![]() |
| Sosok Ustazah Hajar yang ternyata bukan manusia nyata |
Kalau Anda sering brower Tiktok atau Instagram, barangkali wajah uztazah ini kerap muncul berseliweran di beranda. Namanya Ustazah Hajar. Wajahnya cantik, bersih dan sangat menarik. Tutur katanya santun. Ia kerap menyampaikan pesan-pesan agama yang sangat nyaman dan menyejukkan. Followernya mencapai lebih dari 1 juta.
Tapi setelah diteliti lebih dalam, ternyata sosok ustazah ini bukanlah manusia. Ia hanyalah hasil karya artificial intelijent (AI) atau kecerdasan buatan. Seluruh karakter yang dilakoninya di media sosial juga merupakan rekayasan computer. Jadi jangan berharap ustazah Hajar bisa Anda temukan di dunia nyata.
Kehadiran ustazah computer ini langsung memicu perhatian publik sekaligus menjadi sorotan Kementerian Agama (Kemenag).
Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi (HDI) Kementerian Agama, Thobib Al-Asyhar, menilai kemunculan pendakwah berbasis AI menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital kini mulai merambah ruang-ruang dakwah.
Menurutnya, teknologi AI memang memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai informasi keagamaan. Namun, informasi yang disampaikan AI tidak boleh diterima begitu saja tanpa proses verifikasi kepada pihak yang memiliki otoritas keilmuan.
"AI memang memudahkan akses informasi, tetapi karena bekerja berdasarkan algoritma dan data digital, setiap informasi yang disampaikan tetap perlu disikapi secara kritis dan ditabayunkan kepada ahlinya," kata Thobib saat dikonfirmasi, Rabu (1/7/2026).
Mengapa AI Tidak Bisa Menggantikan Peran Mubaligh?
Thobib menjelaskan, dalam tradisi Islam seorang mubaligh atau penceramah tidak hanya bertugas menyampaikan informasi agama, tetapi juga mengemban tugas profetik atau kenabian. Peran tersebut menuntut penguasaan ilmu agama yang diperoleh melalui proses belajar kepada para guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Karena itu, dakwah tidak hanya berbicara mengenai benar atau salahnya suatu informasi berdasarkan data. Lebih dari itu, dakwah membutuhkan keteladanan, pemahaman agama yang mendalam, serta tanggung jawab moral yang tidak dimiliki oleh teknologi kecerdasan buatan.
"AI tidak memiliki proses internalisasi ilmu maupun otoritas moral, sehingga berpotensi menghasilkan kekeliruan jika dijadikan satu-satunya rujukan," ujarnya.
Atas dasar itu, Kementerian Agama mengingatkan masyarakat agar menempatkan AI hanya sebagai alat bantu dalam memperoleh informasi keagamaan, bukan sebagai pengganti ulama, kiai, ustaz, maupun ustazah.
Menurut Thobib, proses belajar agama yang utuh tetap membutuhkan bimbingan langsung dari para guru yang memiliki rekam jejak keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru atau mubaligh," katanya.
Ia menegaskan, umat Islam tetap perlu belajar kepada ulama atau pendakwah yang memiliki otoritas dan sanad keilmuan agar memperoleh pemahaman agama yang benar.
"Belajar agama tetap memerlukan bimbingan ulama, kiai, atau ustazah yang memiliki otoritas dan sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, agar umat memperoleh pemahaman yang benar dan tidak mudah tersesat," ujarnya.
Punya 1 Juta Pengikut
Fenomena Ustazah Hajar sendiri bermula dari akun TikTok @nia.hajar_s yang ramai diperbincangkan warganet. Banyak pengguna media sosial sempat mengira sosok tersebut merupakan manusia asli karena tampil dengan visual dan suara yang sangat realistis.
Belakangan diketahui bahwa seluruh karakter Ustazah Hajar merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau AI.
Meski demikian, akun tersebut telah memiliki sekitar 1 juta pengikut dan mengumpulkan lebih dari 12 juta tanda suka (likes), menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap konten dakwah berbasis teknologi. ***
