-->

Stadion Teladan Gagal sebagai Venue Piala AFF U-19, Konflik Bobby dan Rico Kian Memanas

Sebarkan:
Exco PSSI Arya Sinulingga bersama Gubernur Bobby Nasution mengecek persiapan akhir Stadion Teladan Medan

Turnamen perebutan Piala ASEAN untuk usia di bawah 19 tahun atau AFF U-19 akan dimulai Senin 1- 13 Juni pekan ini. Rencananya ada tiga stadion di Medan dan Deli Serdang yang digunakan sebagai venue untuk turnamen itu. Namun rencana itu gagal, karena salah satu stadion andalan tuan rumah, yakni Stadion Teladan Medan, dinyatakan belum layak dijadikan sebagai lokasi pertandingan.

Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara mengatakan lapangan stadion itu pada dasarnya sudah oke, namun infrastruktur pendukung belum selesai, seperti fasilitas toilet, bangku penonton, akses dan lainnya banyak yang belum selesai. 

Akan sangat riskan kalau stadion itu dipaksa menampung penonton yang mencapai ribuan orang.

Oleh karena itu Arya Sinulingga sebagai Anggota Exco PSSI menilai Stadion Teladan belum layak sebagai tempat penyelenggaraaan pertandingan piala AFF U-19. Kalaupun dipaksakan, kemungkinan pertandingan di stadion itu bisa digelar, tapi tanpa penonton.

Bukan hanya persoalan stadion pertandingan yang jadi masalah, lokasi latihan para tim peserta juga belum mampu disiapkan oleh Pemerintah Sumut secara memadai. Misalnya saja, Stadion Kebun Bunga yang seharusnya digunakan sebagai tempat latihan peserta, ternyata belum bisa digunakan.

Begitu juga Lapangan Cadika yang ada di kawasan Medan Johor, juga tidak bisa digunakan sebagai arena latihan karena saat bersamaan sedang berlangsung Jambore Pramuka Kota Medan. Situasi itu tentu saja tidak memungkinkan bagi negara peserta untuk menyelenggarakan latihan di sana.

“Setiap tim peserta membutuhkan lokasi latihan yang tertutup karena di sana mereka membahas strategi dan taktik. Tidak boleh ditonton secara terbuka oleh publik. Bagaimana mungkin mereka bisa latihan di saat bersamaan ada Jambore Pramuka,” kata Arya Sinulingga.

Keputusan Exco PSSI itu membuat Walikota Medan Rico Waas hanya bisa pasrah.  Ia mengaku kalau Pemko Medan sebenarnya telah  bekerja maksimal untuk menyiapkan diri sebagai tuan rumah  AFF di Stadion Teladan. Mereka juga sudah berupaya keras menyiapkan Lapangan Cadika dan Kabun Bunga sebagai lokasi Latihan para peserta yang berasal dari 11 negara.

“Namun memang ada kendala di sana sini. Kami hanya pasrah saja dengan keputusan PSSI,” kata Rico.

Tidak mulusnya persiapan pelaksanaan AFF U-19 ini semakin memperkeruh hubungan antara Rico Waas dan Gubernur Bobby Nasution. Sebelum persoalan ini mencuat, hubungan mereka sebenarnya juga sudah tidak harmonis. Malah komunikasi di antara keduanya benar-benar tersumbat.

Disharmonisasi itu dipicu dengan kebijakan Rico yang membuka borok sejumlah proyek Pemko Medan di masa Bobby menjabat Wakilota pada 2021-2024. Kondisi itu diperparah dengan langkah Rico yang membatalkan sejumlah kebijakan Bobby karena dianggap gagal total.

Misalnya,  pembatalan kebijakan parkir berlangganan yang sarat masalah, serta langkah Rico yang mengungkap sejumlah borok proyek di masa Bobby. Rico dan kelompoknya juga mulai membongkar monopoli beras bulog yang dilakukan orang-orang dekat Bobby.

Sejak Rico menjabat Walikota Medan pada Februari 2025, semakin banyak terkuak kebusukan Bobby dalam memerintah kota itu.  Rico tentu tidak mau memikul  beban tersebut, sehingga secara tidak langsung ia menggiring opini kalau semua kebusukan itu terjadi di masa pemerintahan Bobby.

Yang terbaru, Rico juga menggeser jabatan paman Bobby, Benny Sinomba Siregar, dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan menjadi Kepala perpustakaan. 

Pemindahan itu tentu saja kian memperkecil peluang Benny untuk terpilih sebagai Sekda pada Juli mendatang. Padahal jauh hari  Bobby sangat berharap Benny bisa menduduki jabatan sebagai Sekda Medan menggantikan Wirya Alrahman yang memasuki pensiun pada penghujung Juli 2026.

Kembali ke isu AFF U-19, sejak awal Bobby berharap bisa memanfaatkan turnamen ini sebagai ajang meningkatkan citranya. Tak heran jika berbagai brosur dan spanduk yang bergambar wajahnya sudah bertebaran di tengah kota dan media sosial terkait pelaksanaan turnamen internasional itu.

Jauh hari ia juga sudah memaksa Pemko Medan untuk bekerja keras menyelesaikan Stadion Teladan dan stadion lainya yang akan digunakan sebagai lokasi latihan tim peserta.

Namun harapan itu tidak tercapai. Tak heran jika Bobby mengaku sangat kecewa sebab semua itu berdampak pada gagalnya pencitraan yang dirancangnya. 

Malah ada kecurigaan kalau gagalnya persiapan itu karena ada unsur kesengajaan dari Pemko Medan.  Analisis ini muncul, sebab kalaupun semua persiapan  dijalankan dengan matang, toh, yang mendapat keuntungan politik adalah Bobby Nasution sebagai penangungjawab tuan rumah.  

Sementara Rico Waas hanya kebagian sebagai pendamping yang duduk di belakang gubernur. Namanya akan tenggelam dalam hingar bingar AFF U-19 itu.

Tak heran jika sejumlah nitizent menilai bahwa gagalnya persialan AFF U-19 itu sebenarnya merupakan bentuk perlawanan Rico kepada Bobby.  

Yang lebih aneh lagi, Rico justru sengaja menyelenggarakan Jambore Pramuka Medan di Cadika, padahal sejak awal ia sudah tahu kalau lapangan di lokasi itu akan digunakan sebagai tempat Latihan.

“Jelas sekali kalau itu semua disengaja,” kata @rizal_77 memberikan komentar.

Terlepas dari benar tidaknya analisis itu, yang jelas ribetnya persiapan AFF U-19 kali ini  membuat hubungan Rico dan Bobby kian memanas.  Dalam berbagai kesempatan Bobby terus menyindir Rico di depan publik. 

Sementara Rico tetap tenang, tapi ia kerap membalas dengan kebijakan yang tidak sejalan dengan maunya Bobby.  Kini hubungan Rico dan Bobby kian meradang..! ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini