![]() |
| Kapolres Samosir AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan (foto @rintar2025) |
Dua personel Polres Samosir berinisial ES dan DW ditangkap karena diduga menyalahgunakan narkotika jenis sabu. Kapolres Samosir AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan menegaskan, penindakan dilakukan oleh jajaran Polres Samosir setelah menerima informasi dugaan keterlibatan kedua anggotanya.
Penangkapan berlangsung pada 2 Juni 2026 oleh personel Satuan Reserse Narkoba Polres Samosir. Setelah diamankan, kedua anggota kepolisian itu langsung diserahkan ke Polda Sumatera Utara untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
"Saya tegaskan di sini, bahwa yang melakukan penangkapan bukan Polda Sumut, melainkan tim kami dari Polres Samosir. Memang benar ada dua personel saya yang ditangkap karena penyalahgunaan narkoba," ujar Rina di Lapangan Mapolres Samosir kepada wartawan pada Minggu (12/7/2026).
Setelah proses penangkapan selesai, agar lebih optimal, seluruh penanganan perkara dilimpahkan ke Polda Sumatera Utara. Seluruh dokumen, data, dan keterangan yang berkaitan dengan kasus kini berada di bawah kewenangan penyidik Polda Sumut.
"Saat ini kedua personel tersebut sudah berada di Polda Sumatera Utara. Untuk seluruh informasi dan perkembangan kasus telah kami serahkan kepada Kabid Humas Polda Sumut," katanya.
Rina menegaskan, tindakan terhadap kedua anggotanya merupakan bentuk komitmen Polri dalam memberantas penyalahgunaan narkotika di lingkungan internal. Hal tersebut sejalan dengan arahan Kapolda Sumatera Utara yang tidak memberi toleransi kepada anggota yang terlibat narkoba.
Rina mengaku segera mengambil langkah setelah memperoleh informasi mengenai dugaan penyalahgunaan sabu oleh kedua personelnya.
"Setelah saya menerima informasi mengenai dugaan tersebut, saya langsung memerintahkan KBO Satres Narkoba Polres Samosir untuk melakukan penindakan," jelas Rina.
Tak lama setelah ditangkap, ES dan DW langsung diberangkatkan ke Polda Sumatera Utara agar proses hukum dapat dilanjutkan oleh penyidik.
Mengenai hukuman bagi kedua anggota polisi tersebut, Rina menyampaikan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan penyidik Polda Sumatera Utara dan pemegang hukum.
"Soal apakah nanti direhabilitasi atau ada sanksi hukum lain, biarlah kita serahkan dalam penanganan hukum,” katanya.
Langkah Rina yang menangkap sendiri anak buahnya dan menyerahkan kasus tersebut ke Polda Sumut mengundang kekaguman public. Selama ini ada tuduhan kalau pimpinan cenderung akan membela anak buahnya.
Namun Rina bukanlah sosok seperti itu. Sedekat apapun ia dengan anak buahnya, kalau bersalah tetap harus dihukum. Apalagi kalau terlibat dalam masalah narkoba.
Rina Sry Nirwana Tarigan baru menjabat Kapolres Samosir selama enam bulan setelah dilantik pada Januari 2026. Sebelumnya, alumni Akademi Kepolisian 2025 ini lebih bayak bertugas di bidang interpol menangani kajahatan internasional.
Kemampuan Bahasa Inggrisnya yang cukup baik menjadi pertimbangan bagi Kapolri untuk menempatkan Rina bertugas di kawasan wisata, seperti Kabupaten Samosir. Hal itu sesuai dengan tekad Polri untuk memperkuat pengamanan di kawasan wisata Indonesia sehingga wisatawan merasa lebih nyaman menikmati liburan.
Dari marga yang melekat pada namanya, bisa dipastikan Rina Sry Nirwana adalah perempuan berdarah Karo. Namun merujuk dari silsilah keluarga ibunya, darah Batak Toba juga mengalir pada dirinya.
Ibunya bermarga Situngkir dan dari neneknya bermarga Simbolon.
Rina mengaku lahir di Desa Tigalingga Kabupaten Karo. Pendidikan SD hingga sekolah menengah ia selesaikan di Kabupaten itu sebelum melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian.
Rina berhasil menyelesaikan pendidikan Akpol dengan prestasi yang cukup memuaskan pada 2005.
Sejak bertugas di Lembaga Polri, Rina banyak terlibat dalam satuan interpol menangani kejahatan lintas negara. Ia pun cukup lama bertugas di Divisi Internasional Mabes Polri, sebelum dipindahkan sebagai Satlantas Deli Serdang dan kemudian sebagai Kapolres Samosir sejak Januari 2026.
Impian bertugas sebagai polisi di wilayah Danau Toba adalah mimpinya sejak kecil. Ia masih ingat, ibunya pernah meminta ia untuk menjadi Kapolres di Kawasan pinggir Danau Toba karena kawasan itu sangat dekat dengan kehidupan mereka.
“Dulu waktu kecil, kami sering liburan ke Paropo, bantuin opung ke ladang, mandi-mando di Danau, ambil makan mangga. Kadang, aku main ke Silalahi, bantuin tante jaga apoteknya. Danau Toba bagi aku sudah tidak asing lagi, makanya opung pernah bilang sama aku, "kalau bisa jadi Kapolres lah di kampung kita ya, nang” kenang Rina dalam Instagram storynya @rintar2005.
Tadinya ia sempat berharap bakal mendapat tugas sebagai Kapolres di Dairi yang juga tidak jauh dari kampung halamannya. Tapi harapan itu tidak terkabul.
“Posisi Kapolres di sana sudah diisi sama junior, akhirnya Tuhan membawa aku ke Samosir ini,” cerita Rina dalam Instagram storynya @rintar2005.
Terlibat dalam Film Autopsy: Dead Body can Talk
Saat masih bertugas sebagai anggota Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri, Rina dikenal sosok yang suka bergaul. Ia juga kreatif dalam melahirkan ide-ide tentang program Polri.
Salah satu gagasannya yang cukup terkenal adalah ketika menginisiasi produk film Outopsy: Dead Body Can Talk. Film ini merujuk pada kisah nyata tentang pengalaman dokter forensic Polri yang cukup fenomenal, yakni Brigjen Polisi Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F. dalam menangani sejumlah mayat korban kejahatan.
Ada berbagai kejadian supranatural dan horror yang dialami Sumy dalam menangani mayat-mayat itu. Kisah itulah yang diangkat dalam film Autopsy: Dead Body Can Talk. Film ini digarap secara professional oleh Mabes Polri bekerjasama dengan produksi film yang berpengalaman.
Film Autopsy:
Dead Body Can Talk telah diluncurkan pada
Oktober 2025 dengan menampilkan sejumlah bintang ternama, seperti Masayu Anastasia yang berperan sebagai Dr.
Sumy Hastry, Samuel Rizal, Ge Pamungkas, Rifnu dan Bintang lainnya. 
Sosok Rina Tarigan dalam film Autopsy: Dead Body Can Talk yang akan tayang perdana 3 September 2026 (foto @rintar2025)
Adapun AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan lebih banyak terlibat dalam mendukung proses produksi. Tapi ia juga mendapat peran sebagai seorang reserse bernama Srikandi. Film ini rencananya akan tayang perdana pada 3 September 2026.
Sebagai Kapolres gaul, Rina cukup aktif mempromosikan film itu di instagramnya. Tak lupa ia mengajak warga Samosir untuk menonton film tersebut di bioskop secara gratis. Namun karena di Samosir tidak ada gedung bioskop, Rina mengajak warganya untuk berbondong-bondong menonton di Pematangsiantar.
“Kabar baik buat masyarakat Samosir, tim sponsor dr Jakarta memberikan kesempatan nonton gratis buat kita nonton film Autosy pada 03 September 2026. Karena Samosir belum ada bioskop, kita ke Siantar lah ya we…. Tenang kelen, transportasi akan aku usahakan juga minta dari mereka. Kita meski nyebrang dulu ke Pulau Sumatera dan butuh waktu 2 jam sampe ke bioskop di Siantar,” tulisnya.
Namun Rina menegaskan, nonton gratis itu hanya berlaku untuk warga Samosir, bagi warga di luar Samosir, silahkan menonton dengan membeli tiket.
“ Ingat ya, hanya berlaku buat masyarakat Samosir ya. Kan aku Kapolres Samosir. Sampai ketemu di bioskop ya, wei… Kelen tengok dulu aktingku, Kapolres kelen ini,” ujarnya bercanda.
Begitulah sosok Rina. Dalam keseharian ia sangat ramah dan mudah bergaul, tapi dalam penegakan hukum ia cukup tegas. Sampai-sampai anak buahnya sendiri harus mendapat hukuman berat karena terlibat dalam kasus narkoba.
Ia pun selalu menekankan pasukannya agar senantiasa menjaga kedamaian Kawasan Samosir dan Danau Toba demi suksesnya progam parawisata di Sumatera Utara. ***
