![]() |
| Novia Rahmadhani Sihotang, 25 tahun, asal Padangsidempuan yang merupakan korban ketiga meninggal saat pelatihan calon manager Koperasi Merah Putih |
Dengan demikian sudah tiga calon manajer Kopdes Merah Putih yang meninggal selama mengikuti latihan militer itu. Dua korban sebelumnya adalah Anisa Maisyassaroh berasal dari Jawa Timur, dan Yonanda Muhammad Taufiq dari Sumatera Barat yang meninggal secara berurutan pada pertengahan Juni lalu saat mengikuti pendidikan di lokasi berbeda.
Anisa meninggal akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, sedangkan Yonanda Muhammad Taufiq meninggal saat mengikuti pelatihan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad, Baturaja.
Adapun Novia Sihotang meninggal ketika mengikuti latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) di Jakarta pada 23 Juni 2026. Sebelumnya Novia sempat dilarikan ke rumah sakit TNI-AU terdekat, tapi ia tidak bisa ditolong lagi.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dilansir Antara, Rabu (24/6/2026) mengatakan, Novia meninggal akibat penyakit tuberkulosis yang dideritanya.
“Kami sangat berduka atas meninggalnya Novia. Berarti sudah tiga calon manager Kopdes Merah putih yang meninggal saat mengikuti Latihan,” kata Rico. Ketiganya meninggal saat mereka mengikuti program, Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang nantinya ditempatkan sebagai manager koperasi Merah Putih.
Pemerintah memang membuat aturan bahwa semua calon manajer Koperasi Desa Kelurahan/Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) wajib mengikuti pelatihan militer di sejumlah tempat yang ditentukan. Usai mengikuti Pendidikan itu, barulah mereka bisa bekerja di koperasi yang sudah ditentukan.
Tercatat sebanyak 35.476 peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dari seluruh Indonesia yang mengikuti Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) atau Komponen Cadangan (Komcad) id berbagai daerah. Peserta tersebut terdiri dari sekitar 30.000 calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Selama mengikuti pelatihan, seluruh peserta dididik dengan pola militer. Fisik mereka dipacu untuk bisa mengikuiti berbagai latihan yang diberikan. Tidak jelas apa hubungan latihan militer itu dengan pekerjaan yang akan mereka tangani. Yang pasti, latihan itu cukup menguras tenaga para peserta.
Sebelum mengikuti pelatihan tersebut, menurut Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, para peserta sudah menjalani tes kesehatan. Pihaknya juga telah melakukan penanganan medis sesuai dengan standar yang berlaku kepada peserta yang mengalami sakit di tengah masa pendidikan.
Namun faktanya, ada saja peserta yang tidak sanggup menghadapi pelatihan itu. Makanya, berbagai organisasi masyarakat meminta pelatihan ala militer itu dihentikan. Mereka beralasan tidak ada kaitan antara militer dengan tugas yang akan dijalani para calon manajer itu.
Organisasi Gerakan Rakyat termasuk salah satu yang memprotes pelatihan militer itu. Mereka melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan rekrutmen di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto karena menganggap profesi manager identik dengan latihan militer.”
“Seharusnya pelatihan ala militer itu dihentikan saja. Semestinya tidak boleh ada nyawa yang melayang akibat metode pelatihan yang tidak sesuai dengan tujuan program,” kata Juru Bicara Gerakan Rakyat, Sarifadilah Aziz.
Gerakan Rakyat menilai metode pelatihan semi militer kepada rekrutmen sipil bertentangan dengan kebutuhan dasar di lapangan. Menurut Aziz, tata kelola koperasi dan pengembangan kampung nelayan membutuhkan pendekatan ekonomi serta manajerial, bukan ketangkasan fisik militer.
“Kami berpandangan bahwa untuk membangun koperasi dan usaha kampung nelayan yang dibutuhkan adalah pendidikan kepemimpinan, manajemen, kewirausahaan dan tata kelola penguatan ekonomi rakyat. Jika memang ada pelatihan kedisiplinan, pelaksanaannya harus proposional, mengutamakan keselamatan, serta di sesuaikan dengan kondisi peserta,” ucap Aziz.
Tidak kalah tajamnya, anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal meminta kementerian dan lembaga terkait meninjau kembali standar materi Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) itu.
Syamsu juga menyebut kalau Komisi I DPR telah memberikan catatan khusus kepada pihak penyelenggara agar memperketat standar pelaksanaan dan mengevaluasi porsi latihan kemiliteran bagi para peserta sipil.
![]() |
| Latihan untuk Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia |
Profil Novia Rahmadhani Sihotang
Korban ketiga yang meninggal, Novia Rahmadhani Sihotang merupakan calon Manajer Koperasi Merah Putih yang akan ditempatkan bertugas di Kota Padangsidimpuan. Ia lulusan dari Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.
Novia yang merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Ia berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan dan latihan program SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan) sebagai syarat untuk menjabat sebagai manager program KDKMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih) dan KNMP (Koperasi Nelayan Merah Putih.
Novia berangkat ke Jakarta pada 13 Juni 2026 dan rencananya selama satu bulan di sana.
Orang tua Novia, Syawaluddin Sihotang mengatakan, saat putrinya berangkat, semua dalam kondisi sehat. Dan hari sebelum mendapat kabar buruk itu, Novia masih berkomunikasi dengan keluarga.
"Dia sempat bertelepon dengan keluarga. Dan kami tidak menyangka dapat kabar duka ini," kata Syawal.
Jenazah tiba di rumah duka di Padangsidempuan pada Kamis (25/6/2026 dan langsung dimakamkan. Ratusan sanak saudara dan tetangga mengantarkan kepergian wanita periang ini ke tempat peristirahatan terakhir. ***

