-->

Mendapat Gelar Gubernur Terburuk, Bobby Memelas ke Tito untuk Bisa Menjabat Dua Periode

Sebarkan:
Gubernur Sumut Bobby Nasution dan Mendagri Tito Karnavian

Survei yang dilakukan Muda Bicara ID -- lembaga nasional yang focus meneliti kepemimpinan lewat segmen intelektual dan anak muda – telah mengumumkan bahwa Bobby Nasution merupakan gubernur terburuk di Indonesia sepanjang 2025. Ada banyak indikator yang menunjukkan buruknya kepemimpinan menantu Jokowi itu, baik dalam hal penanganan bencana, cara mengatasi inflasi daerah, hingga masalah korupsi.

Meski demikian, Bobby tidak peduli dengan  survey itu. Ia merasa telah menjalankan tugas sebagai gubernur dengan baik. Oleh karena itu, tanpa malu sedikitpun, saat berlangsung Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Sumut 2027 di Medan, Rabu (22/4/2026), Bobby menyampaikan ambisinya untuk kembali duduk sebagai gubernur Sumut periode kedua.

Artinya, Bobby akan maju lagi pada Pilkada 2029 dan berharap  kembali menang. Bobby menyampaikan harapan itu di depan  Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang hadir pada Musrenbang itu.

Bobby sengaja menyampaikan permintaan itu kepada Tito sebagai signal agar Tito kembali mau membantunya menang di Pilkada nanti.

Tidak bisa dibantah bahwa Mendagri Tito sangat berperan mendukung kemenangan  Bobby pada Pilkada Gubernur 2024. Langkah Tito itu dapat dilihat dari kebijakannya menempatkan Agus Fatoni sebagai Pj Gubernur dan menempatkan sejumlah Pj Bupati/Walikota di berbagai daerah di Sumut yang kesemuanya diminta untuk bersama-sama mendukung kemenangan  Bobby.

Kebijakan itu sebenarnya sarat dengan kecurangan. Tapi harus diakui sangat sulit membuktikan secara hukum kecurangan itu. Apalagi ‘Partai Coklat’ juga turut bermain dalam memenangkan Bobby.

Saat Pilkada 2024 berlangsung, sistem pemerintahan di Indonesia masih berada di bawah kendali Joko Widodo, presiden yang tidak lain adalah mertua Bobby Nasution. Presiden yang terkenal dengan julukan ‘The king of Lip Service’ itu sudah tentu turut berperan mendorong kemenangan menantunya pada Pilkada di Sumut. 

Tidak hanya mengerahkan polisi, jajaran Kementerian juga didorongnya untuk bermain membantu kemenangan Bobby.

Fakta keterlibatan Kementerian pada Pilkada Sumut 2024 sudah terbongkar begitu transparan pada sidang korupsi di lingkup Kementerian Perhubungan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Medan beberapa waktu lalu. Maka itu pengaruh kekuasaan menentukan  hasil Pilkada sebenarnya bukan hal aneh lagi.

Dalam berbagai pemantauan lembaga Pemilu, pada Pilkada 2024 lalu, Mendagri Tito bersama dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Pramono cukup aktif bermain membantu kemenangan Bobby Nasution di Pilkada Sumut. Seluruh jaringan ASN, pejabat daerah hingga kepala desa dan kepala lingkungan  dikerahkan untuk bergerak mempengaruhi para pemilih di berbagai daerah.

Hasilnya bisa ditebak, Bobby yang berpasangan dengan Surya, berhasil meraih kemenangan mutlak mengalahkan saingannya Edy Rahmayadi yang berpasangan dengan Hasan Basri Sagala.

Hingga saat ini, Tito dan Listyo Sigit masih tetap menduduki jabatannya, yakni sebagai Mendagri dan Kapolri. Tak heran jika Bobby kembali menaruh harapan kepada mereka untuk membantunya  menang lagi pada Pilkada 2029. 

Makanya Bobby terus terang mengaku sangat berambisi untuk kembali berkuasa sebagai gubernur Sumut periode 2030 -2035. Ia sama sekali tidak peduli dengan predikat gubernur terburuk yang disematkan Muda BIcara ID kepada dirinya. 

Menurut Bobby, jabatan dua periode itu penting agar ia bisa menyelesaikan tugas-tugas yang ada di Sumut.

“Saat ini kami akan memasuki fase krusial yang akan menentukan arah kelanjutan program pemerintahannya. Pembangunan program Tahun 2027 adalah titik krusial itu. Untuk menuntaskan program pembangunan itu,  kami berkeinginan maju lagi pada periode berikutnya,” ujar Bobby.

Saat menyampaikan keinginan itu, Bobby tampil bagaikan anak kecil yang merengek menuntut perhatian dari orangtuanya.  Orangtua yang dimaksudnya adalah Tito Karnavian selaku Mendagri yang terkenal sebagai menteri yang tunduk kepada Jokowi.

Bobby seakan tidak peduli bahwa di ruangan itu tidak hanya ada Tito, tapi ada juga sejumlah pejabat lain, seperti anggota DPR/DPD RI, pimpinan DPRD Sumut, serta kepala daerah se-Sumut.  Baginya yang penting adalah perhatian dari Tito, sebab  sebagai Mendagri, Tito punya power untuk membantu kemenangannya di Pilkada nanti.

Soal dukungan dari Polri, sepertinya Bobby tidak merasa kesulitan mendapatkannya. Selagi Listyo Sigit Prabowo menduduki jabatan Kapolri, sudah pasti ia akan mudah mendapat dukungan pada Pilkada nanti. 

Hal ini bisa dipahami, sebab Listyo adalah Kapolri yang sangat patuh kepada Jokowi. Ia berhutang jasa kepada mantan presiden itu karena telah mendongkrak karirnya hingga menjulang tinggi.

Hingga saat inipun  belum ada tanda-tanda Listyo akan digeser dari jabatan Kapolri. Meski sempat heboh soal langkah pemerintah yang akan melakukan reformasi Polri, namun sampai saat ini langkah itu hanya ada dalam wacana. 

Presiden Prabowo sampai hari ini tetap tidak berani mengusik posisi Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri. Jelas sekali kalau Prabowo masih tunduk kepada Jokowi.

Begitu juga dengan Tito yang menjabat sebagai Mendagri. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ia akab digeser, Besar kemungkinan Tito masih akan menjabat Mendagri hingga berlangsungnya Pilkada 2029 nanti.

Makanya Bobby sengaja menyampaikan keinginannya untuk maju kembali pada Pilkada 2029 dengan harapan Tito akan memberi dukungan kepadanya seperti yang pada Pilkada 2024.

Soal partai, tentu Bobby merasa tidak sulit untuk mendapatkannya. Paling tidak saat ini sudah ada satu parai yang mendukungnya, yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dikomandoi adik iparnya Kaesang Pangerap dan Jokowi sebagai pembina. 

Golkar kemungkinan berada di belakangnya karena ada faktor Bahlil Lahadalia  yang juga dikenal sebagai loyalis Jokowi. Makanya, tiga tahun menjelang Pilkada 2029, Bobby sudah ancang-ancang mempersiapkan diri.

Tak Malu Menggurui Senior

Harus diakui, Bobby pada dasarnya tidak memiliki pengalaman apapun di dunia politik kalau saja ia tidak menikah dengan putri Joko Widodo, Kahiyang Ayu. Ia pun tidak banyak dikenal warga Sumut karena perjalanan hidupnya lebih banyak dihabiskan di Lampung, Kalimantan dan Jawa.

Pernikahan dengan Kahiyang yang banyak mengubah nasib Bobby. Berkat pernikahan itu, Bobby mulai menapak langkah cerah dalam dunia politik. 

Ia memanfaatkan kekuatan mertuanya untuk bisa berkuasa. Bermula dari jabatan Walikota Medan yang diraihnya pada Pilkada 2020, dan selanjutnya jabatan Gubernur hasil Pilkada 2024. 

Kedua Pilkada itu sebenarnya sarat kontroversi, tapi Bobby tidak peduli. Selagi kemenangannya tidak digugurkan oleh  Mahkamah Konstitusi (MK), Bobby tetap merasa kemenanganya sudah diraih secara demokratis.

Dari segi pengalaman, tentu saja pengetahuan Bobby tidak bisa dikatakan memadai. Meski demikian, ia berani menggurui pejabat-pejabat yang lebih senior. Bobby seakan merasa dia lah pejabat yang paling hebat dan paling tahu soal pembangunan Sumut.

Perilaku arogan Bobby itu diperlihatkan saat ia menggurui Baharuddin Siagian, Bupati Batubara, ketika  berlangsung forum Musrenbang Rabu pekan ini. Mulanya Bobby menyindir langkah Baharuddin yang terlibat dalam gerakan pembentukan Provinsi Sumatera Timur sebagai pemekaran dari Provinsi Sumut.

Terlihat jelas kalau Bobby sangat keberatan dengan gerakan itu. Ia malah mengancam soal kemungkinan penghapusan Kabupaten Batubara yang  bisa saja  kembali bergabung dalam Kabupaten Asahan. Sebab, kata Bobby, pemekaran tidak hanya berbicara soal pembentukan wilayah baru, tapi ada juga potensi menggabungkan wilayah yang dianggap tidak berkembang.

Bak merasa orang paling pintar, Bobby lantas menggurui Baharuddin  untuk terlebih dahulu belajar melaksanakan kewenangan dan menjalankan program Provinsi Sumut dengan menggunakan APBD Batu Bara.

“Nah ini kalau mau belajar jadi provinsi pak Bahar, bisa. Wewenang provinsi, kerja-kerja provinsi dikerjakan lah pakai APBD Batu Bara. Bercanda, bercanda ini pak, tapi ada seriusnya juga sedikit,” ujar Bobby.

Ucapan Bobby itu jelas menggambarkan sikap arogan. Ia tidak sadar bahwa Baharuddin Siagian adalah pejabat yang cukup senior di Sumut. Baharuddin lama bertugas sebagai ASN di tingkat provinsi. Sebelum mengikuti Pilkada 2024, Baharuddin  menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut.

Tentu saja ia sangat paham dengan system pemerintahan di tingkat provinsi. Jauh lebih paham dibanding Bobby yang merupakan politisi karbitan. Meski demikian, tanpa rasa malu, Bobby begitu menggurui Baharuddin di depan banyak orang.

Sikap Bobby ini yang dinilai berlebihan. Sepertinya ia tidak dasar dengan latar belakang dirinya saat merambah dunia politik. Bobby sama sekali tidak pernah sadar bahwa ia adalah pemimpin yang dititipkan dari atas, bukan pemimpin yang berjuang dari bawah.

Meski Bobby sudah menyatakan ambisinya untuk kembali menjabat gubernur dua periode, tapi semuanya  bergantung kepada sikap penguasa saat ini. 

Kalau Presiden Prabowo masih tunduk kepada pengaruh Jokowi, Bobby mungkin akan melenggang mulus untuk kembali berkuasa. Tapi jika peta politik berubah, maka Bobby kemungkinan harus gigit jari. Tanpa dukungan kekuasaan, ambisi Bobby pasti akan jauh dari harapan. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini