus mendapat perawatan di rumah sakit.
"Jadi, saat akan dicek urine, yang bersangkutan tidak bisa buang air kecil, lalu jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit," ujar Kapolres Tapteng, AKBP Alan Haikel, Senin (27/4/2026).
Sampai hari ini Hendra masih dalam perawatan. Namun banyak yang curiga kalau pingsannya itu hanya sandiwara saja. Oleh karena itu warga tetap berharap agar pemeriksaan tetap dilanjutkan setelah Hendra keluar dari rumah sakit.
Bermula dari Rapat dengan DPRD
Kemarahan warga terhadap lurah padang Masiang itu berawal dari rapat warga dengan pimpinan DPRD Tapanuli Tengah yang berlangsung di kantor Camat Barus pada Senin lalu untuk membahas bantuan jaminan hidup (Jadup) bagi korban bencana banjir yang ada di Tapanuli Tengah.
Warga kecewa sebab mencuat kabar kalau bantuan jadup telah dihentikan. Kabar yang beredar, penghentian itu berdasarkan kebijakan dari lurah. Warga lantas mengadukan masalah ini kepada ketua DPRD Tapanuli Tengah yang langsung datang ke kecamatan Barus.
Mulanya pertemuan berlangsung tenang. Ketua DPRD Ahmad Rivai Sibarani yang berbicara bersama camat setempat mencoba menampung aspirasi warga dan menyampaikan beberapa pandangannya tentang kebijakan jadup yang harusnya diterima masyarakat.
Sayangnya, saat pertemuan sudah dimulai, Lurah Padang Masiang, Hendra Hutauruk belum ikut bergabung. Padahal ia termasuk salah satu tokoh penting yang perlu memberikan keterangan kepada warga.
Hendra datang terlambat di saat Ahmad Rivai sedang berpidato menyampaikan pandangannya soal kebijakan jadup itu.
Anehnya, sejak tiba di ruang rapat, sikap Lurah Hendra Hutauruk sangat berbeda dari biasanya. begitu sampai, ia langsung duduk mengambil kursi di depan, tepat di samping kiri dari Ahmad Rivai yang sedang berbicara sambil berdiri. Hendra langsung duduk dan kemudian mencoba untuk merokok.
Aksi Hendra itu mendapat teguran dari camat yang tepat berada di samping kirinya.
"Jangan merokok," ujar camat.
Akhirnya Hendra membuang rokoknya. Setelah itu ia duduk kembali di samping Ahmad Rivai Sibarani.
Karena semua nara sumber sedang berdiri di depan warga, lantas ketua DPRD Ahmad Rivai meminta Hendra jangan duduk.
“Berdirilah, sama kita semua berdiri di depan,” ujar Ahmad Rivai.
Saat itulah Hendra kemudian marah. Ia membanting meja seakan menolak perintah ketua DPRD untuk berdiri.
Warga yang melihat perilaku aneh lurah itu langsung marah. Mereka spontan berteriak dan beramai-ramai menyerbu ke depan. Beruntung, Ahmad Rivai dan sejumlah ASN lainnya berupaya melindungi Hendra dari amuk massa.
Tapi warga tidak mau berhenti sampai di situ. Mereka mendesak agar Hendra digiring ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan, karena warga menilai ada hal yang janggal dari perilaku lurah tersebut.
Aksi penggiringan warga ini yang menjadi asal mula diadakanya tes urine bagi Hendra Hutauruk.
Belum ada kepastian apakah Hendra terlibat narkoba atau tidak. Namun prilaku aneh lurah itu membuat warga masih bertanya-tanya. ***
