Direktur Tipidter Bareskrim Polri Moh. Irhamni dalam keterangan tertulis yang diterima Kajianberita.com Senin siang (25/5/2026) mengatakan, dari giat tersebut, pihaknya menemukan barang bukti berupa konduktor yang putus dibawa ke Puslabfor Bareskrim dan Litbang PLN untuk diperiksa lebih lanjut.
“Sejauh ini belum ditemukan indikasi kesengajaan manusia dalam putusnya konduktor itu,” ujarnya. Dengan kata lain, Polisi tidak menemukan adanya usur sabotase dalam peristiwa itu. Sampai saat ini, gangguan cuaca tetap diduga menjadi pemicu awal yang kemudian menimbulkan efek berantai hingga mengganggu sistem kelistrikan di berbagai daerah.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan, indikasi awal menunjukkan gangguan terjadi pada ruas transmisi 275 kilovolt (kV) antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai, Jambi.
“Ini sebagai indikasi awal, ada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca,” ujar Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Gangguan pada jalur transmisi tersebut membuat sistem keluar dari jaringan kelistrikan Sumatera. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan pasokan dan beban listrik di sejumlah wilayah. PLN menjelaskan, sebagian pembangkit mengalami kelebihan pasokan listrik (oversupply) karena aliran daya terputus.
Kondisi tersebut memicu kenaikan frekuensi dan tegangan sehingga sistem proteksi bekerja otomatis.
“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau dalam istilah publik pembangkitnya otomatis padam,” kata Darmawan. Di sisi lain, wilayah yang kehilangan suplai pembangkit justru menghadapi kekurangan pasokan listrik.
“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” ujar Darmawan.
Gangguan tersebut berdampak pada sistem ketenagalistrikan dari Jambi, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh. Sejumlah wilayah lain seperti Sumatera Selatan juga terdampak
Sempat ada kecurigaan adanya sabotase di balik kasus pemadaman listrik itu. Namun hal ini dibantah oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri yang memastikan pemadaman listrik massal bukan disebabkan oleh aksi sabotase.
“Bisa kami pastikan tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut," kata Wakil Kepala Bareskrim Polri, Irjen Nunung Syaifuddin.
Hasil identifikasi dan investigasi awal menunjukkan gangguan sistem kelistrikan diduga dipicu faktor teknis dan cuaca ekstrem yang menyebabkan kabel transmisi putus.
"Dugaan mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan," lanjutnya. ***
