-->

Aksi Jokowi Injak Kepala kerbau Dinilai Bentuk Seruan Perang Melawan PDIP, Puan Bereaksi

Sebarkan:
Foto Jokowi bersama pendukungnya di Lampung menginjak kepala kerbau

Baru saja melakukan safari politik perdana ke Lampung, Joko Widodo alias Jokowi sudah menghadirkan kontroversi saat ia berfoto bersama beberapa pendukungnya sedang menginjak kepala kerbau. Karuan, aksi itu langsung menuai banyak interpretasi. Sebagian besar masyarakat mengartikan aksi itu bentuk perlawanan Jokowi kepada PDIP, karena partai besutan Megawati Soekarno Putri itu menggunakan kepala banteng sebagai lambangnya. 

Tuduhan itu semakin menguat karena ruangan di sekitar foto itu sarat diselimuti warna merah. Warna lantai yang diinjak Jokowi juga warna merah sehingga tudingan bahwa foto itu simbol perlawanan kepada PDIP semakin mengental.

Meski demikian, para pendukung Jokowi buru-buru mengklarifikasi kalau foto itu sebagai bagian dari tradisi adat yang berkembang di Lampung.

Tokoh masyarakat Lampung, Mawardi Harirama menyebutkan bahwa aksi menginjak kepala kerbau yang dipertontonkan Jokowi merupakan bagian dari rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi yang telah diwariskan turun-temurun di wilayah itu. Ritual itu memiliki makna filosofis sebagai simbol menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.

"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi, Senin (29/6/2026).

Mawardi juga menepis anggapan yang mengaitkan dominasi warna merah di lokasi prosesi dengan kelompok politik tertentu. Menurutnya, warna tersebut memang menjadi bagian dari ornamen di Kedatun Keagungan di Lampung.

Namun pernyataan Mawardi Harirama itu tetap saja memunculkan perdebatan. Wajar saja, sebab ia diketahui  merupakan salah satu pendukung Jokowi.  

Walau bukan merupakan tokoh politik, Mawardi Harirama dikenal sangat dekat dengan sejumlah politisi PSI di Lampung. Tak heran jika ia dimanfaatkan sebagai symbol Lampung untuk memberikan prosesi adat kepada Jokowi.

Kerbau sengaja dijadikan sebagai pijakan kaki Jokowi karena dianggap sebagai symbol politis. Apalagi beberapa tokoh PSI di Lampung merupakan mantan politisi PDIP yang  berpindah Haluan ke partai gajah itu.

Tak heran jika aksi Jokowi menginjak kepala kerbau diartikan sebagai symbol perlawanan Jokowi terhadap partai yang membesarkannya, PDIP. Dengan kata lain, safari politik Jokowi yang dimulai di Lampung merupakan pertanda genderang perang yang ia tabuh melawan PDIP.

Jokowi tentu saja sadar dengan semua simbol-simbol itu. Makanya ia senang saja ketika diminta menginjakkan kaki ke kepala kerbau karena memang Jokowi punya ambisi untuk memberi pelajaran kepada PDIP. Setidaknya ia mau menunjukkan bahwa PDIP ada di bawah telapak kakinya, atau PDIP sarat dengan sifat busuk yang harus disingkirkan.

Reaksi PDIP

Syukurnya, aksi Jokowi menginjak kepala kerbau itu disikapi dengan bijak oleh politisi PDIP. Alih-alih emosi dengan foto itu, politisi PDIP malah tertawa terbahak-bahak dengan ulah Jokowi itu.  Mereka sama sekali tidak merasa keberatan dengan tindakan Jokowi itu.

Pasalnya, kepala kerbau bukanlah simbol dari partai PDIP. Adapun symbol partai itu adalah banteng dengan mocong putih.

Banteng dan kerbau memang agak mirip, tapi secara spesies sangat berbeda. Jadi, kalaupun Jokowi ingin merendahkan PDIP dengan menginjak kepala kerbau, sasarannya tidak kena.

"Kalau seandainya yang menginjak kepala kerbau itu dimaknai bahwa aksinya sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, ha-ha-ha..., maaf, tidak kena sasaran. Soalnya lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu banteng moncong putih," ucap Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira.

Meski demikian, aksi Jokowi itu tetap saja memunculkan perdebatan. Safarinya dianggap tidak  mendamaikan masyarakat. Malah cenderung menyulut permusuhan di ruang publik.

Puan Maharani, tokoh penting di PDIP  juga turut mengomentari aksi Jokowi itu. Ia sangat meyayangkan aksi itu  karena terkesan ingin menebarkan kebencian.

“Safari politik adalah hak semua warga negara untuk bisa melakukan kunjungan ke mana saja. Namun alangkah baiknya kalau safari itu bertujuan menebarkan semangat damai dan kebersamaan, bukan menerbar kebencian. Sebaiknya para politisi menjaga kondisi tetap kondusif saat melakukan safari,” ujar Puan.

Safari politik Jokowi yang akan berlangsung ke berbagai wilayah di nusantara sejak awal memang sudah memunculkan polemik.  Betapa tidak, awalnya Jokowi mengaku setelah tidak lagi menjabat presiden, ia akan pensiun dari politik dan akan hidup lebih dekat dengan cucunya.

Namun sikapnya berubah karena ia sangat was-was dengan gerak politik anak dan menantunya yang belum mengakar kuat di bawah. Ia tahu, anak dan menantunya tidak punya latar belakang dan kemampuan politik yang bagus. 

mereka adalah politisi yang naik sebagai pemimpin karena didongkrat dari atas. Bagaimanapun juga, anak dan menantu Jokowi  tetap harus dibantu oleh kekuasaan dan pengaruh dari pusat.

Oleh karena itu Jokowi kembali harus turun ke lapangan untuk memastikan anak dan menantunya kembali berkuasa pada Pemilu 2029 mendatang. 

Lagi pula, Jokowi terkenal sebagai pemimpin yang kerap menebarkan kebohongan. Sampai-sampai ia dijuluki The King of Lip Service alias si Raja Bohong.

Jadi wajar saja kalau Jokowi tidak menepati janjinya untuk pensiun. Sebaliknya, ia kemudian kembali aktif dalam politik dan menjaga kekuasaan anak dan menantunya di pemerintahan. Namanya juga pembohong.

Selain itu, Jokowi juga ingin menunjukkan kepada Prabowo bahwa ia masih mendapat dukungan dari arus bawah. Dengan demikian Prabowo tetap akan menggandeng anaknya Gibran sebagai pendampingnya untuk posisi calon wakl presiden di Pemilu 2029. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini