di
![]() |
| Bobby Nasution di tengah massa peserta unjukrasa pro MBG yang melakukan aksi di halaman kantor gubernur Jumat (19/6/2026) |
Massa yang terlibat aksi ini merupakan gabungan antara pekerja dapur MBG dan juga massa bayaran.
Di mana aksi mahasiswa marak, di situ pula muncul aksi tandingan pro MBG. Salah satunya terjadi di Medan, ketika ratusan massa pro MBG melakukan aksi di halaman Kantor gubernur Sumut untuk meminta agar program makan gratis itu tetap dilanjutkan.
Aksi massa itu berlangsung pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 15.00 wib. Bagaikan gayung bersambut, Gubernur Bobby Nasution langsung turun melayani massa pro penguasa itu. Bobby dan juga peserta aksi sama-sama sepakat bahwa program MBG bermanfaat untuk masa depan bangsa.
"Saya mau ngasih satu contoh yang hari ini bagaimana peran MBG itu bagi anak-anak kita memang sangat dibutuhkan. Kita hari ini sedang melakukan ujian masuk sekolah, salah satunya kriteria orang tua milih sekolah untuk anak-anaknya sekolah yang sudah ada MBG nya," kata Bobby Nasution kepada pendemo.
Menurutnya, program MBG mendapatkan respon positif bagi masyarakat yang menerima manfaat. Bobby mengaku, sering meminta pendapat masyarakat di daerah atas program unggulan pemerintah Prabowo Subianto itu.
"Saya kalau ke daerah sering menanyakan bagaimana respons anak-anak kita, orang tua, yang mendapatkan manfaat secara langsung, responsnya positif," jelasnya.
Bobby menilai, program MBG layak untuk dilanjutkan. Meski demikian, mesti ada perbaikan tata kelola agar program bisa berjalan lebih baik.
"Kita sepakat semua mungkin kalau ada perlu perbaikan iya, perlu ada penyempurnaan iya, tapi jangan mengorbankan kebutuhan dan keperluan anak-anak yang sudah dirasakan selama ini," tuturnya.
Tidak mengherankan kalau Bobby mendukung program MBG ini, sebab masa depan politiknya sangat bergantung kepada keputusan Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Partai Gerindra.
Sampai saat ini Bobby adalah kader Gerindra. Ia sangat berharap Gerindra akan mendukungnya kembali maju sebagai calon gubernur pada Pilkada mendatang. Hanya Prabowo yang menjadi harapannya, sebab Bobby tidak lagi bisa berharap dari mertuanya, Joko Widodo yang sudah pensiun.
Tanpa dukungan elit itu, jelas Bobby tidak akan berdaya. Semua orang tahu, ia adalah gubernur titipan pusat, bukan gubernur dari arus bawah.
Makanya tak heran jika Bobby sangat mendukung apapun kebijakan yang dilakukan Prabowo. Ketika mahasiswa dan pro demokrasi bersatu menentang program itu, Bobby sama sekali tidak mau melayani mereka. Sebalik nya, ketika aksi pro MBG hadir, Bobby menyambut mereka dengan suka cita.
Adapun massa peserta aksi pro MBG itu sebagian merupakan pekerja dapur yang mengaku kalau mereka sangat butuh pekerjaan sebab selama ini hidup menganggur. Dengan adanya program MBG, lapangan kerja jadi terbuka untuk mereka sehingga mereka lebih nyaman.
"Di balik MBG, ada jutaan masyarakat Indonesia yang membutuhkan lapangan kerja. Kalau tanpa MBG ini, jadinya kami kerja apa? sebut Walidan, salah seorang peserta aksi.
Oleh karena itu, Walidan Bersama rekan-rekannya meminta agar Gubernur Sumatera Utara menyampaikan dukungan program MBG kepada pemerintah pusat. Jangan sampai dihentikan.
Bukan hanya di Medan, aksi pro MBG juga marak di berbagai kota besar di Indonesia. Penggeraknya juga sama, pro penguasa. Selain melibatkan pekerja dapur dan tim satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sebagai peserta aksi, juga ada dari massa bayaran. Yang penting, mereka harus bersatu menyuarakan agar program MBG tetap dilanjutkan.
Seperti biasa, para kepala daerah dan pejabat terkait diminta untuk menerima delegasi pro MBG ini. Malah di Jakarta, aksi pro MBG diterima langsung oleh Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg), Juri Ardiantoro, secara langsung.
Alasan pejabat negara mendukung aksi ini, karena aspirasi yang disampaikan sejalan dengan keinginan pemerintah.
Berbeda dengan aksi mahasiswa dan pro demokrasi yang menuntut MBG dihentikan. Kelompok mahasiswa ngotot meminta MBG dihentikan karena program ini jadi sarang korupsi elit negara dan tidak bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam pandangan mahasiswa, masih ada banyak program lain yang lebih prioritas dan pantas untuk didahulukan ketimbang makan gratis yang menelan dana hingga Rp270 triliun per tahun.
Selain menggelar aksi pro MBG sebagai tandingan, penguasa sebenarnya sudah berupaya membentuk adanya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu yang diklaim sebagai gabungan BEM dari berbagai kampus di Indonesia. BEM Bersatu ini turut menyuarakan agar program MBG tetap dijalankan.
Tapi sangat disayangkan, kedok kelompok BEM Bersatu ini telah berbongkar di permukaan. Ternyata mereka adalah mahasiswa karbitan.
Anggotanya ada yang bukan lagi mahasiswa, ada mahasiswa non pengurus BEM dan ada mahasiswa yang memang dibayar untuk ikut demo. Akhirnya suara BEM Bersatu ini tenggelam, dan bahkan mereka dipermalukan.
Sekarang muncul lagi aksi pro MBG dalam bentuk lain yang massanya dari para pekerja dapur dan anggota SPPG. Ada pula di antara massa itu yang dibayar. Yang penting kompak mendukung program pemerintah dan mendukung keberlanjutan program MBG.
Aksi pro MBG ini sudah pasti akan disambut pejabat di tingkat pusat dan daerah, sementara aksi mahasiswa yang menuntut MBG dihentikan biasanya mereka hindari. ***
