-->

Mengejutkan, Ada Wanita Kaya di Medan Korban Love Scamming Hingga Bablas Rp120 Miliar..!

Sebarkan:
Pelaku Love scamming yang berhasil ditangkap polisi. Mereka beroporasi di berbagai tempat di Indoesia, selain di Medan, juga di Batam, Semarang, Bali dan Riau.

Kasus love scamming atau iming-iming asmara melalui media online kini menyasar banyak orang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  membeberkan, kasus love scam terbesar yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu justru terjadi di Kota Medan. Korbannya adalah seorang akuntan publik. Wanita itu mengaku telah mengalami kerugian hingga Rp120 miliar. Angka yang sangat fantastis..!

Kasus ini telah diadukan ke Polda Sumut dan OJK. Namun sampai saat ini aparat keamanan masih kerahasiakan identitas korban. 

Melihat tangka kerugian yang mencuat di kasus itu, bisa jadi ini merupakan salah satu kasus love scamming yang terbesar di Indonesia, bahkan di dunia.

Adalah Direktur  Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (PASTI) Brigjen Djoko Prihadi yang mengungkap kasus ini dalam seminar  dengan topik Memperkuat pertahanan melawan Penipuan dengan iming-iming Cinta atau Strengthening Defenses Against Scams, di Jakarta, Senin (6/7/2026).

"Kasus yang paling besar itu dialami satu orang korban yang mengalami kerugian Rp 120 miliar. Prosesnya berlangsung selama 4 bulan. Korbannya ada di Medan," ujar Djoko di depan para peserta.

Beberapa peserta mencoba bertanya identitas korban, tapi Joko tetap merahasiakannya. 

Ia hanya mengatakan, korban seorang wanita yang berprofesi sebagai akuntan public. Sedangkan pemuda yang menjadi pelakunya mengaku warga Singapura, seorang pengusaha yang ingin berinvestasi di Indonesia.

“Kasusnya masih ditelusuri karena melibatkan jaringan love scam internasional,” katanya.

Kasus Love Scamming bisa terjadi secara kebetulan. Pelaku umumnya menyasar orang-orang tertentu yang mereka yakin memiliki kekayaan. Hebat lagi, pelaku seakan sudah tahu korban yang akan mereka sasar. Entah dari mana pelaku bisa mendapatkan identitas korban.

Mereka terkadang menelpon dengan pura-pura salah kontak. Cara komunikasi pelaku love scam in sangat manis, ramah, sopan dan begitu menarik. Tak heran jika korban yang salah kontak juga bisa tertarik.

Kasus yang terjadi di Medan berawal dari salah sambung itu. Karena tutur kata si lelaki sangat sopan, si wanita mulai tertarik. Bermula dari komunikasi biasa, mereka akhirnya semakin akrab.  

 Komunikasi yang  bermula salah sambung berkembang menjadi persahabatan yang akrab melalui jaringan telepon.

Terkadang si lelaki melakukan video call. Kalau kondisinya seperti itu, bisa jadi pelaku menggunakan teknologi artificial intelijent (AI) sehingga ia bisa menampilan profil seorang pemuda yang ganteng, wajah yang bersih, dengan turut kata yang sangat menarik.

Brigjen Djoko Prihadi menjelaskan lagi, pelaku love scam  umumnya tidak langsung meminta uang. Mereka terlebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan korban hingga tercipta rasa percaya yang kuat. 

"Dalam kasus Medan, persahabatan dan komunikasi mereka telah berjalan selama empat bulan," ujarnya.

Setelah akrab, mulailah komunikasi berkembang ke arah membangun rumah tangga masa depan, kerja sama bisnis, dan kerjasama investasi. 

Dengan komunikasi yang halus, pelaku mulai menggali data-data korban, termasuk alamat, usaha, rekening bank dan sebagainya. Janji-janji manis pun bergentayangan. Cara berkomunikasinya sangat menarik sehingga korban mau menjelaskan apa yang diinginkan pelaku.

Bahkan dengan mudahnya pelaku bisa meminta korban untuk mentransfer uang dalam jumlah tertentu. Dari semua iming-iming itu, akhirnya perlahan-lahan korban terus dikuras hingga mengalami kerugian. 

 

Beberapa tersangka love scamming yang ditangkap Polda Sumut di Medan
Dalam kasus love scamming yang terjadi di Medan, ada puluhan kali transfer berlangsung hingga akhirnya korban mengalami kerugian sampai sebanyak itu. 

Brigjen Djoko Prihadi menegaskan, kasus love scamming yang terjadi di Medan merupakan kasus terbesar yang pernah ditangani Satgas PASTI yang berada di bawah koordinasi OJK.

“Ada beberapa korban yang sudah mengadu, tidak hanya akuntan public itu. Ada juga dari profesi lain, seperti dokter,  notaris dan lainnya,” kata Brigjen Djoko Prihadi. 

Anehnya lagi, korban sama sekali tidak pernah bertemu langsung dengan pelaku. Mereka hanya berkomunikasi lewat jaringan online.

Hasil penelitian Satgas PASTI, kasus yang melanda akuntan public di Medan dilakukan oleh pelaku yang sebenarnya juga berada di Medan. Hanya saja pelaku kerap mengaku berada di Singapura.

“Pelakunya sebenarnya ada di Medan, korbannya juga di Medan,” kata Djoko.

Dalam kasus Love scamming ini,  Djoko menjelaskan, sebagian besar korban selalu menyadari bahwa mereka telah ditipu setelah beberapa bulan menjalin hubungan. Akibat keterlambatan pelaporan ini, upaya penelusuran aliran dana menjadi jauh lebih sulit.

"Korban biasanya baru melapor sekitar tiga hingga empat bulan kemudian. Saat itu, money trail (rekam jejak keuangan) sudah sulit ditelusuri karena dananya sudah berpindah tangan atau habis," katanya.

Djoko juga menyebutkan bahwa asal server maupun sistem pembayaran yang digunakan pelaku kerap sulit diidentifikasi karena memanfaatkan teknologi yang semakin canggih. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan berat dalam proses pelacakan aset hasil kejahatan siber ini.

Operasi Polda Sumut 

Polda Sumut dan OJK telah berupaya membongkar kasus love scammning ini dengan menggunakan teknologi cyber dan tim IT yang canggih. Hasilnya, Polda Sumut berhasil membongkar pusat jaringan love scamming yang berada di sebuah rumah toko (ruko) di komplek Central Bisnis Districk (CBD) Polonia Medan. Penggerebekan di komplek itu  dilakukan pada Selasa, 23 Juni 2026.

Awalnya Polda Sumut merahasiakan penggerebekan ini karena mau membongkar siapa saja yang bermain dalam kasus penipuan itu. Setelah semuanya terbongkar, akhirnya Senin 6 Juli lalu, Polda menyampaikan ke public hasil operasi tersebut.

Ternyata kegiatan love scamming yang terbongkar itu melibatkan orang asing. Polda setidaknya telah mengamankan  tujuh warga negara asing (WNA) dan 31 warga negara Indonesia (WNI) yang diduga terlibat sindikat tersebut. 

Ketujuh WNA yang ditangkap terdiri dari enam pria WNA asal Cina dan perempuan asal Vietnam.

Penggerebekan di Ruko CDB itu juga melibatkan Tim dari  Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Sumatera Utara.

"Saat penggerebekan, aktivitas penipuan daring sedang berlangsung. Petugas menangkap satu WNA yang bertindak sebagai koordinator dan 31 WNI sebagai pekerja," kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Sumatera Utara, Parlindungan kepada wartawan di Medan.

Belakangan terungkap, kegiatan Love scamming itu tidak hanya dilakukan di satu tempat, ada beberapa Kawasan lain di Medan yang menjadi markas mereka, antara lain, di Kawasan Royal Sumatera, Hotel Golden Eleven, Kawasan Padang Bulan dan lainnya. 

Jaringan komputer dan peralatan IT yang digunakan dalam operasi love scamming
Dalam operasi itu, Petugas menyita barang bukti elektronik berupa 120 unit ponsel, 55 unit komputer, 7 laptop, 48 keyboard, 7 dokumen perjalanan yang masih berlaku, serta puluhan perangkat keras pendukung lainnya.

Dari pemeriksaan sementara, korban love scamming itu tidak hanya warga Indonesia, tapi juga warga China, Vietnam dan Jepang.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus TPI Medan, Uray Avian menuturkan bahwa penanganan perkara itu masih dikembangkan untuk melacak keberadaan orang asing lainnya yang diduga terlibat. Jaringan love scamming itu dipastikan tidak dilakukan dari markas mereka di Medan, tapi juga di kota besar lainnya, seperti Batam, Jakarta, Denpasar dan lainnya. 

Polda Sumut juga masih terus mencari tahu kemungkinan pelaku yang ditangkap terlibat dalam penipuan seorang wanita akuntan public warga Medan yang mengaku tertipu hingga Rp120 miliar.

Pengusutan harus teliti, karena kasus kejahatan seperti ini tergolong sangat elit dan tingkat tinggi. Jejaring pelaku sangat luas, apalagi mereka menggunakan teknologi yang canggih. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini