![]() |
| Deretan calon ketua PBNU |
Yahya Cholil dikenal sebagai ketua PBNU yang sangat dekat dengan penguasa. Ia pula yang membawa NU tampil sebagai organisasi agama yang berpihak kepada Prabowo-Gibran pada Pemilu Presiden yang lalu.
Sementara Nasaruddin Umar yang dikenal sebagai anggota kabinet Prabowo juga dikenal dekat dengan penguasa.
NU sejak beberapa dekade ini memang dikenal sebagai Ormas yang tunduk kepada penguasa. Bisa dipahami, karena kinerja organisasi ini sangat bergantung kepada asupan dana Pemerintah.
NU bukanlah organisasi mandiri seperti Muhammadiyah. Hanya namanya saja yang besar, tapi ketergantungannya kepada penguasa sangat tinggi.
Tak heran jika para pimpinan NU biasanya terkenal dengan isilah ‘penjilat’ penguasa. Dengan mendekatkan diri pada pemerintah, anggaran APBN bisa diluncurkan kepada organisasi itu secara mulus setiap tahun.
Pemerintah pun dengan senang hati mengucurkan anggaran itu karena mereka bisa mengendalikan NU sebagai alat politik. Ada kecendrungan NU justru menjalankan praktek seperti partai politik, tapi tidak ikut dalam Pemilu.
Pemilihan Ketua Umum NU yang akan berlangsung Agustus ini juga dipastikan bakal memilih ketua dan pengurus baru yang secara tradisi juga wajib mendekatkan diri kepada penguasa. Itulah ilmu selamat NU.
Apalagi organisasi ini sudah mendapat hadiah berupa izin konsesi tambang di Kalimantan. Ya,maklum saja.
Katib Syuriah PBNU Sarmidi Husna mengatakan banyak tokoh telah disebut-sebut masuk dalam bursa calon ketua umum. Bahkan, sebagian di antaranya mulai mendeklarasikan diri.
"Ada Gus Yahya ketua umum sekarang, ada Kiai Zulfan Mustofa wakil ketua umum sekarang, terus kemudian ada Gus Yusuf Khudhori dari Pesantren Tegalrejo Magelang, ada Gus Salam Shohib Denanyar Jombang, ada Gus Rozin Ketua PWNU Jawa Tengah dan lain-lain, banyak calonnya," kata Sarmidi kepada awak media, Jumat (17/7/2026).
Beberapa nama lain juga muncul, seperti Said Aqil Siroj ( Ketua PBNU periode sebelumnya), Syaifullah Yusuf (sekarang Sekjen PBNU), dan nama lainnya.
Menurut Sarmidi, seluruh nama yang muncul memiliki kesempatan yang sama untuk maju sepanjang memenuhi ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
Ia menegaskan, peluang itu juga terbuka bagi Menteri Agama Nasaruddin Umar apabila memenuhi seluruh persyaratan organisasi.
"Termasuk, yang muncul ada Menteri Agama (Nasaruddin Umar), itu kalau memenuhi syarat secara AD/ART NU ya silakan ikut meramaikan, memeriahkan muktamar dalam bursa caketum," ujarnya.
Sarmidi menilai hingga saat ini belum terlihat adanya tarik-menarik kepentingan dalam bursa calon ketua umum. Menurutnya, dinamika pemilihan masih berjalan secara terbuka dan akan ditentukan dalam forum Muktamar.
Ia juga menjelaskan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU masih dapat dibahas oleh peserta Muktamar. Apakah tetap menggunakan sistem yang berlaku saat ini atau diubah, seluruhnya bergantung pada keputusan forum tertinggi organisasi tersebut.
"Terserah peserta muktamar nanti maunya seperti apa. Semua proses itu dibahas di muktamar dan disetujui oleh para peserta muktamar atau tidak," tuturnya.
Meski bursa calon mulai ramai, Sarmidi mengingatkan bahwa siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu menjawab kebutuhan organisasi. Secara teori, Ketua Umum PBNU mendatang harus tetap dekat dengan umat sekaligus berani menyampaikan masukan kepada pemerintah jika terdapat kebijakan yang dinilai kurang tepat.
Namun dalam kenyataannya, pengurus inti PBNU lebih sering tunduk kepada maunya penguasa. Apalagi saat Pemilu presiden, NU pasti akan jualan ummat untuk lebih dekat dengan penguasa. Mereka selalu mengklaim sebagai ormas agama dengan umat paling banyak di Indonesia. Lagu lama…!
Tapi dalam hal retorika untuk berpihak kepada umat, organisasi ini paling mahir. Seolah merekalah yang paling peduli dengan nasib umat. Nggak tahunya, di internal kepengurusan mereka selalu terjadi gontok-gontokan. ***
