Mulut besar Prof Muryanto Amin yang pernah mengatakan akan
membawa kembali nama Universitas Sumatera Utara (USU) masuk dalam 10 besar kampus
berprestasi di Indonesia, ternyata hanya isapan jempol belaka. Setelah lebih
lima tahun memimpin kampus ini, citra USU bukanlah membaik, malah semakin melorot.
Hancur dan memalukan.
Kampus USU, kualitasnya melorot tajam
Lihat saja, rilis yang baru saja dikeluarkan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) tentang daftar universitas paling berprestasi di Indonesia pada 2026, nama USU sama sekali tidak masuk. Malah kampus ini kalah dibanding Universitas Tanjungpura di Pontianak.
Sistem perangkingan yang diterbitkan Puspresnas tentu wajib menjadi tolak ukur masyarakat karena lembaga ini berada langsung di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Sejak 1998, setiap tahun Pusprenas selalu melansir peringkat berdasarkan jumlah prestasi yang berhasil dikumpulkan oleh masing-masing perguruan tinggi. Jelas, riset mereka tidak abal-abal. Resmi diakui nasional, tanpa ada bayaran. Bukan seperti riset lain yang parameternya tidak jelas.
Puspresnas tidak hanya melakukan riset untuk universitas negeri, tapi juga termasuk untuk universitas swasta. Makanya dalam daftar 20 universitas paling berpretasi yang baru saja mereka terbitkan, dominasi tidak hanya dipegang oleh universitas negeri, tapi ada juga perguruan tinggi swasta.
Daftar nama perguruan tinggi dan jumlah prestasi yang dikumpulkan terpampang di situs Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT).
Sama seperti tahun lalu, Universitas Gadjah Mada (UGM) masih menjadi yang teratas. Adapun universitas Telkom (Telkom University) masuk dalam kategori terbaik dari swasta.
Berikut daftar lengkap universitas paling berprestasi di Indonesia versi Puspresnas 2026 yang bisa kamu jadikan referensi sebagai pilihan kampus untuk melanjutkan pendidikan:
- Universitas Gadjah Mada (UGM): 669 prestasi
- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): 666 prestasi
- Universitas Brawijaya (UB): 606 prestasi
- Universitas Negeri Yogyakarta (UNY): 504 prestasi
- Universitas Indonesia (UI): 410 prestasi
- Universitas Pendidikan Indonesia (UPI): 345 prestasi
- Universitas Negeri Surabaya (Unesa): 335 prestasi
- Universitas Diponegoro (Undip): 312 prestasi
- Institut Pertanian Bogor (IPB): 300 prestasi
- Universitas Telkom (Telkom University): 300 prestasi
- Universitas Katolik Parahyangan (Unpar): 298 prestasi
- Universitas Negeri Malang (UM): 281 prestasi
- Universitas Hasanuddin (Unhas): 281 prestasi
- Universitas Sebelas Maret (UNS): 261 prestasi
- Universitas Negeri Jakarta (UNJ): 250 prestasi
- Institut Teknologi Bandung (ITB): 234 prestasi
- Universitas Airlangga (Unair): 232 prestasi
- Universitas Negeri Semarang (Unnes): 215 prestasi
- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): 205 prestasi
- Universitas Tanjungpura: 197 prestasi
Dari daftar yang dilansir itu, kenaikan signifikan dicapai oleh Universitas Brawijaya (UB) Malang yang berhasil mencatatkan tambahan tiga prestasi dari tahun 2025 lalu. Kepala UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa UB, Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi, MT, mengatakan keberhasilan ini adalah buah dari perubahan proses bisnis kemahasiswaan dengan tujuan akselerasi prestasi.
“UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa berfungsi sebagai training center bagi mahasiswa. Kami tidak hanya mengirimkan mahasiswa untuk lomba, tetapi kami siapkan melalui klasterisasi minat dan bakat, mulai dari penalaran, robotik, hingga seni dan olahraga,” ujar Prof. Abu Bakar Sambah, dikutip dari situs UB, Selasa (5/5/2026).
UB sendiri rutin mengikuti 23 bidang lomba wajib yang dikelola oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI/Belmawa) seperti PIMNAS, ONMIPA, hingga kompetisi teknologi seperti Kontes Robot Indonesia.
Saat ini UB sedang memfinalisasi program Satuan Kegiatan Mahasiswa (SKM) yang dirancang untuk merekam prestasi non-akademik mahasiswa. Mulai dari kepanitiaan, organisasi, sampai prestasi lomba yang kelak akan tertulis dalam transkrip nilai non-akademik.
USU semakin Termul
Adapun USU, kampus yang dulu dianggap paling besar di luar Jawa, justru semakin melorot tajam. Bahkan tidak masuk dalam 20 besar kampus terbaik di Indonesia. Sejak masa kepemimpinan Prof Muryanto Amin, citra kampus USU terus melorot.
Muryanto lebih banyak membawa USU untuk kepentingan politik membantu keluarga Jokowi, terutama Bobby Nasution, sehingga kampus ini semakin terkenal sebagai bagian dari 'Ternak Mulyono', istilah bagi kelompok yang membela mati-matian Jokowi dan keluarganya.
Tidak mengherankan, sebab Muryanto adalah konsultan politik bagi Bobby. Ia bekerjasama dengan Agus Andrianto (saat menjadi Wakapolri) untuk memenangkan Bobby pada Pilkada Medan 2020 dan Pilkada Gubernur 2024.
Saat ini, Agus Andrianto yang menjabat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imapas) malah ditunjuk Muryanto sebagai Ketua Majelis Wali Amanat USU. Semua itu merupakan bagian dari scenario untuk tetap menjadikan USU bagian dari pendukung keluarga Jokowi..
Jadi jangan heran kalau kampus USU akan semakin termul. Pilkada 2029 nanti bakal menjadi perhatian bagi Muryanto untuk kembali membantu memenangkan Bobby sebagai gubernur dua periode. ***