Maraknya kabar tentang kasus korupsi yang melanda Rektor
USU, Muryanto Amin sempat membuat pemilihan Rektor USU menjadi terusik. Senat
Akademik USU akhirnya memutuskan menggelar rapat pada Jumat pagi (12/9/2025) di
Gedung Digital Learning membahas masalah itu. Hasilnya, mereka sepakat untuk tetap
menganggap bahwa korupsi itu tidak penting untuk dikait-kaitkan dengan pemilihan
rektor yang sedang berjalan.
Suasana kali pemilihan Senat Akademik USU
“Kita jangan terpengaruh kabar soal korupsi itu. Kalau pun ada, biar nanti diusut setelah pemilihan Rektor. Kita punya cara sendiri untuk memilih rektor USU,” kata Budi Agustono, ketua Senat Akademik USU yang memimpin pertemuan sebagaimana disampaikan salah seorang anggota senat yang diundang hadir pada pertemuan itu.
Budi Agustono merupakan guru besar Fakultas Ilmu Budaya USU yang memang dikenal sebagai salah satu pendukung kental Muryanto Amin. Tak heran jika ia terus menggiring para anggota Senat USU agar tidak terpengaruh dengan isu korupsi yang tengah melanda sahabatnya itu.
Ia juga meminta agar anggota Senat Akademik tidak begitu saja percaya dengan kabar adanya money politic yang terjadi pada pemilihan rektor kali ini. Begitu juga dengan informasi yang beredar soal adanya tiga guru besar yang telah menerima uang dari Muryanto.
“Pemilihan rektor tetap jalan. Dan Muryanto tetap sah maju sebagai calon,” ujar Budi.
Sebelumnya Senat Akademik USU berkali-kali mendapat tekanan agar mendiskualifikasi Muryanto dari persaingan pada pemilihan rektor USU yang berlangsung September hingga Oktober 2025 ini. Rektor petahana itu dinilai sarat dengan cacat etika.
Selain disebut-sebut terlibat menerima aliran uang korupsi proyek jalan dari jaringan Bobby Nasution, ia juga sudah berkali-kali terlibat dalam politik praktis dengan menjadi konsultan politik Bobby Nasution pada dua Pilkada yang ada di Sumut. Padahal sebagai ASN, Muryanto semestinya tidak boleh melakukan hal itu.
Tapi Muryanto punya strategi cantik untuk meredam semua itu sehingga tidak sampai menghambatnya untuk kembali merebut posisi Rektor USU masa bakti 2026-2031.
Caranya, sejak awal Muryanto sengaja memilih sebanyak 112 anggota Senat Akademik USU yang pro kepadanya. Sebagian dari kelompok ini malah dikabarkan sudah kecipratan cuan yang mengalir dari dana korupsi.
Ia juga berhasil menempatkan Agus Andrianto duduk sebagai Ketua Majelis Amanat. Agus Andrianto yang kini menjabat Menteri Imigrasi dan Lembaga Pemasyarakatan adalah mantan Wakapolri yang disebut-sebut sangat berperan berperan mengendalikan ‘Partai Coklat’ untuk mendukung kemenangan Bobby Nasution sebagai walikota pada Pilkada Medan 2020 dan sebagai gubernur pada Pilkada Sumut 2024.
Senat Akademik dan Majelis Wali Amanat adalah dua lembaga yang berhak memberi suara pada pemilihan raktor USU. Senat Akademik akan memilih tiga besar kandidat yang selanjutnya akan diajukan untuk dipilih pada tahap akhir yang melibatkan 18 anggota Majelis Wali Amanat.
Pada pemilihan di tingkat Wali Amanat ini, nantinya aka nada tambahan suara khusus, yakni suara dari Gubernur Sumut, dari Rektor Petahana, dan dari Menteri Pendidikan, Riset dan teknologi.
Pemilihan di tingkat Senat akan berlangsung pada 25 September di USU, sedangkan pemilihan tahap akhir di tingkat Majelis Wali Amanat berlangsung di Jakarta pada 2 Oktober 2025.
Banyak yang yakin bahwa Muryanto kembali menang pada pemilihan rektor ini karena sebagian besar pemegang hak suara -- mulai dari Senat Akademik hingga Majelis Wali Amanat –adalah orang-orang yang pro kepadanya. Apalagi ada sosok Agus Andrianto di sana.
Agus Andrianto adalah tandem Muryanto dalam mendukung aktivitas politik Bobby Nasution. Kelompok ini juga kabarnya mendapat backingan kuat dari Luhut Binsar Pandjaitan, sosok pejabat yang sangat pro Jokowi.
Tak bisa dibantah, Bobby Nasution, Muryanto Amin, Agus Andrianto dan Luhut Binsar Pandjaitan adalah cyrcle pro Jokowi yang berencana menjadikan Sumut sebagai salah satu basis kekuatan mereka. Secara tidak langsung, Muryanto juga telah menggiring anggota Senat Akademik dan Majelis Wali Amanat USU sebagai pihak yang pro Jokowi.
Selain mendukung Bobby kembali menang pada PIlkada 2029, kelompok ini juga akan bermain mendukung Gibran Rakabuming tampil mencalonkan diri sebagai calon Presiden di Pilpres 2029.
Kelompok Pro Jokowi inilah yang sedang merajalela di USU. Pada akhirnya mereka nantinya digiring masuk dalam kelompok kontra Prabowo Subianto di Pilpres 2029. Mirip dengan misi yang sedang disiapkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Hal ini yang mencuatkan kabar bahwa Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto tidak lagi mau mendukung Muryanto Amin untuk terpilih sebagai rektor USU periode berikutnya.
Sumber media ini di Kemendikti Saintek menyebutkan bahwa Brian berharap ada kandidat lain yang lebih progresif bisa menyaingi Muryanto. Hanya saja, kandidat itu harus masuk tiga besar yang akan dipilih Majelis Wali Amanat.
Muryanto kabarnya sudah merasakan bahwa Mendikti Saintek tidak lagi berkenan dengannya. Oleh karena itu, bersama kelompok Senat Akademik pendukungnya, Muryanto sedang mengatur scenario agar yang terpilih masuk kandidat tiga besar calon rektor pada pemilihan tahap pertama adalah orang-orang yang juga bagian dari kelompok mereka, sehingga nantinya Mendikti Saintek tidak punya opsi lain.
Kalau saja ada kandidat rektor progresif - yang berpikiran maju, independen, bercitra bersih dan punya integritas yang terjaga -- masuk tiga besar pada pemilihan di tingkat Senat Akademik, maka nasib Muryanto saat pemilihan tahap kedua di Majelis Wali Amanat bisa terancam, sebab Menristek Saintek punya kekuatan suara 35 persen dalam menentukan rektor terpilih. ***