-->

Mencuat Rencana Merger Nasdem - Gerindra, Surya Paloh dan Prabowo Telah Berbicara Empat Mata

Sebarkan:

 

Prabowo Subianto dan Surya Paloh berpelukan usai bertemu di Hambalang pada Februari 2026
Tidak banyak yang tahu, diam-diam ternyata Surya Paloh  dan Prabowo Subianto telah berbicara empat mata untuk membahas kemungkinan dilakukannya merger Partai Nasdem dan Partai Gerindra menjadi satu partai. Tidak jelas apakah rencana ini benar-benar akan dilakukan. Namun pembahasan mengenai merger ini kabarnya sudah pada tingkat yang serius.

Pertemuan Prabowo dan Surya Paloh membahas masalah merger ini dikabarkan berlangsung di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Februari 2026. Itu merupakan pertemuan empat mata yang pertama antara keduanya sejak Prabowo dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024.

Surya membawa rombongan terbatas pada pertemuan itu. Berbeda dengan pertemuan Prabowo dengan ketua umum partai politik seperti biasanya, pertemuan ini dilakukan tertutup.

Surya dan Prabowo kabarnya berbicara empat mata selama lebih dari satu jam. Pertemuan keduanya dikonfirmasi okeh Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

"Benar bahwa keduanya sempat bertemu," ujar Sufmi Dasco Ahmad ketika dimintai tanggapan pada Rabu, 8 April 2026 sebagaimana dikutip dari Tempo.

Tiga politikus yang dekat dengan Surya dan seorang pengurus Gerindra bercerita, pertemuan itu mulanya membahas ambang batas parlemen. Sebab, pada Februari 2024, Mahkamah Konstitusi membuat putusan yang memerintahkan Dewan Perwakilan Rakyat menghitung ulang ambang batas perolehan suara partai sebagai syarat masuk Senayan.

Surya pun mengusulkan ambang batas parlemen naik dari 4 persen menjadi 8 persen kepada Prabowo. Namun Prabowo meyakini, kalau syarat masuk DPR dinaikkan, partai kelas menengah dan kecil seperti NasDem bisa rontok pada pemilihan legislatif. Betapa tidak, NasDem hanya mendapat perolehan suara 6-9 persen setelah mengikuti tiga kali pemilu sejak 2014.

Menurut pengurus NasDem yang mendengar cerita dari Surya, Prabowo kemudian melontarkan gagasan menggabungkan Gerindra dengan NasDem. Gabungan dua partai itu akan mengumpulkan hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen-berdasarkan hasil Pemilu 2024.

Namun tiga pejabat teras NasDem mengatakan, Surya tak melihat skema merger partai itu bakal memberi manfaat kepada NasDem. Tiga narasumber itu juga bercerita, Surya juga belum rela melepas partai yang dirintisnya sejak berbentuk organisasi kemasyarakatan itu.

NasDem sepertinya memilih tetap menjalani perannya di pemerintahan Prabowo sebagai pendukung pemerintahan meski tak mendapatkan kursi menteri di Kabinet Merah Putih.

Tiga pejabat teras NasDem menjelaskan skema penggabungan partai tak realistis karena NasDem konsisten berada di peringkat kelima dalam dua kali pemilihan legislatif. Lain persoalan jika NasDem tertatih-tatih lolos dari ambang batas parlemen.

Cerita berbeda datang dari lingkaran dekat Prabowo. Seorang kolega Prabowo yang intens berkomunikasi dengan NasDem mengatakan, ide penggabungan NasDem dengan Gerindra justru datang dari Surya. Alasan yang disebut Surya kepada narasumber ini adalah skema merger bisa menjadi cara menyederhanakan jumlah partai di Indonesia.

Orang dekat Prabowo ini mengungkapkan, penggabungan kedua partai itu memang berpotensi menimbulkan kerumitan di lapangan.

Dia mencontohkan calon legislator dan daerah pemilihan bisa bertubrukan di wilayah yang selama ini dikuasai NasDem dan Gerindra. Pengurus Gerindra ini justru memprediksi merger bisa membuat perolehan suara partai baru jeblok, alih-alih meroket.

Narasumber ini menyarankan Gerindra dan NasDem berjuang untuk lolos ambang batas parlemen dengan usaha masing-masing.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Saan Mustopa, menegaskan gagasan merger partai tidak gampang dilakukan. Pasalnya, kata Saan, tiap partai politik memiliki refleksi dari idealisme, gagasan, cita-cita, bahkan ideologi dari para pendirinya.

"Itu tidak gampang untuk difusikan,” kata Saan, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Wakil Ketua DPR RI itu, mengatakan hingga kini belum ada pembahasan internal terkait wacana fusi dengan Partai Gerindra. Saan mengaku baru mengetahui isu tersebut dari ruang publik. Ia menyebut wacana fusi tersebut belum pernah dibahas secara serius di internal partainya.

Saan memastikan kondisi internal NasDem saat ini masih solid. Hingga kini, kata dia, NasDem tetap berkomitmen sebagai bagian dari koalisi pemerintahan dan fokus mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto.

“Ya kalau koalisi tadi saya pastikan bahwa NasDem tetap berkomitmen tetap bagian dari pemerintah. Dan kita telah menunjukkan dari semua yang diini-kan pemerintah, NasDem mendukung secara penuh. Jadi itu komitmen Nasdem. ***

 

 






Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini