-->

Intimidasi Bobby Lover kepada Pejabat Pemprovsu kian Merajalela, Minta Proyek dan Jabatan Tertentu

Sebarkan:
Ketua Umum Bobby Lover Aspiadi Nasution bersama Gubernur Bobby Nasution

Sekarang terungkap jelas tujuan pembentukan komunitas Bobby Lover di Sumut. Ternyata selain menggalang massa untuk dimanfaatkan pada Pilkada demi kemenangan pujaan mereka, Bobby Nasution, komunitas ugal-ugalan ini juga bertujuan untuk menekan para pejabat di lingkup Pemerintah provinsi Sumut.

Selain meminta proyek, mereka juga kerap melakukan intimidasi ke sejumlah kepala dinas guna menempatkan pejabat tertentu.  Semua kegiatan mereka itu dilakukan atas nama pejabat penting di Sumut.

Jika permintaan tidak dikabulkan, tim Bobby Lover bisa jadi akan mengadukan macam-macam soal kepala dinas itu kepada Bobby sehingga pada akhirnya pejabat itu harus diganti.

Salah satu yang baru-baru ini terungkap sebagai korban intimidasi tim Bobby Lover ini adalah pejabat di Dinas Pendidikan Sumut yang mengaku kerap mendapat tekanan secara verbal dan tulisan. Rekaman percakapan WhatsApp setidaknya mengungkap dengan jelas tekanan itu. 

Pelakunya tidak lain adalah Ketua Umum DPP Relawan Bobby Lovers, Aspiadi Nasution.

Aspiadi dengan gamblang menekan pejabat itu dengan memaksa untuk menempatkan orangnya di salah satu posisi strategis di Dinas Pendidikan Sumut. Bahkan dengan jelas ia membawa-bawa nama orang penting yang sangat berpengaruh di Pemprovsu untuk menekan pejabat itu.

Dari bukti dokumen yang bocor, Aspiadi Nasution meminta agar kroninya bernama London Napitupulu SPd dapat segera ditempatkan sebagai Pelaksana Harian (Plh) Kepala Cabang Dinas (Kacabdis) Pendidikan Wilayah VI Siantar Simalungun. Sedangkan  pejabat yang sekarang, Robinson Sitanggang ia  minta didepak karena akan memasuki masa pensiun.

Untuk memperkuat tekanannya itu, Aspiadi juga mengirim foto dirinya yang sedang duduk di balik meja kerja di mana terpampang sejumlah plakat berlambang Pemprovsu dan simbol Bobby Lovers. Tentu saja foto itu merupakan tekanan psikologi untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang sangat dekat dengan Bobby Nasution.

Namun intimidasi itu ternyata diabaikan oleh pejabat bersangkutan. Karuan, Aspiadi semakin emosi.  Yang tadinya ia sekedar memberi tekanan, kemudian berkembang menjadi teror kata-kata.

Ia lantas memberondong ruang obrolan WhatApps itu dengan kalimat-kalimat bernada ancaman agresif guna meruntuhkan mental pejabat tersebut.

Jangan seperti ini pak pak bos… Nanti malu pak bos. Habis takut timbul berani! Harta, jabatan, dan kesombongan milik SANG PENCIPTA,” tulisnya.

Namun tekanan itu tetap diabaikan, Bahkan pejabat itu kemudian mengambil inisiatif membocorkan Tindakan ketua Aspiadi itu ke sejumlah media.  

Ini foto Aspiadi Nasutin yang dikirimnyan ke beberapa pejabat sebagai bentuk tekanan agar permintaannya dikabulkan.
Dari sinilah asal muasalnya sehingga perilaku busuk pimpinan Bobby Lover semakin terkuak ke permukaan. Bukan sekali ini saja aksi itu terjadi. Selama ini mereka memang kerap melakukan intimidasi ke sejumlah pejabat demi mendapatkan proyek dan uang. Beberapa pejabat mengaku sudah menjadi korbannya.

Skandal ini menjadi bukti nyata betapa busuknya jejaring relawan dan patron politik yang telah merusak netralitas ASN dan mengintimidasi tatanan pemerintahan di Sumatera Utara. 

