Tekanan bertubi-tubi yang diarahkan publik kepada Rektor USU,
Muryanto Amin dan Gubernur Sumut Bobby Nasution setelah terbongkarnya
konspirasi mereka untuk membawa USU di bawah kendali keluarga Jokowi, membuat
keduanya mulai terpojok. Jurus biasa pun mereka gunakan, yakni memanfaatkan
kelompok buzzer.Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Muryanto Amin
Kelompok buzzer ini dinamakan Ternak Muryanto, yang merupakan kumpulan orang-orang yang ditugaskan untuk memuja-muji Muryanto di media massa. Mereka umumnya dari kalangan dosen, mahasiswa atau alumni yang dijanjikan bakal mendapat reward manakala upaya mendukung kembali Muryanto sebagai rektor USU bisa tercapai.
Istilah ‘Ternak Muryanto’ merupakan kosakata yang diadopsi dari frasa ‘Ternak Mulyono’, yaitu kumpulan buzzer bayaran yang selama ini dimanfaatkan Jokowi untuk memuji-muji dirinya di ruang publik.
Mulyono sendiri adalah nama sindiran yang diberikan public kepada Jokowi karena nama itu merupakan nama masa kecilnya.
“Jadi kini ada muncul istilah ‘Termury’ alias ternak Muryanto yang merupakan kumpulan orang-orang yang bersuara di media untuk memuji-muji Muryanto, Rektor USU yang sudah dipanggil KPK itu,” Rizal Huda, alumni Fisip USU yang juga merupakan mantan aktivis mahasiswa.
Kelompok ini sengaja memunculkan opini bahwa selama di bawah kepemimpinan Muryanto Amin, USU telah berkembang sebagai kampus bergengsi di tingkat dunia. Mereka menutup mata bagaimana hasil penelitian sejumlah akademisi USU ditolak sejumlah jurnal ternama.
Bahkan selama di bawah kepemimpinan Muryanto pula, kampus USU masuk zona merah sebagai lembaga pendidikan yang karya penelitiannya kurang dipercaya.
Laporan mengenai USU ini diterbitkan langsung oleh Research Integrity Risk Index (RI²), sebuah barometer global yang dirancang khusus untuk mengukur kejujuran dan etika dalam dunia penelitian di berbagai universitas dunia. Temuan ini tentu menjadi tamparan keras dan menimbulkan banyak pertanyaan para akademisi.
Laporan RI² telah disampaikan secara terbuka sehingga semua orang tahu betapa mirisnya kondisi USU saat ini. Dalam laporan edisi Juni 2025, RI² secara tegas menyebut USU masuk dalam kategori "Red Flag" atau zona merah untuk karya penelitian.
“Ini bukan sekadar peringkat buruk, ini adalah kategori risiko paling tinggi yang menandakan adanya keanehan dan integritas yang dipertanyakan dan membutuhkan perbaikan.
Skor yang diperoleh USU adalah 0.400, menempatkannya di antara segelintir perguruan tinggi Indonesia yang berada di zona paling berbahaya,” ujar Rizal yang kini mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta.
Indeks RI² sendiri mengukur dua hal, pertama, tingkat penarikan kembali artikel ilmiah karena masalah serius seperti fabrikasi data atau plagiarisme (R-Rate), dan kedua, persentase publikasi di jurnal-jurnal yang telah dihapus dari daftar internasional karena kualitasnya yang buruk atau terindikasi sebagai jurnal predator (D-Rate).
Status "Red Flag" ini pada dasarnya adalah sinyal alarm paling keras bahwa ada sesuatu yang salah secara mendasar dalam budaya riset di sebuah institusi.
Selain itu, Angka 0.400 yang didapat USU tentu didasarkan pada sejumlah hal lainnya, termasuk soal kasus plagiarisme dan self-plagiarism (plagiat terhadap karya sendiri).
Pada tahun 2013 dan 2015, USU pernah mengeluarkan sanksi untuk dosen yang melakukan praktik plagiarism maupun self-plagiarism. Yang lebih mengkhawatirkan, kasus tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa atau dosen, tetapi juga menyeret nama pucuk pimpinan kampus, salah satunya Muryanto Amin, rektor yang sedang menjabat.
Nama Muryanto sempat menghangat di tingkat nasional karena tuduhan self-plagiarism itu. Namun berkat kedekatannya dengan sejumlah tokoh di Tingkat nasional, kasus itu bisa diredam.
Muryanto memang dikenal memiliki jaringan luas di lingkup kekuasaan. Saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat presiden, ia bisa melekat dengan kekuasaan sehingga pernah menjabat jabatan Komisaris PTPN V.
Begitu memasuki era Jokowi, Muryanto kembali tampil sebagai pengabdi penguasa dengan menempel sebagai konsultan politik Bobby Nasution, sehingga ia pun bisa mendapat kursi rektor USU.
Sekarang, bersama Bobby Nasution dan Agus Andrianto ( mantan Wakapolri yang kini menjabat Menteri Imigrasi dan Lapas), mereka menguasai penuh USU. Agus Andrianto sendiri saat ini menjabat Ketua Majelis Wali Amanat USU setelah diorbitkan oleh Muryanto. Agus pula yang disebut-sebut sebagai pengendali ‘Partai Coklat’ untuk membantu kampanye Bobby Nasuton di Pilkada Medan 2020 dan Pilkada Gubernur 2024.
Beredar kabar kalau ketiganya tengah merancang penguasaan USU ke depan untuk membantu kampanye Bobby pada Pilkada 2029. Di samping itu mereka juga sedang bersiap menyokong Gibran untuk tampil di Pilpres 2029. Luhut Binsar Pandjaitan disebut-sebut ikut dalam barisan ini.
Untuk menyiapkan rencana itu, Muryanto berharap bisa kembali terpilh sebagai rektor pada pemilihan September mendatang. Bobby Nasution mendukung penuh rencana itu sehingga aliran dana dari sejumlah proyek APBD Sumut turut mengalir kepada Muryanto.
Kasus aliran dana ini yang membuat KPK harus memanggil Muryanto untuk menjalani pemeriksaan, sebab dana itu adalah hasil korupsi dari proyek jalan. Makanya, Muryanto membutuhkan gerakan para ternaknya untuk meredam citra buruk akibat kasus korupsi itu. ***