-->

Miftah Maulana: Mengklaim sebagai Ulama, Menjilat Penguasa, Menyebar Informasi Bohong!

Sebarkan:

Miftah Maulana Habiburrahman, mengklaim ulama tapi  berprilaku bukan ulama.
Setelah dirinya sempat menjadi gunjingan nasional akibat menghina pedagang es teh, kini lagi-lagi Miftah Maulana Habiburrahman kembali menjadi sorotan karena memanfaatkan forum dakwah agama untuk kegiatan politik mendukung Presiden Prabowo. Ironisnya, dalam dakwah itu, ia menyebarkan berita bohong terkait soal Selat Hormuz dan alasan tidak naiknya harga BBM di dalam negeri.

Video Miftah soal pujiannya kepada Prabowo itu beredar luar di berbagai platform media social. Dalam video itu, Miftah begitu garang berbicara mengenai kehebatan Prabowo di forum internasional.

“Hebatnya Pak Prabowo apa? Di saat semua kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak, atas diplomasi Pak Prabowo, kapal Indonesia boleh melewati Selat Hormuz. Itulah salah satu penyebab kenapa BBM Indonesia tidak naik," kata Gus Miftah dengan suara lantang di depan orang-orang yang mengikuti pengajiannya. Bisa ditebak para peserta pengajian itu adalah orang-orang  dengan kecerdasan yang rendah.

Lalu Miftah menjelaskan lagi, tanpa adanya diplomasi yang kuat dari Prabowo, pasokan minyak nasional bisa terganggu, yang secara otomatis akan memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri. Keberhasilan ini, menurutnya, sebagai bukti kapasitas kepemimpinan Prabowo dalam menjaga kedaulatan energi.

Tak hanya membahas soal ekonomi dan diplomasi, Miftah juga menyentil dinamika politik terkini. Dia merespons adanya kritik tajam dari kalangan akademisi dan pengamat yang dinilainya terlalu berlebihan dalam menyikapi pemerintahan saat ini.

Pernyataan Miftah ini tentu saja mengundang gelak tawa banyak orang.  Betapa tidak, dua kapal Pertamina yang katanya melaju mulus melewati Selat Hormuz adalah kebohongan besar. Faktanya, dua kapal itu sempat ditahan cukup lama. Akibat penahanan itu Indonesia mengalami kritis BBM.

Namun Pemerintah tidak berani menaikkan harga BBM karena takut mendapat tekanan dari arus bawah. Apalagi citra Prabowo belakangan ini semakin menurun karena sikapnya yang tunduk di bawah kendali Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Prabowo telah menjual martabat bangsa sebagaimana tertuang dalam kesepakatan dagang yang ia tandatangani bersama Trump di Washingtong pada Februari lalu.

Dalam perjanjian itu, Prabowo memberikan keleluasaan kepada Amerika menguasai sumber daya alam Indonesia, membebaskan masuk produk Amerika tanpa sertifikasi halal, menyetujui kewajiban Indonesia untuk membeli berbagai produk Amerika.

Yang lebih mengejutkan, Prabowo juga membebaskan langit Indonesia untuk digunakan oleh pasukan militer Amerika. Dengan adanya izin ini, maka upaya Amerika untuk melakukan invasi militer ke negara lain akan lebih mudah.

Akibat perjanjian dagang itu, harga diri Indonesia telah terjual. Begitu rendahnya harga diri bangsa ini di mata Amerika, sehingga di mata Presiden Trump, Prabowo adalah pengikut setianya. Tak heran jika Trump sangat bangga bisa mengendalikan berbagai kebijakan yang ada di Indonesia.

Kepemimpinan Prabowo yang seperti itu yang dipuji Miftah. Anak muda berambut gondrong yang selalu pakai kacamata hitam ini memang dikenal sebagai salah satu anggota  tim sukses Prabowo pada Pemilu 2024. Setelah Prabowo dilantik, Ia pun mendapat jabatan sebagai utusan Presiden bidang keberagaman.

Namun belakangan Miftah mundur dari jabatan itu setelah ia malu sendiri atas perilakunya yang viral karena menghina pedagang es teh. Betapa tidak, dalam video itu ia begitu tega menuding seorang pedagang es teh sebagai orang yang tolol.

Meski mundur dari jabatan sebagai Utusan Khusus Presiden, tapi kedekatan Miftah dengan Prabowo tetap terjalin baik. Miftah masih kerap digunakan untuk mendukung program Prabowo di kalangan ulama dan tokoh Islam di Jawa.