Adapun Gubernur Bobby Nasution seakan tutup mata dengan aksi itu karena ia memang sangat membutuhkan jasa Bobby Lover untuk penggalangan massa di saat Pilkada nanti.

Terbentuk Sejak Pilkada Medan

Komunitas Bobby Lover terbentuk saat pertamakali Bobby bermain dalam politik di Pilkada Medan 2020. Ada beberapa orang yang terlibat dalam pendirian komunitas ini, termasuk Aspiadi Nasution dan dua bersaudara Ricky Rizaldi Rangkuti dan Dedi Rangkuti.

Dua nama terakhir adalah sepupu kandung Bobby Nasution. Hubungan kekeluargaan itu berasal dari ibu mereka, Erzalina Nasution yang merupakan kakak kandung dari ayah Bobby Nasution, Almarhum Erwin Nasution.

Ricky dan Dedi bertindak sebagai pembina dalam komunitas Bobby Lover, sedangkan ketuanya dipimpin oleh Aspiadi Nasution. Tidak ada data yang menyebut Aspiadi Nasution memiliki hubungan darah dengan Bobby. Mereka kemungkinan hanya semarga saja.

Kelompok ini yang aktif menjual kecap guna menggalang dukungan bagi Bobby sejak Pilkada Medan 2020. Mereka membagi-bagikan sembako kepada orang-orang di jalanan demi mengumpulkan suara untuk Bobby.

Aksi yang sama juga mereka lakukan pada Pilkada Gubernur 2024. Malah lebih besar lagi karena dukungan dana bagi kelompok ini semakin besar. Mereka tidak segan-segan menekan sejumlah pejabat di Pemko Medan dan Pemprovsu untuk mendapatkan dana kampanye tersebut.

Setelah Bobby menang di dua Pilkada itu, gaung Bobby Lover semakin menggema di sejumlah pejabat di lingkup Pemprovsu. Apalagi pengurusnya kebanyakan kalangan pengusaha dan kontraktor.  Seakan mereka paling berhak menentukan arah proyek di sejumlah Organisasi Pemerintah Daerah.

Proyek yang disasar memang kelas menengah ke bawah. Untuk proyek ukuran besar, tentunya kekuasaan Bobby lebih berpengaruh. Ada kelompok lain yang berperan menentukan.

Tapi meski proyek kelas menengah ke bawah, jumlah proyek seperti ini di lingkup OPD sangat banyak.  Makanya mereka begitu leluasa meminta proyek itu kepada sejumlah kepala dinas. Selain itu, mereka juga menjual jasa untuk menempatkan pejabat yang dekat dengan mereka guna mengisi posisi tertentu.

Praktik seperti ini sudah menjadi rahasia umum sejak lama. Bahkan nama Dedi dan Ricky sempat disebut-sebut dalam sejumlah tender di Pemprovsu dan sejumlah daerah.

Proyek yang didapatkan kelompok ini tidak dikerjakan sendiri, melainkan dijual kembali ke pihak lain dengan harga 22 persen dari total nilai proyek.

Nama Dedi Rangkuti sebenarnya  sempat masuk dalam list yang diperiksa KPK terkait kasus korupsi proyek jalan di Tapanuli bagian Selatan yang menyeret mantan Kepala Dinas PUPR Sumut, Topan Ginting. Namun ia tidak sampai dijadikan tersangka.

Adapun Aspiadi Nasution disebut-sebut lebih banyak bermain di lingkup kepala dinas. Sudah banyak kepala dinas yang menjadi sasaran intimidasinya demi meraup untung dan bisa menempatkan sejumlah pejabat tertentu untuk posisi strategis setingkat eselon III atau eselon IV.

Salah satu yang terbaru adalah intimidasi terhadap pejabat Dinas Pendidikan Sumut yang baru terungkap  belakangan ini.  Aksi Aspiadi melakukan intimidasi itu dilengkapi pula dengan foto-fotonya yang bertaburan spanduk dan symbol Bobby Lover.***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini