-->

Saya… Saya… Saya..!

Sebarkan:

Bangun dan cuci muka dulu, Bos, agar pikiran anda bekerja lebih baik. Anda tidak diserang oleh siapa pun. Mereka hanya ingin membuat anda melek. Mereka ingin anda melihat bahwa program-program yang anda banggakan—yang menguras ratusan triliun uang negara—tidak lain hanyalah proyek politik yang penikmat terbesarnya adalah anda sendiri dan kroni-kroni anda.

Tidak usah menggeser urusan kebijakan publik menjadi urusan pribadi. Dan, tolong diingat baik-baik, anda tidak memberi makan gratis. Anda bukan Sinterklas, juga bukan tokoh kartun dengan kantung ajaib. Anda tidak mengeluarkan serupiah pun uang pribadi anda untuk program MBG.

Ini yang benar: Anda menggunakan uang kami, yang kami bayarkan kepada negara ketika kami membeli mi instan, minyak goreng, beras, pulsa, pensil, buku tulis, gula, kopi, dan sebagainya. Bukankah ada pajak yang harus kami bayar dalam setiap pembelian itu? Kami membayar PPN dan menyerahkan sebagian penghasilan kami agar negara ini dikelola dengan pikiran yang beres, bukan dengan perasaan sentimentil seorang politisi yang merasa diri serba-benar dan bicara sembarangan.

Rengekan anda “Saya diserang orang” tidak relevan sama sekali. Anda justru harus mempertanggungjawabkan penggunaan uang kami. Anda memilih orang-orang kepercayaan untuk menjalankan program anda, dan program itu berantakan karena orang-orang kepercayaan anda korup.

Jadi, berhentilah berakting seolah-olah anda martir yang dikorbankan demi isi perut saudara-saudara kami. Rakyat membayar pajak bukan untuk membiayai sandiwara amatir dengan cerita penguras air mata.

*** 

Paham. Bos? Bicara normal saja dan tidak usah akting. Anda menggunakan trik yang amat buruk dengan mengungkit kebocoran triliunan rupiah di pelabuhan akibat under-invoicing. Itu tabiat kekanak-kanakan oleh politisi tua yang sedang panik. Logika macam apa yang anda gunakan?

Hanya karena ada maling yang belum tertangkap di pelabuhan sana, kami harus membiarkan saja maling lain menjarah rumah kami? Apakah kami harus diam melihat gejala korupsi, karut-marut tata kelola, vendor-vendor "titipan" bergentayangan di program MBG kesayangan anda, sebab di tempat lain ada banyak maling juga?

Dengan logika semacam itu, anda bermain drama: “Saya diserang...”

Astaga! Bangun, Bos. Duduklah tenang, teliti lagi angka-angkanya, dan singkirkan mentalitas korban. Kami hanya sedang menagih struk belanja dari uang yang anda ambil dari dompet kami. Kami ingin tahu berapa harga normal kipas angin, berapa harga normal sepatu, berapa harga normal pigura, berapa harga normal ompreng, berapa harga normal mobil pikap dari India.

Tidak usah teriak-teriak akan mengejar koruptor sampai ke antartika, tidak usah lebay, tidak perlu bersandiwara: Mereka ada di lingkungan anda sendiri.

Oya, jika anda betulan ingin mengawasi kami dari antariksa, kami sangat senang. Kapan rencananya? **

Oleh:  AS Laksana, Budayawan

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini