Hadir pada pertemuan itu, antara lain, Sultan Deli ke XIV Tuanku Mahmud Arya Lamanjiji, Tuanku Sultan Serdang Tengku Akhmad Thala’a, Tuanku Sultan Kualuh Tengku Zainul Abidin, Tuanku Sultan Billah Tengku Billy, utusan Sultan panai Tengku Kelana dan utusan Sultan Kota Pinang Yance.
Diskusi dipimpin oleh Syarifuddi Siba selaku cendekiawan Melayu sekaligus Ketua Badan Koordinasi (Badko) Pembangunan Masyarakat Pantai Timur (PMPT).
Sejumlah usulan dari para sultan dan tokoh Melayu telah dirangkum pada pertemuan tersebut. Syarifuddin Siba menghimpun semua usulan itu dalam sebuah dokumen yang dinamakan "Cabaran dan Idaman Program Sultan Sultan Sumatera Timur”.
Semua yang tercakup dalam dokumen itu umumnya menyangkut usulan untuk mensejahterakan masyarakat Melayu di sekitar pantai timur Sumatera Utara. Nantinya dokumen itu akan menjadi bahan usulan untuk disampaikan kepada Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY.
Mengapa harus ke Menko AHY? Jawabnya, karena gagasan untuk mensejahterakan rakyat Sumatera Timur lebih banyak menekankan pada bidang infrastruktur dan fasilitas lainnya.
“Penguatan sumber daya manusia Melayu juga bagian dari infrastruktur yang perlu dibenahi sehingga kita menganggap koordinasi dengan Pak AHY itu cukup penting,” kata Syarifuddin Siba.
Sebagai langkah konkritnya, para sultan Melayu dalam waktu dekat akan menyelenggarakan dialog khusus dengan Menko AHY guna menyampaikan gagasan mereka terkait dukungan bagi penguatan masyarakat melayu Sumatera Timur. Dialog tersebut akan diselenggarakan di Medan.
Setelah dialog selesai, pertemuan berlanjut pada pelaksaan Kongres Masyarakat Baru Indonesia (MABIN) yang akan diselenggarakan di Jakarta.
“Untuk kegiatan Kongres MABIN nanti, tentunya yang terlibat adalah masyarakat dan tokoh melayu yang ada di seluruh nusantara. Namun karena inti Melayu ini ada di Sumatera Timur, maka sangat penting bagi kita untuk mematangkan pertemuannya di Medan,” kata Syarifuddin Siba.
Oleh karena itu, Syarifuddin menegaskan pentingnya merangkum terlebih dahulu usulan yang disampaikan oleh para sultan dan tokoh Melayu Sumatera Timur menjalang pelaksanaan dialog dan kongres itu. Setelah dirangkum, usulan itu kembali dikaji oleh para sultan sebelum mendapat persetujuan.
Adapun usulan yang telah dirangkum, antara lain:
- Menyangkut bantuan Pemerintah maupun dalam bentuk CSR guna mendukung kegiatan adat kesultanan yang bertujuan mengawal moralitas anak bangsa mengingat peran Sultan sampai saat ini tetap penting sebagai pemangku adat kehidupan masyarakat Melayu.
- Perlunya dukungan pemerintah untuk memperjuangkan tanah hak ulayat Melayu yg masih belum tuntas walau masa konsesi sudah berakhir.
- Kerjasama untuk melestarikan kearifan lokal masyarakat Melayu di mana peran kesultanan juga perlu dilibatkan dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah.
- Permintaan dari para sultan agar sepanjang pantai timur Sumatera dapat dimasukkan dalam rencana induk pengembangan pariwisata nasional.
Usulan itu kemungkinan masih berkembang mengingat pertemuan para sultan akan terus digelar menjelang berlangsungnya dialog bersama AHY dan Kongres MABIN di Jakarta.
Pertemuan itu ditutup melalui petuah dari Sultan Serdang, Tengku Akhmad Thala’a yang juga Wakil Ketua DPRD Deli Serdang. Tengku Akhmad berharap, dengan ditampungnya usulan dari sultan melayu itu, diharapkan pembangunan sumber daya manusia Melayu akan lebih baik ke depan. ***

