![]() |
| Hamdani Syahputra Adjam dan Erni Ariyanti Sitorus |
Kabid Humas Polda Sumut, Ferry Walintukan, Senin (4/5/2026) menegaskan, status tersangka Hamdani diberikan setelah penyidik menggelar perkara serta mengumpulkan bukti dan keterangan saksi. Namun status tersangka itu tidak membuat Hamdani ditahan.
Yang mengadukan Hamdani tidak lain adalah Ketua DPRD Sumut, Erni Ariyanti Sitorus, yang mengaku telah dicemari. Bahkan dituduh ingin mengganggu suami orang. Laki-laki yang dimaksud tidak lain adalah Gubernur Bobby Nasution.
Kasus ini dipicu oleh status yang dimuat di akun Instagram atas nama @hastaranedia.id yang pada Agustus 2025 menampilkan foto Erni dan Bobby berduaan. Status itu dibumbui dengan judul “Bestie Politik Erni dan Bobby dinilai melemahkan Fungsi Pengawasan Legislatif.”
Hamdani rupanya iseng mengomentari tampilan media social itu. "Ada cieee cieeee. Cocok serasi, satu binor satu lagi lakor," tulis Hamdani melalui akunnya @hamdanisyahputra131313.
Lalu akun itu juga membalas komentar lain yang menyebut dua pejabat itu cocok.
"Cocok ya mereka,"tulis akun Instagram @arkana.yuri.
Kemudian Hamdani membalas komentar akun Arkana, dengan menyebut tinggal menunggu undangan.
"Tinggal nunggu undangan,"tulisnya.
Ruang komentar itu semakin panas karena ada pula yang mengait-ngaitkan Erni dengan sejarah ayahnya, Khairuddin Syah Sitorus alias Buyung Sitorus yang pernah meringkuk di penjara dalam kasus korupsi di Labuhanbatu Utara.
Karuan, Erni semakin panas. Perselisihannnya dengan Hamdani kian tajam setelah Erni pada akhir Agustus 2025 resmi menyampaikan pengaduan ke Polda terkait komentar Hamdani yang dianggapnya sebagai pelecehan dan penghinaan itu.
“Saya sangat keberatan dengan komentar itu karena berbau fitnah. Saya ini seorang ibu, seorang istri dan seorang perempuan. Saya tidak rela dilecehkan seperti itu,” katanya.
Dalam pengaduan itu Erni menggunakan delik UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Nomor 1 Tahun 2024 sebagaimana Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 dan menyerahkan sejumlah bukti foto copy Salinan Instagram.
Pengaduan Erni ini tentu saja membuat internal Golkar Sumut semakin panas. Tidak bisa dibantah, banyak yang mengaitkan pengaduan itu dengan persaingan Musa Rajekshah alias Ijeck dengan Henriyanto Sitorus dalam perebutan kursi ketua Golkar Sumut yang sedang panas saat itu. Hal ini bisa dimaklumi, sebab Hamdani adalah abang ipar Ijeck, sementara Hendriyanto Sitorus adalah abang dari Erni.
Kala itu Erni dikabarkan sedang membangun koalisi dengan Bobby untuk memuluskan Hendriyanto sebagai ketua Golkar. Bobby kabarnya mendukung rencana itu sebab ia berkepentingan dengan dukungan Golkar pada Pilgubsu 2029.
Kalau Hendriyanto yang duduk sebagai ketua Golkar Sumut, dukungan Golkar untuk Bobby bisa dikatakan semakin pasti.
Bobby sendiri kabarnya kuatir kalau Ijeck yang kembali terpilih sebagai ketua Golkar. Apalagi hubungan keduanya sudah memburuk. Makanya, Bobby berupaya menghempang agar Ijeck gagal menjabat untuk kedua kalinya.
Langkah ini cukup berhasil. Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia sengaja memindahkan Ijeck jadi pengurus DPP Golkar Pusat sehingga membuat mantan Wakil Gubernur Sumut itu tidak diperolehkan lagi mencalonkan diri sebagai ketua Golkar Sumut pada Musyawarah Daerah awal Februari lalu.
Namun gagalnya Ijeck naik sebagai ketua Golkar bukan berarti membuat peluang Hendriyanto Sitorus semakin besar. Nyatanya, Hendriyanto gagal mencalonkan diri karena tidak memenuhi syarat dukungan. Yang justru terpilih sebagai ketua Golkar Sumut pada Musda itu adalah Andar Amin Harahap yang merupakan sahabat dekat Ijeck.
Usai Musda, isu kedekatan antara Erni dan Bobby mulai mereda. Banyak yang menduga hubungan buruk antara Erni dan Hamdani Syahputra Adjam juga sudah selesai.
Namun kenyataannya tidak demikian. Erni terus mengawal pengaduannya di Polda Sumut untuk memastikan bahwa Hamdani harus mendapat sanksi tegas. Upaya ini berhasil, sebab Polda Sumut kemudian menetapkan Hamdani sebagai tersangka.
“Proses hukum tetap berjalan,” kata Kabid Humas Polda Sumut, Ferry Walintukan.
Kelanjutan kasus hukum itu seakan membuka kembali luka di tubuh Golkar, terutama konflik antara Bobby dan Ijeck. Bagaimanapun juga, kasus ini tidak bisa dilepaskan dari keduanya.
Ijeck tentu akan berupaya membela abang iparnya, sementara Bobby cenderung berpihak kepada Erni karena namanya juga ikut disinggung dalam komentar Hamdani itu.
Setidaknya kasus ini kembali menunjukkan bahwa konflik internal Golkar masih tetap berlangsung. Rivalitas antar pengurus yang ada di dalamnya akan terus memanas, apalagi kabarnya Erni sudah masuk dalam kepengurusan DPD Golkar Sumut di bawah pimpinan Andar Amin Harahap.
Sementara Hamdani masih menjabat Ketua Golkar Deli Serdang. **
