Belakangan ini jagat media sosial Sumatera utara dihebohkan dengan lagu viral berjudul “Siti Mawarni”. Lagu dengan ritme penuh semangat ini menyuarakan kegelisahan warga Sumut akan peredaran Narkoba yang semakin tidak terkendali.
Lagu ini diaransemen oleh Amin Wahyudi Harahap, warga Labuhanbatu, yang menuangkan kegelisahannya soal nakoba ke dalam lirik lagi. Syairnya cukup berani dan penuh makna. Alih-alih mengangkat tema percintaan, lagu ini berisi kritik sosial yang tajam terhadap peredaran narkotika, khususnya sabu.
Salah satu bagian lirik lagu ini adalah syair yang menyebutkan “Sabu banyak di Sumut Ya Allah, bandar sabu kaya semua, kalau yang beking sabu Ya Allah cepat cabut nyawanya.” Kalimat tersebut dianggap mencerminkan keputusasaan masyarakat terhadap kondisi yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Lirik tersebut juga dinilai sebagai bentuk sindiran keras terhadap aparat yang melindungi praktik peredaran narkoba ini. Malah bukan rahasia lagi kalau ada apparat yang kaya karena bermain narkoba, tapi pura-pura memeranginya.
Tak mengherankan jika syair lagu ini juga secara terbuka menyinggung keberadaan “backing” yang selama ini kerap disebut-sebut sebagai pihak yang membuat bisnis ilegal tersebut sulit diberantas.
Video lagu “Siti Mawarni” langsung mendapat respons luas dari warganet. Banyak yang menyatakan bahwa lagu ini mewakili suara hati masyarakat, khususnya para orang tua yang khawatir terhadap masa depan generasi muda di tengah ancaman narkoba.
Sejumlah komentar di media sosial menyebut lagu ini sebagai bentuk ekspresi kekecewaan publik terhadap upaya pemberantasan narkoba yang dinilai belum maksimal. Bahkan, tidak sedikit yang menyebut karya ini sebagai “jeritan hati rakyat kecil” yang selama ini merasa tidak didengar.
Fenomena viralnya lagu ini menunjukkan bahwa keresahan masyarakat terhadap peredaran narkotika telah mencapai titik yang serius. Ketika saluran formal dianggap tidak cukup efektif, ekspresi melalui karya seni seperti musik menjadi alternatif untuk menyuarakan kegelisahan.
Hingga kini, lagu “Siti Mawarni” terus menyebar di berbagai platform digital dan menjadi simbol perlawanan kultural terhadap bahaya narkoba di Sumatera Utara. Dalam video yang dilihat kajianberita.com dari akun @sumutpedia, terlihat kalau lagi ini dinyatakan beramai-ramai dengan latar belakang acara sepakbola.
Latar belakang itu hanyalah sebagai penghias, karena hasil rekaman lagu ini terdengar cukup jernih. Terlihat ada peran studio dalam merekam lagu ini.
Banyak yang berharap lagu Siti Mawarni bisa menjadi ikon untuk menunjukkan bentuk perlawanan masyarakat terhadap narkoba, juga kepada pengedar dan aparat yang bermain di belakangnya. perlawanan ini sangat wajar karena dalam beberapa tahun belakangan ini, Sumut selalu menempati urutan pertama di Indonesia dalam kasus penyalahgunaan narkoba.
Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, terdapat sekitar 1,5 juta warga Sumut yang terpaparnarkoba. Angka ini mencakup porsi yang sangat signifikan dari total pengguna nasional. Pengguna narkoba di Sumut didominasi kelompok usia produktif, antara 15 hingga 25 tahun.
Mudah-mudahan lagi ini bisa menjadi do;a sehingga mereka semua yang bermain di belakang benda haram ini mendapat azab dari Allah.
Siti Siti Mawarni ya Incek Anak Labuhanbatu
Siti Siti Mawarni ya Incek bintiya Solehudin (2x)
Kalau ada orang yang nyabu yang Allah cepat kasih azabnya
Sabu banyak di Sumut ya Allah bandar Sabu kaya semua
Kalau yang Backing Sabu ya Allah cepat cabut nyawanya
Kalau tak dimatikan ya Allah rakyat kita rusak semua
Kalau tak dimatikan ya Allah, bandar sabu kaya semua
Selamat berpisah para-para saudara
Sampai bertemu di lain waktu dan masa
Jangan lupa Bahagia untuk kita semua
Salam manis untuk anda
Salam manis untuk Anda