![]() |
| Distribusi BBM oleh tangki Pertamina. ternyata pasokan memang sengaja dikurangi |
Krisis itu ternyata karena kesengajaan dari pihak Pertamina sendiri. Sengaja membuat masyarakat panik agar segera beralih ke BBM non subsidi.
Seorang sopir tangki Pertamina membongkar fakta ini kepada wartawan. Sopir itu membeberkan bahwa krisis BBM di Sumut memang disengaja oleh pihak Pertamina sendiri, bukan karena gangguan masalah pendistribusian oleh karena kinerja sopir tangki.
“Tidak ada sopir tangki yang berhenti, tidak ada anggota kami yang mogok. Semua sopir tangki bekerja seperti biasa. Tapi memang permainan orang dalam Pertamina yang membuat semuanya menjadi kacau,” ujar seorang sopir tangki yang menjadi sumber berita ini.
Adapun alasan Pertamina yang mengatakan krisis BBM di Sumut karena kebutuhan meningkat seiring hari libur, hanyalah karang-karangan belaka saja.
“Memang mereka sengaja mengurangi jumlah pasokan ke SPBU. Semua ini permainan dari orang dalam Pertamina sendiri,” katanya.
Oleh karena itu, langkah gubernur Bobby Nasution yang memaksakan keterlibatan TNI sebagai sopir tangki untuk mendistibusikan BBM ke sejumlah SPBU, mengundang keheranan para sopir tangki. Menurut mereka, jumlah sopir tangki sebenarnya cukup banyak. Mereka semua stand by setiap saat.
“Mengapa harus sopir dari TNI yang turun tangan? Kan tidak ada sopir yang mogok atau berhenti!” ujar sumber itu.
Dalam urusan lapangan, menurut sopir itu, sama sekali tidak ada masalah. Yang ada hanyalah masalah BBM yang didistribusikan memang dikurangi oleh pihak Pertamina sendiri.
"Banyak SPBU yang minta pasokan BBM. Misalnya ada yang meminta Pertalite 24 ribu liter, tapi dikirim cuma setengah dari itu. Pokoknya dijatah sangat terbatas dari biasanya oleh Pertamina. Ini semua kesengajaan dari pihak Pertamina agar masyarakat membeli BBM yang non subsidi. Jadi mau tidak mau masyarakat membeli Pertamax, walaupun mahal, " ungkap salah seorang sipir tangki PT Pertamina.
Menurutnya, jumlah stok BBM Pertamina sebenarnya melimpah dan tidak ada kelangkaan. Ratusan mobil tangki siap mengantar setiap saat. Namun, pengiriman ke SPBU sengaja dikurangi.
“Jadi kelangkaan BBM ini memang sengaja diciptakan oleh Pertamina,” tegas sumber itu.
Di sisi lain, sopir tangki juga menyorot adanya permainan di sejumlah SPBU tertentu yang kerap menjual BBM subsisi, seperti solar, kepada pelansir secara illegal. Solar subsidi yang harganya Rp6.800 per liter kemudian dijual pihak pelansir ke industri seharga Rp 15 ribu per liter.
"Mafia-mafia seperti ini juga ada di SPBU. Ada sejumlah mobil pelansir yang tangkinya dimodifikasi sehingga bisa menampung sangat banyak BBM dari SPBU. Setiap mobil itu punya barcode, diisi full solar ready,” katanya.
Kombinasi antara permainan Pertamina dan permainan SPBU ini, yang menurut sopir itu, membuat BBM di Sumut menjadi langka.
"Jadi, jangan disalahkan sopir tangki," katanya.
“Pokoknya kami tidak ada yang mogok apalagi berhenti kerja. Sekarang ini cari kerja sangat susah, mana mungkin kami berani berhenti bekerja,” tambah sopir itu/
Pihak Pertamina sendiri memang mengaku bahwa sama sekali tidak ada sopir tangki yang mogok atau berhenti kerja.
Executive General Manager (EGM) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Sunardi, menegaskan semua ini terkait pembenahan yang dilakukan sebagai evaluasi terhadap awak mobil tangki yang dinilai tidak memenuhi persyaratan maupun memiliki kinerja kurang baik.
“Memang kami sedang ada pembenahan manajemen di transportasi, tetapi tidak dalam konteks PHK massal. Soal mogok atau sopir tangki yang berhenti kerja memang tidak ada,” kata Sunardi, Rabu (15/7/2026).
Namun Sunardi sangat membantah kalau krisis BBM di Sumut belakangan ini karena kesengajaan. Ya, tentu saja ia tidak mau mengakui kesengajaan seperti itu.
Anehnya, meski tidak adalah masalah dengan sopir tangki, pihak Pertamina pada akhirnya tetap setuju untuk melibatkan TNI sebagai sopir di sejumlah truk tangki. Padahal, masalah sopir bukanlah persoalan utamanya.
Setidaknya ada 18 anggota TNI yang sudah diturunkan sebagai sopir.
Kehadiran anggota TNI ini membuat sejumlah sopir yang sudah lama bekerja dalam pendistribusian BBM Pertamina menjadi terusik. Mereka kini lebih banyak duduk-duduk di sekitar depot Pertamina karena tugas mereka telah diambilalih.
Dari sini bisa dipahami, bahwa kehadiran pasukan TNI sebagai tenaga bantu pendistribusian BBM di Sumut bukanlah langkah penyelesaian masalah. Selagi manajemen Pertamina masih membatasi pasokan, krisis BBM akan terus terjadi. ***
