![]() |
| Walikota Medan Rico Waas dan Gubernur Sumut Bobby Nasution |
Sebuah langkah berani dilakukan Walikota Medan Rico Waas saat menggeser Benny Sinomba Siregar dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan menjadi kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pada Kamis (16/4/2026). Pergeseran ini dilakukan karena Benny tidak cakap dalam memimpin dunia pendidikan. Makanya Benny ‘dibuang’ ke organisasi pemerintah kota yang lebih kering.
Dibanding Dinas Pendidikan, tentu saja jabatan Kepala Perpustakaan kalah gengsi. Makanya tak heran jika mutasi itu disebut-sebut merupakan bentuk teguran dari Rico Waas kepada Benny.
Di balik mutasi itu, Rico juga ingin menunjukkan kepada public bahwa ia punya kewenangan untuk melakukan mutasi kepada siapa saja di jajaran Pemko Medan. Siapapun pejabat yang tidak cakap dalam bekerja pasti akan dipindahkan. Tidak terkecuali dengan Benny Sinomba Siregar yang santer disebut sebagai pajabat Pemko Medan yang tak tersentuh.
Mengapa disebut tak tersentuh? Sebab Benny adalah paman dari Gubernur Bobby Nasution. Benny merupakan adik kandung dari Ade Hanifah Siregar, ibu Bobby Nasution.
Awal karir Benny di Pemko Medan sebenarnya biasa-biasa saja. Sebelum Bobby menjabat walikota Medan, ia mendapat kepercayaan sebagai salah satu kepala bidang (Kabid) di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan.
Namun Ketika Bobby memutuskan ikut pada Pilkada Kota Medan 2020, Benny sangat aktif berjuang untuk membantu kampanye keponakannya itu. Ia berperan mengoordinasikan kekuatan para aparatur sipil negara (ASN) untuk beramai-ramai memberikan suara kepada Bobby.
Tak heran, sejak Bobby dilantik sebagai Walikota Medan pada awal 2021, karir Bennny langsung melejit. Dari jabatan sebagai Kabid Bapenda, posisinya langsung melesat menjadi Sekretaris Bapenda. Beberapa bulan kemudian meningkat lagi menjadi Kepala Bapenda Kota Medan Medan.
Di saat Bobby menjabat Walikota, Benny merupakan pejabat eselon II yang sangat disegani. Tidak sedikit pegawai Pemko Medan yang mendekatinya untuk bisa mendapatkan jabatan yang lebih empuk. Semua orang tahu, suara Benny cukup didengar oleh Bobby.
Menjelang Pilkada 2024, Bobby sempat mendorong pamannya itu untuk duduk sebagai Plt Sekda Kota Medan. Pasalnya, Sekda definitif saat itu, Wiriya Alrahman mendapat Amanah untuk menjabat Pj Bupati Deli Serdang.
Sontak Keputusan Bobby itu mendapat kritikan di sana sini. Alhasil Bobby membatalkan keputusan itu dan kemudian memilih pejabat kepercayaannya yang lain, Topan Ginting, untuk duduk sebagai Plt Sekda Medan. Benny sendiri kemudian dipindahkan sebagai Kepala Dinas Pendidikan.
Dengan posisinya sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Benny bermain untuk mendorong agar semua guru di Kota Medan bersepakat memberikan suaranya kepada Bobby pada Pilkada Gubernur 2024. Langkahnya itu membuahkan hasil karena Bobby melangkah mulus sebagai gubernur Sumut 2024-2030.
Saat Bobby mulai menjabat sebagai Gubernur Sumut, ia tidak mengajak Benny untuk pindah ke tingkat provinsi. Bobby sengaja membiarkan Benny bertugas di Pemko Medan, sebab jabatan sebagai Kepala Dinas sudah cukup bergensi untuk pamannya itu.
Bobby sepertinya yakin, posisi Kadis Pendidikan akan melekat pada diri Benny dalam rentang waktu yang lama. Kalaupun pamannya itu dipindahkan oleh Walikota Medan yang baru Rico Waas, mungkin akan ditempatkan ke jabatan yang lebih bergengsi.
Namun siapa sangka, oleh Rico Waas, Benny kemudian digeser ke posisi yang lebih kering, yakni Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Tentu saja pemindahan ini cukup mengundang keheranan banyak pihak, sebab selama ini Benny disebut-sebut sebagai pejabat yang tidak tergeserkan.
Keputusan Rico memindahkan Benny dipastikan bakal membuat hubungannya dengan Bobby Nasution semakin memanas.
Sebelumnya, Bobby beberapa kali sudah menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Rico, terutama setelah Rico membatalkan berbagai kebijakan yang pernah diterapkan Bobby sewaktu menjabat Walikota Medan.
Rico misalnya membatalkan kebijakan parkir berlangganan yang pernah dicanangkan Bobby. Alasannya sangat masuk diakal, system parkir itu sangat tidak efektif dan banyak menghadirkan masalah di lapangan. Rico juga berupaya membongkar berbagai kejanggalan sejumlah proyek yang dikerjakan semasa pemerintahan Bobby.
Belakangan sudah terungkap ada berbagai permainan busuk dalam pengerjaan proyek Lapangan Merdeka dan proyek Kebun Bunga. Belum lagi kekacauan dalam proyek pembangunan Stadion Teladan dan pembangunan Islamic Center.
Borok Bobby semasa menjabat walikota sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Kalaupun Bobby menang pada Pilkada Gubernur 2024, sebenarnya bukanlah karena prestasinya, tapi karena dibantu kekuatan pusat. Maklum saat itu mertuanya, Joko Widodo masih menjabat presiden.
Semasa berkuasa, Jokowi memang sangat aktif menggerakkan alat negara untuk membantu kemenangan menantunya pada Pilkada agar bisa meraih jabatan gubernur. Terutama mendorong peran aktif ‘Partai Coklat’ untuk bermain di tingkat arus bawah.
Partai Coklat adalah sebutan lain untuk permainan polisi dalam Pilkada masa itu.
Namun harus diakui, Bobby sendiri sebenarnya turut berperan membantu kemenangan Rico pada Pilkada Medan 2024 lalu. Melalui jaringannya yang masih kuat di Pemko Medan, Bobby ikut menggerakkan para kepala lingkungan (kepling) dan lurah di Kota Medan agar memberikan dukungan kepada Rico Waas.
Bahkan dalam kampanye akbar di Jalan Pancing, Bobby pernah menyerukan warga Medan agar beramai-ramai memilih Rico sebagai walikota Medan.
![]() |
| Benny Sinomba Siregar digeser dari jabatan Kadis Pendidikan ke Kepala Dinas Perpustakaan Kota Medan |
Bobby pun berkali-kali menyindir kepemimpinan Rico di depan publik. Bahkan ia pernah menyindir Rico soal lambannya bekerja dalam menyelesaikan proyek Stadion Teladan.
Namun tim media Rico justru bekerja cerdas membongkar kegagalan Bobby dalam menyelesaikan proyek Stadion Teladan itu. Alhasil, Bobby semakin dibuat malu.
Tak terbantahkan lagi, walaupun Bobby berperan memulai pembangunan Stadion Teladan, tapi citranya justru rusak karena proyek itu dibuat terbengkalai, mangkrak dan tidak jelas juntrungannya. Justru Rico Waas yang berperan besar menyelesaikan proyek itu.
Saat ini Pembangunan Stadion Teladan sudah mendekati selesai dan akan digunakan sebagai venue untuk turnamen Sepakbola Piala ASEAN (AFF) Usia-19 yang digelar Juni mendatang.
Walau Bobby seorang gubernur, tapi sepertinya ia tidak berkutik menghadapi Rico Waas. Setiap kali ia menyindir Rico, serangan balik bertubi-tubi kemudian diarahkan kepada Bobby. Hal ini yang membuat Rico semakin berani.
Bukti keberanianya terlihat saat Rico menggeser Benny Sinomba Siregar dari jabatan Kepala Dinas Pendidikan ke Kepala Dinas Perpustakaan. Di balik penggeseran itu, seakan Rico memberi pesan kepada Bobby bahwa ia sama sekali tidak takut kepada menantu Jokowi itu.
Lagi pula pengaruh Bobby tidak sekuat dulu lagi. Mertuanya bukan lagi presiden. Belum lagi kalau Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diganti, maka kekuatan Bobby dalam politik pasti semakin pudar.
Lagi pula Bobby belum tentu kembali mendapat dukungan Gerindra pada Pilkada mendatang sebab ia hanya kader biasa di partai itu. Bisa jadi Gerindra punya kandidat lain.
Sementara Rico sendiri adalah keponakan Surya Paloh, ketua umum Partai Nasdem. Ia juga merupakan pengurus inti di Partai Nasdem Tingkat provinsi Sumut. Suaranya sangat didengar di partai itu.
Jadi, tidak ada alasan Rico takut dengan Bobby. Kalaupun hubungan mereka renggang, Rico tidak merasa kuatir sebab Bobby bukan siapa-siapa kalau mertuanya tidak lagi berkuasa. ***

