![]() |
| Bobby Nasution dan Musa Rakejshah alias Ijeck saat masih mesra. Kini keduanya sudah pecah kongsi sebelum 2029 |
Bahlil sejak awal memang menganggap Ijeck orangnya Airlanggar Hartarto. Maka itu, sejak ada sudah ada misi untuk menggesernya dari tampuk ketua partai.
Lagi pula, Bahlil punya misi untuk membawa Golkar sebagai mesin pengusung Bobby Nasution pada Pilkada 2029. Orang-orang yang berpotensi mengganggu Bobby harus dibersihkan terlebih dahulu dari partai itu.
Di mata Bahlil, Ijeck salah satu yang berpotensi menghalangi Bobby maju pada Pilkada nanti. Kalau dibiarkan menduduki tampuk tertinggi di Golkar Sumut, masa depan Bobby bisa nanti jadi berabe.
Bobby sendiri memang bukan kader Partai Golkar. Ia masih tercatat sebagai kader Gerindra, mesin utama pengusungnya pada Pilkada yang lalu. Tapi sampai saat ini statusnya hanya sebatas kader biasa di partai itu. Masa depannya di Gerindra sangat bergantung pada hubungan mesra antara Prabowo dan mertuanya Jokowi, bukan pada prestasi.
Suka atau tidak suka, harus diakui bahwa Bobby adalah pemimpin yang merupakan titipan dari atas, bukan mengukir pretasi dari bawah. Dia produk kekuasaan yang bersinar karena didukung oligarkhi.
Hanya secuil orang Sumut yang kenal Bobby kalau saja anak muda ini tidak menikah dengan Kahiyang, putri Jokowi. Bisa dikatakan, Bobby hanya seorang pemuda yang bernasib baik. Mencuat berkat pernikahan!
Kalau hubungan Prabowo dan Jokowi masih mesra, bisa jadi Gerindra akan kembali mengusungnya pada 2029 mendatang. Tapi pada kenyataanya hubungan itu tidak lagi sedekat dulu. Bisa dikatakan Bobby akan sangat ‘berjudi ‘ jika terus menggantungkan diri kepada Gerindra. Dia harus mencari partai besar yang lain untuk mengamankan diri.
PSI sudah pasti akan berpihak pada menantu Jokowi itu karena partai itu sudah dianggap milik keluarga mereka. Tapi PSI bukan partai besar di Sumut.
Golkar adalah pemenang Pemilu di daerah ini sehingga wajar jika Bobby sangat membutuhkan jaminan dari Golkar untuk melanjutkan kekuasaannya di masa depan. Makanya, ada peran Jokowi untuk menekan Bahlil agar posisi menantunya mendapat kepastian sejak dini.
Ingat, kekuasaan adalah candu. Jokowi sudah terbuai dengan candu itu sehingga ia begitu berharap Pemilu 2029 menjadi momen bagi bangkitnya lagi kekuasaan keluarga itu.
Kekuasaan juga merupakan tameng terbaik melindungi diri dari tekanan hukum. Kalau saja keluarga Jokowi tidak lagi berkuasa, alamat kasus-kasus korupsi mereka akan terbongkar. Apalagi data-data korupsi itu sudah menumpuk tinggi di laci KPK. Mau tidak mau, kekuasaan itu harus diperkuat lagi.
Saat ini bisa dikatakan Bahlil adalah satu-satunya sosok pemimpin partai di parlemen yang masih sangat loyal kepada Jokowi karena eratnya kaitan sejarah politik di antara keduanya. Sementara pemimpin partai lain, sebut saja Zulkifli Hasan (ketua PAN), Muhaimin Iskandar (Ketua umum PKB) atau Surya Paloh (Ketua Nasdem) cenderung mengikuti arah mata angin. Mereka lebih memilih tunduk kepada penguasa, bukan kepada sejarah.
Sumatera Utara merupakan wilayah yang ingin tetap dikendalikan keluarga Jokowi. Oleh karena itu kemudi Golkar sebagai partai terbesar di daerah ini harus bisa dipegang. Dalam scenarionya, kemudi ini nanti akan diserahkan kepada Hendri Yanto Sitorus, dengan perjanjian Golkar tidak akan berpaling dari Bobby.
Makanya peran Bobby untuk mempengaruhi para ketua DPC Golkar Kabupaten/kota menjelang Musda Golkar awal tahun depan akan sangat vital. Bobby, melalui jejaringnya, akan berupaya menggeser dukungan yang sedianya sudah disiapkan bagi Ijeck, untuk dipindahkan kepada Hendri Yanto Sitorus.
Bisa dikatakan, laju Hendri Yanto Sitorus untuk menduduki singgasana ketua Golkar Sumut bakal berjalan mulus. Selain Ijeck, sampai saat ini belum ada sosok lain yang berambisi merebut singgasana itu.
Ijeck sendiri dalam posisi dikeroyok di sana sini. Ia sudah terpuruk dengan keputusan Bahlil yang memberhentikannya dari kursi ketua Golkar Sumut. Kondisinya semakin ironi setelah Bahlil menugaskan Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai pelaksana Ketua Golkar Sumut sampai selesainya Musda nanti.
Di kalangan para politisi Golkar Sumut, semua paham bahwa Ijeck dan Ahmad Doli Kurnia tidak memiliki hubungan baik. Ada dendam politik di antara keduanya sebagai kenangan saat berlangsung Musda Golkar pada 2020 lalu.
Ahmad Doli adalah sosok yang sangat menentang naiknya Ijeck sebagai Ketua Golkar karena Ijeck dianggap bukan kader sejati. Ia lebih mendukung sahabatnya Yasir Ridho karena memiliki jejak militan sebagai kader.
Tapi kala itu Ijeck mendapat dukungan kuat dari ketua umum Airlangga Hartarto. Ada pula sosok Luhut Binsar Pandjaitan yang bermain di balik layar.
Sekarang peta kekuatan telah berubah. Airlangga Hartarto sudah menjadi pecundang setelah dikudeta oleh Bahlil melalui dukungan Jokowi yang saat itu menjabat presiden. Sementara Luhut tidak akan lagi mendukung Ijeck karena ia pasti membela kepentingan Jokowi. Praktis tidak ada lagi yang bisa diandalkan Ijeck untuk mempertahankan posisi ketua.
Memang terlalu dini untuk mengatakan sejarah Ijeck di partai Golkar telah berakhir. Ia masih muda, peluang bermanuver masih ada. Tapi jika melihat cyrcle kekuasaan di Golkar saat ini, rasanya sulit bagi Ijeck melanjutkan kejayaannya di partai itu. Mau tidak mau ia harus takluk dengan kepentingan Solo.
Namun harus dipahami pula, bukan Bobby yang berperan sebagai pemain sentral dalam scenario ini. Anak muda ini hanya terima bersih. Pemain utamanya adalah Jokowi.
Meski demikian scenario ini masih bisa digagalkan manakala Upaya menggusur Bahlil dari kursi ketua umum Golkar bisa berjalan. Sayangnya upaya penggusuran itu kini sudah redup. Faktanya, Bahlil masih tangguh..!***