Ya, di Jawa, sebab Miftah hanya diterima oleh kalangan umat Islam di Jawa. Di luar Jawa, ia tidak laku.

Mungkin karena di Jawa begitu mudah membodohi sebagian umat Islamnya sehingga orang seperti Miftah merajalela di sana. Bahkan ia sampai dianggap sebagai ulama.  Apalagi Miftah sendiri mengaku keturunan ulama besar. Tidak jelas kebenaran pengakuannya ini. Namanya juga Islam Jawa, terkesan gampang menyebarkan kebodohan dan mudah membodohi public…!

Latar belakang Miftah sendiri sebenarnya tidak terlalu jelas.  Ia adalah orang Jawa yang besar di Lampung. Kemudian berkembang menjadi ulama di Jawa. Bahkan sampai punya pesantren di sana. Orang-orang di Jawa memanggilnya Gus, sebutan untuk anak ulama pemilik pesantren.

Dengan status sebagai pemilik pesantren  dan mengklaim sebagai juru dakwah, Miftah memanfaatkan mimbar agama sebagai penyebaran kepentingan politik Prabowo. Ia pun tidak malu menyebarkan berita bohong asal itu sifatnya memuji Prabowo.

Salah satunya soal dua kapal pertamina yang menurutnya berlayar mulus melewati Selat Hormuz di Iran sehingga membuat stok BBM di dalam negeri tetap stabil.  Miftah tidak sadar bahwa ucapannya itu direkam public dan disebarkan ke media social.

Akibatnya kecaman bertubi-tubi diarahkan kepadanya. Ia dianggap sebagai penjilat yang menjual agama untuk kepentingan politik. Yang sangat disayangkan adalah, masih ada orang Islam di Jawa yang percaya dengan manusia yang satu ini. Padahal prilakunya tidak menunjukkan prilaku yang santun. Jauh dari kesan seorang ulama.

Di sisi lain, Miftah jarang sekali mengajarkan tentang ilmu-ilmu agama. Yang disampaikannya lebih banyak isu politik yang memuji-muji pujaan hatinya ‘Prabowo’.

Bisa dipahami, dengan dekat kepada penguasa, tentu dukungan finansilal untuk dirinya akan semain besar. Bantuan seperti ini yang membuat  pesantren milik Miftah berkembang besar. Ia bisa hidup mewah dari usahanya itu.  Ia pun beitu mudah memperdaya orang-orang desa untuk belajar di pesantrennya.

Miftah adalah gambaran anak muda yang sukses menjadikan agama sebagai alat dagang. Dari usaha dagang itu ia bisa kaya raya dan mendapat fasilitas. Ia pun bisa meluasa menyebarkan kebohongan yang bertujuan untuk memuji penguasa.

Orang seperti ini tentu akan terus mendapat dukungan dari penguasa karena ia menuunjukkan fungsi yang efektif sebagai buzzer. Dalam situasi seperti ini, Miftah tentu akan terus dimanfaatkan sebagai peluru guna menembus orang-orang jelata yang mudah dibohongi.

Kalau di kalangan orang terpelajar, Miftah pasti akan banyak mendapat hinaan. Tapi jika berbicara data, jumlah orang terpelajar di negeri ini masih lebih sedikit dibanding warga jelata yang gampang dibodohi. Makanya, pembodohan publik seperti ini akan terus berjalan karena sangat bermanfaat untuk kepentingan penguasa.

Yang menjadi korban adalah masyarakat karena terus dipermainkan kepentingan politik penguasa. Di satu sisi, ada kampanye Pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negeri ini, tapi di sisi lain, ada warga  bodoh jelata yang terus dimanfaatkan orang-orang seperti Miftah sebagai alat agitasi guna mendukung penguasa. 

Inilah paradoks yang akan terus berjalan di negeri ini sampai kapanpun.  Makanya buzzer kini menjadi pekerjaan yang menghidupi banyak orang.

Dalam situasi seperti ini, ada baiknya kita mengacu pada pandangan ahli filasafat Rocky Gerung. Ia mengatakan, "Hanya orang bodoh yang gampang termakan berita bohong (hoax). Para penguasa adalah kelompok potensial menyebarkan hoax itu. Kalau mau terhindar dari berita hoax, tingkatkan kecerdasan Anda." 

Jika orang Indonesia cerdas, tentunya orang seperti Miftah tidak akan bisa mendapat tempat..! **

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini