-->

Soal Perjalanan ke LN, Rico Sudah Lapor Mendagri, Bobby Tetap Keberatan, “ Kok Tidak Lapor Saya!”

Sebarkan:
Gubernur Bobby Nasution

Perjalanan Walikota Medan Rico Waas untuk berobat ke luar negeri (LN) sebenarnya sudah dilaporkan jauh hari ke Menteri Dalam Negeri. Rico mengaku sengaja memilih hari libur untuk perjalanan itu agar ia tidak terkesan meninggalkan tugas. 

Tapi ternyata Gubernur Sumut Bobby Nasution terus berupaya mencari-cari kesalaha Rico terkait masalah itu.

Bobby mengaku, berdasarkan mekanisme administrasi pemerintahan yang ia tahu, seharusnya bupati atau walikota yang hendak bepergian ke luar negeri wajib menyampaikan surat melalui gubernur sebelum diteruskan ke Kementerian Dalam Negeri.

Oleh  karena itu, ia menganggap kepergian Rico ke luar negeri berobat yang sudah mendapat izin dari Mendagri, tetap salah. Seharusnya izin harus dari dirinya.

"Ya, setahu saya ya, setahu saya. Dan saya juga dulu pernah jadi Walikota, pemberitahuan itu kan, kalau di aturan juga silahkan baca aturannya ya, aturan bisa dibaca semua orang. Kalau tingkat dua, bupati/ wali kota biasanya kan menginformasikan ke Gubernur. Lalu biasanya gubernur ke Kemendagri," ujar Bobby di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (21/5).

Kepergian Rico Waas ke luar negeri itu menjadi persoalan karena saat bersamaan berlangsung peresmian Koperasi Desa/Koperasi Merah Putih yang dipusatkan di Jawa Timur pada  di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16/5/2026.

Seremoni itu dilaksanakan pula secara serentak di sejumlah daerah secara daring pada hari yang sama dengan dihadiri para kepada daerah masing-masing.

Untuk wilayah Sumatera Utara, peresmian Koperasi Merah Putih dipusatkan di Kelurahan Tanjung Selamat, Medan Tuntutan. 

Gubernur Bobby Nasution, Pangdam  Bukit Barisan dan sejumlah unsur pejabat daerah hadir pada acara itu. Sementara Pemerintah Kota Medan diwakili oleh Wakil Walikota, Zakiyuddin Harahap.

Secara administrasi, sebenarnya Pemko Medan telah diwakili wakil walikota. Namun Bobby tetap berupaya mencari kesalahan Rico Waas yang tidak hadir di acara itu. Ia pun menuding Rico Waas berbohong.

“Katanya ke luar kota, ternyata ke luar negeri,” sindir  Bobby. 

Kemudian Bobby mempermasalahkan izin bagi Rico untuk bepergian ke luar negeri.

Tidak disangka, ternyata Rico Waas sudah punya jurus jitu menampik serangan Bobby itu. Ia mengaku sudah mendapat izin dari Mendagri untuk perjalanan ke luar negeri guna berobat. Lagi pula Rico menegaskan bahwa kepergiannya sama sekali tidak menggunakan anggaran daerah.

“Saya berobat menggunakan dana pribadi saya. Tapi saya tetap berkoordinasi untuk tugas-tugas daerah bersama wakil walikota,” katanya.

Rico sengaja meminta izin Mendagri untuk keluar negeri karena memang peraturan menegaskan hal demikian.  

Aturan itu dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang  Pemerintah Daerah, di mana pasal  Pasal 76 (i) menegaskan bahwa kepala daerah yang melakukan perjalanan ke luar negeri harus mendapat izin dari menteri. Dalam hal ini tentu saja Menteri Dalam Negeri, bukan izin dari gubernur.

Makanya, Presiden Prabowo sempat meminta Mendagri Tito Karnavian untuk mengecek apakah kepala daerah yang tidak hadir dengan alasan ke luar negeri saat peresmian koperasi desa itu sudah meminta izin. Ia sama sekali tidak memerintahkan gubernur untuk mengecek, sebab Prabowo tahu izin harus dari Mendagri.

Masalahnya, Bobby ngotot bahwa izin harus dari dirinya. Oleh karena itu ia terus menyindir Rico Waas, meski telah mendapat izin dari Mendagri.

Meski demikian, Bobby menegaskan tidak ada maksud lain dari pernyataannya. Ia hanya ingin menjelaskan mekanisme administrasi yang berlaku. Namun sekali lagi Bobby menyebutkan bahwa kepergian Rico Waas ke luar negeri memang tanpa sepengetahuannya.

"Ya, saya rasa sebagai anak buah, saya melaporkan, menginformasikan juga, yang sepengetahuan saya ada jajaran kami di tingkat kabupaten dan kota, ada yang tanpa sepengetahuan kami di provinsi ada yang pergi, itu saja," ungkapnya.

Bobby juga menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan apabila Rico memang langsung berkoordinasi dengan Kemendagri, selama hal tersebut diperbolehkan dalam aturan.

"Gak ada maksud apa-apa, gak ada maksud yang lain, tapi kalau memang boleh seperti itu, langsung ya silahkan saja," ucapnya. 

Pernyataan Bobby ini menunjukkan bahwa ia pun kurang memahami aturan izin kepala daerah untuk keluar negeri. Hanya terkesan memaksakan bahwa izin harus dari gubenur.

Hubungan Tidak harmonis

Polemik perjalanan Rico Waas ke luar negeri  dengan izin Mendagri semakin memanaskan hubungan antara Rico Waas  dengan Gubernur Bobby Nasution di ruang public. Sudah bukan rahasia lagi, hubungan kedua kepala daerah ini memang tidak lagi seharmonis dulu.  

Bobby disebut-sebut kurang sreg dengan kepemimpinan Rico Waas sebagai walikota karena beberapa kebijakannya banyak membongkar kebusukan walikota Medan sebelumnya. Adapun Walikota Medan sebelum Rico adalah Bobby Nasution.

Misalnya, Rico ikut mendukung langkah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang  membongkar manipulasi dalam berbagai proyek yang terjadi di masa Walikota sebelumnya, seperti proyek revitalisasi Lapangan Merdeka, proyek kebun bunga dan lainnya.

Ada pula beberapa kebijakan Walikota di masa Bobby yang dihapusnya, seperti kebijakan parkir berlangganan yang terbukti banyak menghasilkan masalah. Bahkan merugikan keuangan daerah.  

Di sisi lain, Rico mendapat banyak pujian ketika berhasil menuntaskan proyek pembangunan Stadion Teladan yang sempat kacau balau di masa Pemerintahan Bobby Nasution. 

Bobby hanya berperan meruntuhkan stadion itu, sedangkan yang membangunnya hingga selesai adalah Rico Waas. Makanya, public menilai kerja Rico Waas untuk pembangunan Stadion Teladan jauh lebih menonjol.

Puncak dari ketidakharmonisan itu terjadi tatkala Rico Waas memutasi Benny Sinomba Siregar dari jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan menjadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan.

Mutasi ini dilakukan Rico Waas, pada pertengahan April 2026 sebagai bagian dari evaluasi kinerja. Benny dianggap banyak gagal menjalankan kebijakan Pendidikan di Kota Medan sehingga ia dipindahkan ke bidang perpustakaan.

Untuk diketahui, Benny Sinomba Siregar adalah paman kandung Bobby Nasution. Di masa Bobby, karir pamannya ini ikut terdongkrak. 

Saat Bobby menguasai Pemko Medan, jabatan Benny begitu cepat melonjak, dari kepala bidang di Badan Pendapatan Daerah (Bappeda) naik menjadi Sekretaris dan kemudian sebagai Kepala Bappeda. Setelah dua tahun di Bappeda, Bobby kemudian memindahkan pamannya itu sebagai Kepala Dinas Pendidikan.

Bahkan Bobby sempat ingin menempatkan pamannya itu sebagai Plt Sekda Kota Medan. Namun kemudian dibatalkan karena mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Dalam sebulan ke depan, Pemko Medan sedang mencari sosok yang akan menjabat sebagai Sekda  karena Sekda yang menjabat sekarang,  Wiriya Alrahman akan memasuki masa pensiun pada akhir Juli 2026.

Bobby sebenarnya sudah mengambil ancang-ancang agar pamannya Benny Sinomba Siregar yang menduduki jabatan itu. Namun Rico terlihat kurang setuju. 

Keputusan Rico memindahkan Benny dari Kepala Dinas Pendidikan ke Kepala  Dinas Perpustakaan menunjukkan bahwa di matanya Benny tidak layak menjadi calon Sekda.

Makanya jangan heran kalau Bobby sangat kecewa dengan Rico. Upaya mencari kesalahan Rico terus dilakukannya. Termasuk soal izin ke luar negeri. 

Sampai-sampai Bobby berupaya memaksakan bahwa izin harus melalui dirinya. Padahal Undang- Undang tentang  Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa izin dari Mendagri. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini