-->

Jadi Korban Pungli, Panitia BMPD Run Hentikan Event Lari Tahunan di Kota Medan

Sebarkan:

Event lari yang semakin tren sebagai sport tourism. Banyak kota sukses menyelenggarakannya, tapi bukan di Medan. Di kota ini event lari justru jadi ajang pungli sehingga beberapa panitia jera menyelenggarakan acara berikutnya. BMPD Run termasuk yang menghentikan kegiatanya tahun ini di Kota Medan. Panitia sudah jera dikerjai oknum aparat sehingga seakan mereka jadi mesin ATM.
Kegiatan sport tourism sempat menggeliat di Kota Medan ketika Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Sumatera Utara berhasil menyelenggarakan event lari tahunan di kota ini selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025. Sayangnya, untuk tahun ini, BMPD enggan melaksanakannya, karena maraknya aksi pungutan liar dari oknum aparat kian tidak terkendali.

Aksi pungutan liar itu membuat panitia harus menanggung kerugian yang tidak sedikit. Tak mau rugi lebih banyak lagi, maka event itupun sementara dihentikan. Tidak jelas sampai kapan penghentian itu dilakukan.

Padahal dalam dua tahun penyelenggaraannya, event lari BMPD selalu diikuti ribuan peserta.  Pada tahun lalu, jumlah peserta mencapai 3.000 peserta yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Tak heran jika BMPD Run menjadi salah satu icon  bagi semarak olahraga lari di kota Medan. Kehadiran event ini mendorong kian berkembangnya komunitas-komunitas lari di Sumatera Utara yang diisi para pelari rekreasional.

Pelari rekreasional adalah kelompok orang yang menjadikan olahraga lari sebagai hobi, fashion atau  gaya hidup. Mereka ini umumnya  sangat candu mengikuti event lari di berbagai daerah. Bahkan rela mengeluarkan biaya cukup  besar untuk mengikuti event lari sampai tingkat dunia. Bukan podium yang mereka cari, tapi kesenangan.

Makanya, para pelari rekreasional di Sumut sangat antusias dengan kehadiran BMPD Run yang sempat membuat event lari di Medan semakin semarak.

Namun setelah sukses dua tahun berturut-turut,  penggemar lari di Sumut harus mengelus dada setelah panitia BMPD resmi mengumumkan hiatus dari kegiatan itu mulai tahun ini. Tidak disebutkan sampai kapan penghentian dilakukan.

Beberapa orang dalam yang ditemui Kajianberita.com menyampaikan bahwa mereka berhenti mengorganisir event tersebut karena tidak tahan menghadapi rakusnya oknum aparat yang kerap meminta dana berlimpah demi alasan pengamanan dan berbagai tetek bengek lainnya. Hal seperti ini sama sekali tidak pernah terjadi di daerah lain.

“Jadi kalau banyak panitia sport tourism enggan melaksakanan kegiatan di Medan, itulah masalahnya. Banyak sekali uang siluman yang harus dikeluarkan. Kita tujuannya mau membangun semangat olahraga di masyarakat dan menjadikan Medan sebagai tujuan wisata sport tourism, anehnya kita yang jadi korban pemerasan,” kata sumber itu.

Event lari BPMD bukan satu-satunya yang merasakan ganasnya oknum menggerogoti panitia di Kota Medan. Ada banyak panitia yang merasakan hal serupa. Keputusan akhirnya pun sama, menghentikan semua kegiatan lari tersebut pada tahun-tahun berikutnya.

Misalnya pada 2016, Pocari Sweat pernah menyelenggarakan event lari besar di Medan yang diikuti sekitar 2.500 peserta dari berbagai tanah air. Atlit nasional seperti Odekta Naibaho dan Agus Prayogo sempat ikut menyemarakkan kegiatan itu. Keduanya sukses menempati podium pertama.

Namun hanya sekali itu saja. Pada tahun berikutnya panitia Pocari Sweat tidak mau lagi menyelenggarakan event yang sama di Kota Medan. Mereka lebih memilih memusatkan kegiatan itu di Kota Bandung, Solo dan Lombok.

Di tiga kota ini panitia mendapat sambutan meriah dari pejabat daerah dan aparat keamanan setempat sehingga dukungan terhadap event di sana sangat meriah.  Setiap tahun Pocari Sweat aktif menyelenggarakan event lari di tiga kota itu dengan jumlah peserta yang terus membludak.

Begitu tingginya antusias peserta,  sampai-sampai panitia harus membatasi jumlah pendaftar agar pelayanan bagi para pelari lebih baik. Padahal setiap peserta harus membayar antara Rp300 ribu hingga Rp450 ribu untuk registrasi.

Tarif yang sama juga diterapkan pada event lari di Kota Medan. Peserta juga cukup banyak. Namun panitia merasa sangat kesal, sebab pemberlakuan tarif itu menjadi alasan sehingga mereka menjadi bulan-bulanan oknum aparat. Seakan dianggap bak mesin ATM.

Hal yang sama juga terjadi untuk event lari Heritage yang dua kali sempat diselenggarakan di Kota Medan. Penyelenggaraan terakhir berlangsung pada 2018. Setelah itu panitia tak mau lagi mengadakan event tersebut karena rugi besar akibat pengeluaran di luar jalur resmi.

Kasus yang sama terjadi pada BCA Medan Run yang pernah berlangsung pada 2018. Sebanyak 1.800 pegiat lari begitu antusias mengikuti event ini. Mereka berharap BCA Medan Run bisa menjadi agenda tahunan di kota ini. 

Namun panitia hanya berani menyelenggarakan event itu sekali saja. Setelah itu mereka jera karena tidak tahan menghadapi aksi-aksi pemerasan. 

Pengumuman resmi penghentian event BMPD Run 2026 di Kota Medan
Satu-satunya event sport tourism running yang tetap berjalan setiap tahun di Medan adalah event lari dalam rangka Ulang Tahun Kota Medan. Kegiatan ini selalu digawangi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Medan. 

Kalau panitianya pejabat Pemda, biasanya para pelari rekreasional tidak tertarik berpartisipasi meski event itu sama sekali tidak dikutip bayaran.

Semua orang sudah tahu, kalau panitianya ditangani oleh Pemda, manajemen penyelenggaraaan pasti awut-awutan. Amburadul di sana sini. Ada saja kekacauan yang terjadi di arena lari sehingga para pegiat lari rekresional tidak merasa nyaman. Makanya tak banyak yang ikut bergabung di acara itu.

Pelari rekreasional sejatinya membutuhkan pelayanan yang baik dari panitia, meski mereka harus mengeluarkan dana lumayan besar untuk terlibat dalam event itu.

Malah tidak sedikit pegiat lari rekreasional yang datang dari luar kota menggunakan pesawat dan mengingap di hotel demi berpartisipasi dalam event lari itu. Semakin bagus kinerja panitia,  biasanya pelari rekreasional yang ikut berpartisipasi akan lebih banyak.

Sayangnya banyak pejabat daerah dan aparat yang tidak paham memanfaatkan candu para pelari rekreasional ini. Mereka justru menjadikan event lari sebagai sasaran untuk diperas. 

Akhirnya panitia pun jera sehingga tidak mau lari menyelenggarakan event lari berkualitas di Kota Medan.

Pejabat daerah di Medan harusnya berkaca dari daerah lain. Lihat saja bagaimana suksesnya Pemerintah Kota Bandung menyelenggarakan  event lari Pocari Sweat yang selalu diburu penggemar lari dari berbagai kota.

Di Jakarta ada Jakarta Internasional Marathon dan Milo Marathon yang terus berlangsung setiap tahun. Di Malang ada Borobudur Marathon, sementara Yogyakarta sangat terkenal dengan Yogya Marathon. Tidak kalah terkenalnya adalah Lombok Marathon.

Untuk skala internasional, salah satu yang sangat digemari pelari dunia adalah Bali Marathon yang sampai sekarang tetap berjalan dengan baik berkat kerjasama apik antara Pemda Bali dan Maybank sebagai sponsor utama. Di sana, minim sekali pemerasan. Malah bisa dikatakan tidak ada. Tak heran jika di Bali ada banyak event marathon yang berlangsung setiap tahun selain Bali Marathon. 

Kalau untuk Medan, sepertinya pelari rekreasional di daerah ini cuma bisa berharap kepada TNI AU untuk bisa aktif menyelenggarakan event lari tahunan. Biasanya event lari yang diselenggarakan TNI -AU kerap dipusatkan di sekitar Lanud Suwondo.  

Kalau TNI-AU yang jadi penyelenggara, pastilah para pelaku pungli tidak berani berbuat banyak. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini