![]() |
| Walikota Medan, Rico Waas dan Gubernur Sumut, Bobby Nasution tidak lagi harmonis |
Perjalanan Rico Waas keluar negeri itu berlangsung saat dilaksanakannya peresmian operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto yang secara simbolis digelar di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16/5/2026. Seremoni itu dilaksanakan pula secara serentak di sejumlah daerah yang dihadiri para kepada daerah masing-masing.
Untuk wilayah Sumatera Utara, peresmian Koperasi Merah Putih dilaksanakan di Kelurahan Tanjung Selamat, Medan Tuntutan pada hari yang sama. Gubernur Bobby Nasution, Pangdam Bukit Barisan dan sejumlah unsur pejabat daerah hadir pada acara itu. Sementara Pemerintah Kota Medan diwakili oleh Wakil Walikota Zakiyuddin Harahap.
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya kehadiran kepala daerah pada program strategis nasional yang menyentuh langsung masyarakat.
“Program ini untuk rakyat. Kalau kepala daerahnya tidak hadir, bagaimana rakyat merasa diperhatikan?” ujar Prabowo di hadapan peserta acara.
Prabowo tidak menyebutkan siapa kepala daerah yang dimaksud. Namun belakangan Bobby menggiring kalau yang dimaksud adalah Walikota Medan Rico Waas. Dan memang benar, Rico tidak hadir pada acara itu.
Meski sudah diwakili oleh Zakiyuddin, sepertinya Bobby tidak mau menerima.
Bak mendapat durian runtuh, Bobby langsung berupaya memperdalam kesalahan Rico dalam kasus itu. Apalagi Bobby sebagai gubernur sama sekali tidak pernah mendapat pemberitahuan soal perjalanan ke luar negeri itu.
“Kita akan berkoordinasi dengan Mendagri terkait masalah ini,” kata Bobby.
Seakan merasa di atas angin, Bobby kini mendapatkan senjata utama untuk memojokkan Rico. Ini tentu sebuah kesempatan balas dendam yang baik bagi Bobby, sebab selama ini, di mata public, Bobby yang justru kerap dipojokkan Rico.
Misalnya terkait pembangunan Stadion Teladan, jelas sekali Bobby kerap terpojok karena ia terbukti tidak mampu menjalankan proyek itu sebagaimana mestinya. Sebaliknya, selama ditangani Rico Waas, Stadion Teladan akhirnya berdiri megah.
Publik Medan begitu memuji kinerja Rico was dalam proyek itu. Mereka membanding-bandingkan dengan kinerja buruk Bobby saat menjabat walikota Medan. Walau Bobby adalah perintis pembangunan Stadion teladan yang baru, tapi ia tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Selama ditanganinya, Stadion Teladan hancur lebur. Proyek kacau balau.!
Belum lagi Rico membatalkan sejumlah program yang dulu sangat dibangga-banggakan Bobby, seperti parkir berlangganan, yang terbukti gagal total dan membuat daerah mengalami kerugian besar.
Malah belakangan mencuat kabar kalau Rico ikut mendorong agar Badan pemeriksa Keuangan (BPK) membongkar sejumlah proyek yang terindikasi korupsi di masa Bobby Nasution menjabat Walikota Medan. Misalnya kasus korupsi proyek Kebun Bunga dan proyek Lapangan Merdeka.
Indikasi itu semakin kuat karena data kerugian negara sangat jelas. BPK sudah mencatat semua kerugian itu.
Sayangnya, sampai Sekarang aparat penegak hukum tidak mau bertindak. Tidak terbantahkan, pengaruh Jokowi memang masih kuat di lingkup aparat penegak hukum, terutama di Kepolisian dan Kejaksaan. Bahkan termasuk di KPK.
Langkah berani Rico itu yang membuat hubungannya dengan Bobby kian memburuk. Bobby kerap merasa terpojok dengan langkah-langkah Rico. Hal ini yang membuat keduanya tidak lagi harmonis. Tak heran jika Bobby kerap menyindir Rico yang dianggpnya tidak tanggap membangun kota Medan. Seakan dialah yang selama ini lebih berhasil membangun kota Medan.
Tapi public tidak banyak menanggapi sindiran Bobby itu. Langkah manis Rico dalam membangun Stadion Teladan justru lebih sering jadi sasaran tembak untuk Bobby Nasution. Bisa dikatakan, Bobby sulit mencari cara untuk menyerang Rico.
Sampai akhirnya terungkap kasus perjalanan Rico ke luar negeri saat berlangsung acara peresmian Koperasi Merah Putih pada Sabtu (16/5/2026) lalu. Bobby pun merasa mendapat senjata utama. Ia mulai melakukan serangan tajam kepada Rico.
“Saya tidak pernah mendapat laporan soal perjalan ke luar negeri ini,” kata Bobby.
Sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah dan wakil kepala daerah memang dilarang bepergian ke luar negeri tanpa izin Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Tanpa izin itu, kepala daerah dapat dikenakan sanksi, berupa sanksi tertulis atau pemberhentian sementara.
Berdasarkan aturan ini, Bobby langsung berkoordinasi dengan Mendagri soal kemungkinan pemberian sanksi kepada Rico Waas. Inilah momen yang ditunggunya.
Tapi siapa saja, sehari setelah kasus itu diungkap Bobby, Rico Waas langsung memberi tanggapan melalui Humas Pemerintah Kota Medan. Ia mengaku telah meminta izin kepada Mendagri soal perjalanannya keluar negeri itu. Ia izin ingin berobat.
"Benar bahwa saya saat ini sedang berada di luar negeri untuk menjalani pengobatan. Jauh-jauh hari saya sudah merencanakan berobat, tapi waktunya tidak dapat. Kebetulan ini ada waktu libur, makanya saya berangkat dan sudah lapor kepada Mendagri untuk agenda tersebut," kata Rico Waas dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Rico Waas mengaku ke luar negeri untuk berobat tanpa menggunakan dana APBD. Ia menggunakan dana pribadi. Namun Rico tidak mengungkapkan negara yang dituju.
"Pokoknya sudah minta izin sesuai aturan dan saya tidak menggunakan APBD dalam perjalanan ini, dan murni menggunakan dana pribadi. Saya ke luar negeri khusus untuk berobat, sekaligus mengambil obat yang sudah habis saya konsumsi. Saya sengaja mengambil waktu di hari libur. Saya mohon maaf dalam hal ini. " imbuhnya.
Walau berada di luar negeri, keponakan Ketum Partai NasDem Surya Paloh itu mengaku tetap memonitor Kota Medan. Khususnya kepada camat dan lurah serta Kepling untuk terus memantau wilayahnya jangan sampai terjadi yang tidak diinginkan. Ia pun aktif berkoordiinasi dengan wakil walikota Zakiyuddin.
"Selama berobat setiap waktu saya juga memonitor Kota Medan, dan meminta kepada para pimpinan Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) terus berkomunikasi dan berkoordinasi terkait perkembangan Kota Medan yang kita cintai bersama," ujarnya.
Yang menarik, Rico berterus terang tidak berkomunikasi dengan Bobby soal perjalanan ke luar negeri itu karena ia mengakui hubungan komunikasi mereka tidak harmonis. Lagipula tidak ada kewajiban untuk melapor ke gubernur kalau sudah mendapat izin dari Mendagri.
Toh, kegiatan seremoni peresmian koperasi itu telah diwakili oleh Wakil Walikota Medan Zakiyuddin. Jadi seharusnya masalah ini tidak menjadi persoalan besar. Jadi bisa dikatakan, senjata Bobby untuk menyerang Rico lagi-lagi gagal alias zonk..!***
