![]() |
| Aksi massa pro MBG diorganisir politisi dan pengusaha yang mendapat proyek pengelolaan dapur MBG |
Sampai akhirnya muncul beberapa sosok dari peserta aksi itu yang mulai berani bersuara. Mereka akhirnya mengakui kalau memang diajak untuk meramaikan aksi itu, dan bakal mendapat uang dari pihak yang mengorganisir aksi.
Desy dan Yuyun, warga Pisangan Timur Jakarta Timur yang ikut dalam aksi pro MBG mengaku diajak ikut unjukrasa karena diberi uang Rp100 ribu dan hadiah berupa sebuah wajan baru. Dengan rayuan itu, kedua ibu rumah tangga itu ikut turun ke jalan menyuarakan agar program MBG tetap dijalankan.
Kehadiran massa bayaran dalam aksi pro MBG ini tidak hanya di Jakarta, tapi juga di kota besar lainnya, termasuk di Medan, Surabaya, Semarang, Palembang dan lainnya. Kehadiran mereka adalah untuk melawan aksi anti MGB yang digerakkan mahasiswa dan kelompok pro demokrasi.
Massa bayaran pro MBG dirancang melakukan aksi yang sedikit dramatik, yakni menggelar unjukrasa di depan DPRD sambil membawa wajan (periuk) yang diangkat di atas kepala. Seolah wajan itu adalah symbol aktivitas dapur yang harus dilanjutkan. Sebagian peserta aksi adalah kelompok perempuan.
Wajan yang dibawa peserta aksi itu semuanya masih baru. Tidak ada yang bekas pakai. Wajan itu nantinya menjadi hadiah yang dibawa para peserta ke rumah masing-masing. Selain itu, ada pula uang Rp100 ribu per peserta dari pihak yang mengorganisir aksi.
Sebagaimana diungkap Tribun.com, Desy dan Yuyun tentu saja sangat senang dengan hadiah itu.
“Lumayanlah, selain dapat uang, bisa dapat wajan baru. Modal cuma berpanas-panas dikit, nggak apalah,” kata Desy.
Bagi Desy dan Yuyun, ini adalah aksi pertama mereka turun ke jalan raya, karena kebetulan inisiator aksi mereka kenal dengan baik. Mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan program MBG karena tidak tahu banyak tahu mengenal masalah itu. Bagi mereka, yang penting dapat imbalan.
Sampai Senin (22/6/2026) aksi unjukrasa pro dan kontra terhadap MBG masih terjadi di berbagai kota. Di Medan, puluhan mahasiwa melakukan aksi sambil bakar ban di depan Kodim 0201/Medan, Jalan Pengadilan Medan, Rabu (17/6/2025).
Selain menuntut penghentian program MBG, mereka juga membentangkan spanduk berisi gulingkan rezim Prabowo dan Gibran.
Gelombang aksi demo mahasiswa di berbagai daerah itu berawal aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang turun ke jalan pada Jumat (12/6/2026) lalu. Massa mahasiswa yang dijadwalkan demo di Bundaran HI, Jakarta Pusat, dicegat aparat di sejumlah titik.
Tak cuma aparat kepolisian, pasukan TNI Angkatan Darat turut melakukan blokade terhadap massa mahasiswa.
Momentum itu menjalar ke berbagai daerah. Demonstrasi mahasiswa bergulir setiap hari di berbagai daerah.
Sementara aksi pro MBG lebih banyak diikuti para pekerja SPPG dan peserta aksi bayaran. Para anggota SPPG diwajibkan ikut aksi karena program ini menyangkut pekerjaan mereka. Jika program MBG dihentikan, tentu pekerja SPPG itu akan kehilangan pekerjaan.
Oleh karena itu, pengusaha yang ikut mengelola dapur MBG mewajibkan anggotanya untuk ikut melakukan aksi menuntut program itu dilanjutkan. Namun karena mereka butuh peserta aksi yang lebih banyak, sehingga sejumlah peserta aksi bayaran diajak bergabung.
Berbeda dengan aksi mahasiswa anti MBG yang murni bersuara untuk kepentingan bangsa, massa pro MBG bersuara untuk kepentingan bisnis. Sejumlah anggota DPRD, pengurus partai, lembaga TNI/Polri, berbagai Yayasan dan kalangan pengusaha berada di belakang aksi pro MBG ini karena kelompok inilah yang mendapat proyek sebagai pengelola dapur.
Mereka sudah menghabiskan uang minimal Rp1,5 milar untuk satu pembangunan dapur dan rekrutmen pekerja, sehingga akan sangat rugi kalau program itu dihentikan.
Presiden Prabowo juga tidak mau proyek MBG dihentikan karena hal itu akan membuatnya malu. MBG adalah salah satu program prioritas Prabowo-Gibran.
Akhirnya terjadilah pro kontra di lapangan. Aksi pro dan anti MBG tampaknya akan terus menggelinding sampai beberapa hari ke depan karena kedua pihak ngotot mempertahankan pendapatnya. Sementara dalam beberapa dialog, pihak Pemerintah yang pro MBG justru kerap terpojok. Apalagi isu korupsi sangat kental di dalam proyek itu.
Apa boleh buat, para pekerja dapur dan massa bayaran pun dikerahkan untuk ikut melakukan aksi. Mereka inilah yang dipaksa bersuara atas nama masyarakat. Padahal di belakang mereka, ada politisi, pengusaha dan pejabat negara yang ketakutan rugi akibat kehilangan proyek. ***
