![]() |
| Kaesang Pangerap, Ketua Umum PSI, hartanya semakin besar, utang berserak di sana sini, hampir semua usahanya gulung tikar. |
Nasib PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) yang berkode saham PMM -- perusahaan pengolahan udang beku berskala besar -- semakin hari semakin memburuk. Utangnya menggunung di sejumlah bank.
Perusahaan ini adalah milik Kaesang Pangarep, putra bungsu eks Presiden Jokowi. Tak heran jika Kaesang yang kini menjabat Ketua Umum PSI didera utang jumbo. Totalnya mencapai lebih dari Rp2 triliun. Waduh.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), PMMP dirundung masalah keuangan yang serius. Di Bank Permata, outstanding utang perusahaan milik Kaesang itu, memiliki utang US$53,12 juta atau sekitar Rp929,6 miliar (kurs Rp17.500/US$) dan fasilitas tambahan Rp5,49 miliar.
Perusahaan ini juga memiliki utang kepada Bank BCA dengan outstanding US$40,29 juta, atau setara Rp705 miliar.
Utang ke Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) mencapai US$30,71 juta atau sekitar Rp537,4 miliar. Selanjutnya utang ke PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta, atau Rp400 miliar.
Perseroan juga memiliki utang pada PT Bank Maspion Indonesia Tbk dan PT Bank Resona Perdania masing-masing sebesar US$7,21 juta dan US$5,99 juta. Saat ini, PMMP sedang mengajukan restrukturisasi atas gunungan utang tersebut. "Saldo tersebut di luar utang bunga," tulis Manajemen PMMP, dikutip Jumat (3/7/2026).
Nasib PMMP bak pepatah 'hidup segan mati tak mau'. Pihak manajemennya mengakui tengah mengalami kendala di modal kerja sehingga tak bisa beroperasi secara maksimal. Untuk menjalankan operasional perusahaan, PMMP membutuhkan modal US$15 juta atau setara Rp269,11 miliar.
Imbas keterbatasan modal tersebut, PMMP saat ini hanya mengoperasikan satu unit pabrik di Situbondo. Untuk memenuhi kebutuhan ekspor, perseroan terpaksa melakukan pembelian dari perusahaan lain.
"Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan," jelas Manajemen PMMP.
Menurunnya kapasitas produksi juga mendorong PMMP melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Sejak 2024 hingga saat ini, PMMP telah melakukan PHK sebanyak 37 orang staf, 79 orang pekerja harian, dan 82 staf mengundurkan diri.
Sebagai informasi, sebagian saham PMMP saat ini digenggam oleh perusahaan milik Kaesang Pangarep, yakni PT Harapan Bangsa Kita. Perusahaan tersebut tercatat menggenggam 188.240.000 atau sekitar 7,27 persen saham PMMP.
Sebetulnya, keuangan perusahaan udang ekspor itu sudah terlihat ambruk sejak tahun lalu. Per 3 November 2024, PMMP membukukan kerugian sekitar Rp252,76 miliar. Padahal, tahun sebelumnya masih mencatat cuan Rp87,60 miliar.
Di perusahaan ini, Kaesang mengempit 7,27 persen saham lewat PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat) pada November 2021. Di mana, GK Hebat merupakan perusahaan pengolahan makanan dan minuman (mamin) yang menjadi platform akselerator UMKM, didirikan Kaesang pada 2019.
Per 31 Desember 2025, PMMP semakin babak belur karena menderita rugi bersih US$122,92 juta atau setara Rp1,93 triliun (kurs Rp15.700/US$). Berbalik drastis dengan 2024 yang masih membukukan laba bersih US$81.240.
Bisnis Kaesang Gagal Semua
Dengan ambruknya usaha PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), maka bertambah lagi unit usaha Kaesang yang terhimput utang. Sebelumnya sejumlah bisnisnya telah gulung tikar. Nyaris tidak ada bisnis anak Jokowi ini yang menguntungkan.
Beberapa usaha Kaesang yang tutup di antaranya, Ternakkopi, Goola, Siapmas, Madhang, dan Sang Javas.
Ternakkopi, misalnya, sempat berkembang pesat dengan hampir 40 gerai pada 2019 sebelum akhirnya tumbang akibat pandemi Covid-19. Kaesang sendiri mengaku bisnis tersebut gulung tikar karena produknya tidak laku di pasaran.
Goola, brand minuman dengan konsep tradisional modern yang awalnya digagas Gibran yang kemudian diteruskan Kaesang, juga bernasib serupa. Aktivitas terakhir akun Instagram resminya tercatat pada November 2020, sebelum akhirnya berhenti beroperasi.
Siapmas, yang menghadirkan produk camilan seperti “Kemripik” dan minuman “Ngedrink,” sempat masuk minimarket namun kini menghilang dari pasaran. Aktivitas terakhir akun resminya tercatat pada Oktober 2020.
Sementara itu, aplikasi Madhang yang diluncurkan pada 2017 dengan konsep membantu ibu rumah tangga menjual masakan rumahan juga tidak lagi aktif. Unggahan terakhir justru dipenuhi keluhan pengguna soal aplikasi yang macet dan dana yang tidak kembali.
Di luar itu, brand fashion Sang Javas dengan desain kaos bergambar kecebong juga hanya sebentar menarik perhatian sebelum akhirnya berhenti pada 2020.
Meski deretan bisnis tersebut tumbang, kekayaan Kaesang justru tetap menyentuh angka fantastis, yakni lebih dari Rp90 miliar. Angka ini bahkan hampir menyamai harta kekayaan sang ayah, Joko Widodo, yang menurut laporan LHKPN memiliki aset sekitar Rp95 miliar setelah dua periode menjabat Presiden.
Tuduhan Gratifikasi
Membengkaknya kekayaan Kaesang ini tentu memunculkan tanda tanya, dari mana anak muda ini mendapatkan uang sebanyak itu? Kaesang sendiri tidak pernah menjawab pertanyaan ini.
Tak mengejutkan jika tuduhan yang pernah menyebar sebelumnya, bahwa Kaesang ada menerima sejumlah gratifikasi dari banyak pengusaha di saat ayahnya menjabat presiden, kini kembali mencuat. Tidak tanggung-tanggung, tuduhan gratifikasi itu mendekati Rp100 miliar.
Kasus ini sebenarnya sudah pernah diadukan ke KPK, tapi harap maklum, KPK sudah pasti tidak mau menindaklanjutinya. Bukan rahasia umum bahwa KPK sangat tidak berani menyentuh keluarga Jokowi. Bahkan sampai sekarang pun.
Salah satu yang pernah mengadukan Kaesang ke KPK adalah Ubedillah Badrun, Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pada 2022, Ubedilah pernah melaporkan dua putra Presiden Jowi, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep ke KPK atas dugaan pencucian uang yang melibatkan perusahaan swasta berinisial PT SM.
Perusahaan itu sebelumnya tersangkut kasus pembakaran hutan pada 2015. Meski Kementerian Lingkungan Hidup menuntut ganti rugi Rp 7,9 triliun, Mahkamah Agung hanya mengabulkan Rp 78 miliar.
Kala itu, Ubedilah menduga bahwa Gibran dan Kaesang menerima aliran dana sebesar Rp 99,3 miliar dalam dua kali transaksi, yang kemudian digunakan untuk membeli saham senilai Rp 92 miliar. Namun, KPK menyatakan bahwa laporan tersebut masih dianggap sumir dan tidak cukup kuat untuk dilanjutkan.
Bukan hanya Ubedilah yang membongkar fakta adanya gratifikasi yang diterima Kaesang sewaktu ayahnya menjabat presiden. Penasihat KPK periode 2005-2013 juga pernah membongkar keterlibatan Kaesang menerima upeti dari perusahaan swasta sebesar lebih dari Rp90 miliar. Transaksinya ada yang dilakukan di Singapura.
Tapi lagi-lagi semua tudingan itu tidak pernah ditindaklanjuti aparat penegak hukum di negeri ini. Faktanya, cuan Kaesang terus menggunung, usahanya pada bangkrut, utang menyebar di sana sini, yang anehnya kekayaannya semakin meningkat. Jadi wajar saja kalau ada hal yang mencurigakan di balik semua itu. ***
