![]() |
| Almarhum Winda Lorenza Gowasa |
Selain menghadirkan kontroversi karena kemungkinan adanya unsur pembunuhan melibatkan suaminya Bripda Iman Syahputra Harefa yang merupakan anggota Polsek Medan Sunggal, nama Winda Lorenza Gowasa ternyata sempat juga dikaitkan dengan kasus korupsi yang terjadi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Kementerian Keuangan di Jakarta.
Winda Lorenza Gowasa yang akrab dipanggil Loren bahkan sudah pernah diperiksa sebagai saksi oleh KPK dalam kasus korupsi tersebut.
Apa kaitan Loren dengan kasus korupsi di Bea Cukai itu? Barangkali ini yang perlu untuk dijelaskan.
Mencuat kabar kalau salah seorang tersangka korupsi di Bea cukai itu punya hubungan baik dengan Loren. Sosok itu adalah Orlando Hamonangan Sianipar yang kala itu menjabat sebagai Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan, Dirjen Bea dan Cukai, Kementerian keuangan.
Orlando Hamonangan Sianipar disebut-sebut pernah memberi sebuah jam tangan mewah merek Tag Heuer senilai Rp 65 juta kepada mendiang Loren. Selain itu, Orlando juga menyewakan sebuah apartemen di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, sebagai tempat tinggal Loren selama di Jakarta.
Tidak dijelaskan bagaimana hubungan antara Loren dan Orlando selanjutnya. Juga belum terungkap sejak kapan mereka saling kenal.
Namun akibat pemberian hadiah itu, KPK terpaksa memanggil Loren untuk menjalani pemeriksaan. Ia diperiksa KPK pada kamis 09 April 2026, tidak lama setelah Orlando Hamonangan ditangkap.
Beberapa sumber di KPK sudah memastikan bahwa Winda Lorenza Gowasa yang mereka periksa dalam kasus korupsi itu sama dengan sosok wanita yang tewas dalam kasus penembakan di Bumi Asri Medan.
Orlando sendiri saat ini sedang menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Jakarta. Ia termasuk satu dari tiga pejabat yang ditangkap dalam kasus korupsi di lingkup Dirjen Bea dan Cukai, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Adapun Loren, ia memang telah pindah ke Jakarta setelah bercerai dengan suaminya Bripda Iman Syahputra Harefa pada awal tahun lalu. Pasangan ini telah dikaruniai dua anak. Yang tertua bersama Iman Syuhputra di Medan, sedangkan yang kedua bersama Loren di Jakarta.
Loren disebut-sebut bekerja membanting tulang di Jakarta untuk membiayai keluarganya. Ia juga harus mencari dana agar bisa membantu pengobatan ibunya, Yestin Laia yang sedang sakit.
Namun pada penghujung Juli 2026, Loren dijemput mantan ibu mertuanya (Ibu Bripda Iman Syahputra) ke Jakarta untuk meminta agar ia mau rujuk dengan suaminya di Medan. Permintaan itu sempat ditolak Loren, tapi karena terus dibujuk, akhirnya ia mau kembali ke Medan.
Loren sempat mendatangi rumah Iman Syahputra pada 2 Agustus lalu. Tidak dijelaskan bagaimana komunikasi yang terjadi antara Loren dan Iman Syahputra pada waktu itu. Ada yang menyebut keduanya sempat bertengkar sengit hingga akhirnya Loren menjemput azal dengan menggunakan pistol milik Iman.
Sampai di sini, kemudian muncul perdebatan, apakah Loren sengaja bunuh diri dengan menggunakan pistol suaminya, atau ia memang ditembak.
Polrestabes Medan sempat mengumumkan bahwa Loren meninggal karena bunuh diri setelah merebut pistol milik suaminya yang tersimpan di kamar. Tubuh Loren ditemukan tak berdaya di kamar mandi yang terkunci.
Sebaliknya, keluarga korban mencurigai bahwa Loren justru ditembak oleh suaminya karena melihat ada bekas penganiayaan di tubuh Loren.
Bekas penganiayaan itu, antara lain tampak di bagian mata, kening, punggung, lutut kaki, dan luka-luka di bagian jari tangan.
Atas dasar itu, keluarga korban, pada Jumat (7/8/2026) mengadu ke Polda Sumut untuk meminta penegakan hukum. Mereka tidak percaya Loren meninggal karena bunuh diri. Mereke curiga Wanita itu justru dibunuh karena ada tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya.
Tentu saja yang dicurigai adalah Bripda Iman Syahputra Harefa sebagai pelakunya. Oleh karena itu Polda Sumut telah melakukan pemeriksaan terhadap anggota Polsek Medan Sunggal itu. Namun perkembangan hasil pemeriksaan itu belum disampaikan ke publik.
Masalah ini yang akan dibahas pada rapat dengar pendapat Komisi III DPR RI Selasa ini. Lembaga ini akan mengundang Polrestabes Medan, Polda Sumut dan pihak keluarga Loren. Namun kaitan dengan kasus korupsi Bea Cukai tentu tidak akan diungkap lebih jelas karena focus pembahasan ini lebih menititik beratkan soal kematian Loren.
Komisi III DPR RI meminta Polda Sumut untuk objektif dan transparan mengungkap kasus ini. Dengan demikian penyebab kematian Loren akan lebih jelas, apakah dibunuh atau benar bunuh diri? ***
