![]() |
| Anies bersama pimpinan Partai Gerakan Rakyat |
Deklarasi Gerakan Rakyat sebagai parpol anyar dilakukan dalam rapat kerja nasional (rakernas) I di Hotel Aryaduta, Jakarta, Minggu (18/1/2026). Ini adalah langkah lanjutan Gerakan Rakyat setelah dibentuk sebagai ormas pada 27 Februari 2025.
Dalam pendeklarasian tersebut, Ketum Gerakan Rakyat Sahrin Hamid menginginkan Anies Baswedan menjadi Presiden Republik Indonesia.
“Satu hal kita menginginkan Indonesia lebih adil dan makmur dan yang kedua kita menginginkan bahwa pemimpin nasional kita nanti InsyaAllah adalah Anies Rasyid Baswedan,” ujar Sahrin.
Pengamat politik Dedi Kurnia Syah berharap Gerakan Rakyat menjadi kekuatan politik yang signifikan, meski ini bukan perkara mudah, apalagi kepercayaan publik pada parpol terus menurun.
Cikal bakal partai Gerakan Rakyat lahir ketika menjelang Pemilihan Presiden 2024. Saat itu, relawan pendukung calon presiden Anies Baswedan melahirkan ormas Gerakan Rakyat. Sahrin Hamid, yang kini menjabat Ketum Partai Gerakan Rakyat hingga 2031, memang merupakan orang dekat Anies.
Ia juga menjadi salah satu juru bicara utama Anies saat Pilpres 2024. Bagi Gerakan Rakyat, Anies yang juga hadir saat acara deklarasi gerakan disebut sebagai tokoh inspiratif dan simbol perubahan.
”Peran Mas Anies Baswedan dalam gerakan ini jelas beliau adalah inspirasi, panutan, dan simbol perjuangan gagasan. Dan, kita di sini adalah bukti bahwa gagasan perubahan itu masih hidup. Bukan hanya milik Mas Anies seorang, melainkan juga menjadi gagasan publik yang akan terus kita perjuangkan hingga sampai akhir nanti,” ujar Sahrin.
Pembentukan ini, kata Sahrin, adalah bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan alat perjuangan politik yang berpihak pada kepentingan rakyat. Semangat kolektif dan gotong royong dari anggota gerakan di sejumlah daerah menjadi landasan untuk berdirinya Partai Gerakan Rakyat.
Meski mengharapkan Anies menjadi pemimpin nasional ke depan, Sahrin belum memutuskan posisi yang tepat untuk dijabat oleh Anies dalam Partai Gerakan Rakyat. Sahrin menyatakan bahwa saat ini susunan kepengurusan masih dirumuskan.
Peneliti senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Lili Romli menuturkan, upaya parpol baru mengasosiasikan diri dengan figur populer jauh sebelum waktu pemilu merupakan bagian dari ikhtiar agar bisa menembus ambang batas parlemen.
Berkaca dari pengalaman pemilu sebelumnya, parpol baru tidak mudah melenggang ke Senayan. Pada Pemilu 2024, tidak ada satu pun parpol baru yang menembus ambang batas parlemen.
Partai Buruh, Partai Kebangkitan Nusantara, Partai Ummat, serta Partai Gelombang Rakyat Indonesia yang merupakan partai baru, gagal menembus ambang batas parlemen. Mereka hanya meraup suara di bawah satu persen.
Hal ini, kata Lili, terjadi lantaran para pemilih sebenarnya sudah tersegmentasi pada partai yang ada sehingga partai baru sulit mendapat dukungan pemilih. Apalagi, parpol yang ada saat ini juga memiliki figure sentral tertentu. Jika parpol baru tidak memiliki tokoh sentral, akan sulit untuk mendapatkan dukungan publik yang luas.
“Atas dasar itu, tidak heran jika partai baru yang saat ini dideklarasikan mengaitkannya dengan tokoh sentral. Harapannya mendapat insentif dari para pendukung figur tersebut,” ujarnya.
![]() |
| Anies Baswedan saat berkampanye pada Pemilu 2024 |
Mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal syarat ambang batas (presidential threshold) pencalonan presiden pada Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang dibacakan awal Januari 2025, setiap parpol peserta pemilu berhak mengajukan calon presiden dan calon wakil presiden.
Putusan ini menghapus syarat pasangan capres-cawapres minimal diusung parpol atau gabungan parpol yang memiliki 20 persen kursi DPR atau memperoleh 25 persen suara sah nasional pada pemilu sebelumnya.
Dengan kata lain, jika Gerakan Rakyat lolos sebagai peserta Pemilu 2029, partai baru ini bisa langsung mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden.
Sementara itu, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) menilai, keputusan Gerakan Rakyat menjadi parpol adalah langkah tepat jika ingin ikut serta dalam kontestasi kekuasaan. Namun, menurut dugaannya, Gerakan Rakyat belum bisa menjadi mesin utama untuk Anies Baswedan pada kontestasi politik 2029 karena masih baru di dunia politik.
Anies Baswedan, kata Dedi, memiliki posisi yang kuat sebagai tokoh politik, sehingga sebetulnya tidak perlu membuat parpol baru.
“Anies sudah menjadi tokoh ikon politik, artinya dia memiliki daya tarik yang kuat dan dapat bekerja sama dengan partai politik yang sudah ada untuk mencapai tujuannya,” kata Dedi.
Dedi berharap Gerakan Rakyat dapat menjadi kekuatan politik yang signifikan. Walaupun membangun parpol baru bukan hal mudah, apalagi sekarang kepercayaan publik pada parpol terus menurun. Namun tidak boleh dibantah, dukungan finansial sangat penting dalam membangun kekuatan parpol ini.
Sejauh ini belum begitu jelas bagaimana kuatnya dukungan finansial untuk membangun perjalanan Partai Gerakan Rakyat ke depan. Jika dukungan itu pas-pasan atau minim, tetap akan sulit bagi Anies untuk melangkah pada persaingan politik nanti. Apalagi Ahmad Ali, politisi Nasdem yang dulu banyak memberi modal bagi perjuangan politik Anies pada Pilpres 2024, justru telah pindah ke PSI.
Artinya, ada kemungkinan Ahmad Ali dan Anies tidak lagi sejalan karena flatform politik yang berbeda.
Maka itu sangat menarik untuk mencari tahu, siapa gerakan sosok pemegang finansial yang kuat untuk memback-up perjalanan politik Anies ke depan. Kalau hanya semangat saja, itu sama saja dengan omong kosong..!**

