-->

Membongkar Borok BEM Bersatu, Kumpulan Mahasiswa Bayaran yang Membela Program MBG

Sebarkan:
anggota BEM Bersatu yang dibentuk untuk merusak gerakan mahasiswa di berbagai daerah. 

Sikap kritis Tiyo Ardianto, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM yang aktif mengkritik program busuk Pemerintahan Prabowo- Gibran mulai mendapat tantangan dan perlawanan. Selain tantangan dalam bentuk intimidasi, Tiyo juga menghadapi perlawanan dari kelompok mahasiswa lain yang menuding gerakannya bukan murni untuk rakyat, tapi dibonceng kepentingan partai lain.

Sebagaimana diketahui, Tiyo adalah mahasiswa yang sangat tajam engkritik berbagai kebijakan Prabowo yang dianggap merusak system tata negara Indonesia. Misalnya, Tiyo mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbukti tidak bermanfaat. Bahkan ia pula yang pertama kali memopulerkan MBG sebagai 'Maling Berkedok Gizi’.

Tiyo juga mengkritisi kebijakan Prabowo yang mencoba menghidupkan kembali dwi fungsi ABRI sehingga dengan seenaknya menempatkan para pejabat TNI/Polri menduduki sejumlah jabatan sipil. 

Dalam pandangan Tiyo, perlahan tapi pasti, Prabowo ingin menjadikan pemerintahannya dikendalikan oleh TNI/Polri. Mirip seperti masa Pemerintahan Ordebaru di bawah kendali Soeharto. Kalau langkah ini dibiarkan, maka kesewenang-wenangan akan terus mewarnai negeri ini.

“Semua ini harus dihentikan. Malah bila perlu kita harus menurunkan Prabowo dari jabatan presiden. Rakyat Indonesia sudah salah pilih, oleh karena itu kesalahan itu jangan dibiarkan  berlarut. Prabowo-Gibran harus diturunkan,”tegas Tiyo dalam berbagai kesempatan.

Pernyataan Tiyo itu yang mendorong mencuatnya aksi mahasiswa di berbagai wilayah di tanah air. Meski belum seperti era reformasi 1998, namun gerakan mahasiswa yang mencuat di  berbagai daerah mengindikasikan adanya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Prabowo-Gibran.

Sampai pekan ini, aksi protes mahasiswa kepada Prabowo-Gibran masih berlangsung di berbagai daerah.

Di tengah gencarnya tuntutan agar Prabowo-Gibran mundur dari jabatannya, tiba-tiba muncul sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu. Mereka mengklaim merupakan gabungan BEM dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Pada Rabu (17/6/2026) lalu, sepuluh orang anggota BEM Bersatu ini menggelar konferensi pers di Jakarta  yang isinya menuding Tiyo Ardianto yang menurut mereka tidak bisa dipercaya. BEM Bersatu mengatakan kalau Tiyo melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintah karena ia  terafiliasi dengan kepentingan elit politik.

Juru bicara (jubir) BEM Bersatu, Rahmat Djimbula mengungkap bahwa Tiyo bahkan mendapat fasilitas mobil operasional dari seorang politisi dari partai besar. Meski tidak menyebut nama partai itu, namun tudingan Rahmad mengarah kepada PDI Perjuangan.

"Kami BEM Bersatu menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elit dalam perebutan kekuasaan," kata Rahmat Djimbula dilansir kajianberita.com dari youtube Kompas TV.

Rahmad lantas merinci, mobil Fortuner yang digunakan (Tiyo) diduga terdaftar atas nama Siti Nuraini, adik Letjen TNI Purn Setyo Sularso yang merupakan besan Jenderal TNI Andika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat dengan kehadiran politisi PDIP Andi Wiwayanto di tengah massa aksi mahasiswa di Jakarta.

Atas dasar itu, Rahmad menilai bahwa PDIP ada di belakang Tiyo, sehingga sikap kritis yang disampaikan Tiyo selama ini bukan sikap murni kepentingan rakyat, tapi kepentingan partai.

Tiyo sendiri sudah membantah semua tudingan itu. Ia mengatakan,  mobil Fortuner yang digunakannya merupakan kendaraan yang dipinjam dari saudaranya sendiri. 

Keputusan untuk meminjam mobil dilakukan setelah dirinya terus-menerus menerima berbagai bentuk teror yang intensitasnya semakin meningkat, terutama sejak aktivis hak asasi manusia (HAM), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras pada Maret 2026 lalu.

"Disebut kok mahasiswa udah naik mobil mewah? Karena kebetulan itu memang Fortuner. Itu adalah mobil yang dipinjamkan kepada saya sejak saya mengalami berbagai teror, terutama sejak Andrie Yunus disiram air keras. Mobil itu oleh saudara saya," jelas Tiyo Ardianto.

Ia menekankan bahwa dirinya menggunakan mobil Fortuner hanya karena saudaranya kebetulan memiliki tipe kendaraan tersebut. Tiyo juga mengaku sebenarnya mudah bagi dirinya untuk mencari pinjaman mobil ke pihak lain, namun ia menegaskan tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan pihak-pihak luar tersebut.

Pihak PDIP juga membantah adanya kaitan Tiyo dengan partai mereka.  Politikus PDIP, Guntur Romli menyebut bahwa Tiyo dan PDIP sama sekali tidak pernah bersatu dalam gerakan. Hanya barangkali satu visi dalam melihat kelemahan program pemerintah, sehingga perlu diperbaiki.

“Adapun mobil yang dipakai Tiyo sama sekali tidak ada kaitanya dengan PDIP. Tuduhan dari BEM Bersatu itu hanyalah sebuah bentuk cocoklogi semata,” kata Guntur Romli.

Siapa anggota BEM Bersatu

Yang justru menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, siapa itu BEM Bersatu, dan dari mana saja anggotanya. 

Pertanyaan ini muncul, sebab beberapa anggota BEM Bersatu itu mengaku mahasiswa di berbagai perguruan tinggi swasta di Jakarta dan Jawa, tapi belakangan kampus yang mereka klaim justru membantah.

Adapun 10 anggota BEM Bersatu itu, adalah:

  •     Ketua BEM Fakultas Hukum UNISIA: Wildan Ricky
  •     BEM Fakultas Hukum UIJ: Muhammad Yani
  •     Ketua BEM FISIP UNAS: Ardi Zulkifly
  •     Ketua BEM Institut Al Aqidah: Ardiansyah
  •     BEM Psikologi UNJ: Ahmad Ghazy
  •     Ketua BEM FEB UNPAM: Alfi
  •     Ketua BEM Hukum UIC (Jubir BEM Bersatu): Rahmat Djimbula
  •     BEM F.IPS Unindra: Dicky
  •     BEM Fakultas Teknik Universitas BSI: Ahmad
  •     BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Managemen Administrasi Institut STIAMI: Rezky Anandar

Setelah terungkapnya identitas para mahasiswa ini, belakangan muncul protes dari sejumlah kampus yang namanya dibawa dalam daftar itu. kampus itu menegaskan  bahwa nama yang tercatat sebagai anggota BEM Bersatu itu sama sekali bukan perwakilan dari kampus. Malah ada yang tidak lagi berstatus mahasiswa. 

Misalnya, Ahmad Ghazy yang disebut sebagai anggota BEM Bersatu perwakilan dari kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tapi pihak UNJ tegas membantah klaim tersebut. 

BEM UJN menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengirimkan wakil mahasiswa untuk bergabung dalam organisasi BEM Bersatu.

Nama Ahmad Ghazy memang tercatat pernah kuliah di Fakultas Psikologi UNJ, namun ia sudah tamat pada 2024, sehingga tidak lagi tercatat sebagai mahasiswa di kampus itu.

Kasus yang sama juga terjadi pada sosok Alfi yang mengaku sebagai perwakilan dari BEM Universitas Pamulang. Namun pihak kampus Universitas Pamulang (Unpam) menyebut kalau nama Alfi sama sekali tidak tercatat dalam kepengurusan BEM di kampus itu. 

Unpam juga menegaskan bahwa kampus itu tidak memiliki BEM, melainkan  cuma himpunan mahasiswa di setiap fakultas.

Tak heran jika para aktivis Unpam mempertanyakan sosok Alfi. Sosok ini sama sekali tidak pernah tampil di kampus, tapi tiba-tiba muncul namanya sebagai perwakilan Unpam di BEM Bersatu.

“Ini sangat misterius. Kami yakin dia mahasiswa bodoh yang diperalat saja sehingga membawa-bawa kampus dan BEM Unpam. Kami tegaskan bahwa Unpam tidak mempunyai BEM dan beliau atas nama Alfi berkhianat dan menyatakan sikap mendukung program MBG,” demikian penjelasan pengurus mahasiswa Unpam kepada media.

Ada pula sosok Rezky Anandar yang disebut sebagai perwakilan dari BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Managemen Administrasi, Institut STIAMI. Sama seperti Unpam, pihak kampus STIAMI menegaskan  bahwa di kampusnya tidak ada organisasi bernama BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Managemen Administrasi Institut STIAMI.

Terakhir, ada nama Ahmad, yang mengaku wakil BEM FTI UBSI. Belakangan kampus yang dimaksud juga mengklarifikasi kalau mereka tidak pernah  mengirimkan perwakilan ke aliansi tersebut.

Bantahan dari para kampus itu semakin menguatkan fakta bahwa BEM Bersatu adalah kumpulan mahasiswa pengkhianat yang bergerak atas pesanan penguasa. Mereka adalah mahasiswa bayaran yang berjuang untuk mempertahankan program MBG sebagai kepentingan dari Pemerintahan Prabowo.

Dengan kata lain, BEM Bersatu diisi sekumpulan mahasiswa biadab yang dibentuk untuk membela penguasa dari serangan kelompok mahasiswa kritis. Mereka ini bahkan mendapat bantuan anggaran dari elit tertentu sehingga punya akses untuk melakukan propaganda media.

Untuk melawan gerakan mahasiswa murni, BEM Bersatu dikabarka bakal melebarkan sayapnya di berbagai daerah. Tidak sulit bagi mereka untuk bergerak cepat, sebab anggaran BEM Bersatu cukup besar. Mereka juga berani malu meski jelas-jelas gerakan mereka adalah pesanan penguasa.

BEM Bersatu adalah gambaran kelompok mahasiswa yang tidak cerdas dalam melihat realitas yang ada di masyarakat. Selain  bodoh dan hanya diperalat, kelompok mahasiswa ini jadi alat untuk menyerang mahasiswa lain.

Rakyat harus cerdas melihat arah gerakan mahasiswa yang satu ini. Mereka adalah kelompok mahasiswa busuk yang tegas mengkhianati hati nurani rakyat. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini