-->

Pertama kali ke Daerah untuk Dukung PSI, Jokowi Disambut Demo “Adili Perusak Negeri!”

Sebarkan:

 

Aksi demo mahasiswa menolak kehadiran Jokowi di Makassar

Kunjungan Joko Widodo ke Makassar untuk menghadiri Rakernas PSI mendapat kesan negatif dari para mahasiswa. Belum lagi Jokowi tiba di lokasi pertemuan, Jumat siang (30/1/2026) itu suasana berubah jadi panas. Asap hitam dari ban yang dibakar membubung di udara mengiringi teriakan ratusan mahasiswa yang menolak kedatangannya.

“Menjauh dari kota kami, Jokowi!” demikian salah satu bunyi spanduk itu. Ada pula tulisan  besar berbunyi ”Adili Jokowi yang telah merusak negeri!” dan “Jangan bohongi lagi rakyat ini!”

Aksi yang digelar Aliansi Kesatuan Rakyat Menggugat (Keramat) itu terpusat di depan Hotel Claro Makassar, lokasi berlangsungnya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia. 

Jalan protokol yang biasanya menjadi urat nadi mobilitas kota, mendadak tersendat. Kendaraan mengular hingga pertigaan jalan membuat polisi harus berjibaku mengurai kepadatan lalu lintas.

Gerakan mahasiswa itu bukan sekadar penolakan kedatangan Jokowi yang dijuluki 'Si pembual rakyat'. Di balik orasi dan spanduk itu, terselip kritik terhadap simbol politik yang dianggap mewakili dominasi kekuasaan pusat atas daerah.

Hal itu tergambar dari spanduk bertuliskan, “Sulsel Tidak Tunduk pada Raja Jawa” dan  \ Kami menolak daerah kami Dijadikan Kandang Gajah”.  Dua kalimat ini jelas merepresentasikan kemarahan yang sarat makna simbolik.

Istilah ‘Kandang gajah’ merujuk pada pernyataan elite PSI yang menyebut Sulawesi Selatan berpotensi menjadi basis kekuatan partai berlambang gajah tersebut. Bagi mahasiswa, metafora itu dianggap mereduksi identitas daerah dan memosisikan Sulsel semata sebagai wilayah perebutan kekuasaan, bukan ruang aspirasi warga.

Aksi awalnya berlangsung tertib. Massa berorasi bergantian, menyuarakan kritik terhadap elit nasional dan kebijakan pemerintah. Namun, situasi berubah sekitar 15 menit kemudian.

Aksi demo semakin meningkat setelah sejumlah kader PSI keluar dari area hotel dan mendekati massa. Jarak dua kelompok yang berbeda kepentingan itu sangat tipis. Saling dorong tak terelakkan, memicu kepanikan aparat keamanan.

Beruntung, situasi cepat diredam. Wakil Ketua Umum PSI Ronald Aristone Sinaga alias Bro Ron terlihat langsung mengarahkan kadernya untuk kembali masuk ke hotel guna mencegah bentrokan meluas.

Intervensi aparat dan pengurus partai menurunkan tensi, meski bara ketegangan masih terasa di sepanjang jalur demonstrasi.

Tuntutan  Copot Raja Juli

Tak hanya sekedar menolak kedatangan Jokowi, mahasiswa juga menyuarakan tuntutan pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang turut hadir di Rakernas PSI. Mereka menilai pemerintah gagal menjaga kelestarian hutan yang berdampak pada banjir dan kerusakan lingkungan di berbagai daerah. 

Raja Juli sebagai kader PSI dianggap dalang dibalik rusaknya hutan Sumatera yang menyebabkan bencana di Sumut, Aceh dan Sumbar.

Isu ini menegaskan bahwa demonstrasi tidak semata berangkat dari resistensi politik simbolik, melainkan juga kegelisahan atas tata kelola sumber daya alam.

Sementara di dalam Hotel Claro, suasana kontras berlangsung. Rakernas PSI menjadi ajang konsolidasi kekuatan partai yang tengah membangun pengaruh di kawasan timur Indonesia.

Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep menargetkan partainya mampu menggeser dominasi partai-partai besar di Sulawesi Selatan.

Elite PSI memandang sejumlah tokoh lokal sebagai figur strategis untuk memperkuat basis politik. Narasi ini menunjukkan upaya partai mengonstruksi peta kekuasaan baru di daerah, di tengah resistensi yang menguat di ruang publik.

Tuan Rumah Malu

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin mencatat momen kedatangan Jokowi sekitar pukul 20.30 WITA. Ia tampak mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang dan celana hitam, ia disambut pimpinan serta kader PSI. Agenda politik tetap berjalan, meski di luar ruang rakernas, kritik publik terus bergema.

Namun begitu Jokowi masuk ke Lokasi rakernas di Hotel Claro, ia pun disambut gegap gempita mahasiswa yang menolak kehadirannya.  

Jokowi pada acara Rakernas PSI di Makassar
 Jokowi sejak dulu memang banyak tidak disukasi kalangan mahasiswa, sampai-sampai ia dijuluki The King of Lip Service. Julukan ini merujuk kepada prilaku Jokowi yang suka berdusta kepada rakyat.

Tidak terhitung berapa banyak dusta yang telah disampaikan Jokowi saat ia memerintah negeri ini sepanjang 2014-2024. Majalah Tempo bahkan pernah menampilkan wajahnya sebagai cover dengan bayang-bayang hidung panjang. Wajah di sampul itu merujuk kepada cerita rakyat Pinokio yang hidungnya semakin panjang tatkala setiap kali ia berdusta.

Elit PSI sama sekali tidak menduga adanya aksi yang digelar mahasiswa ini. Mereka merasa malu karena tidak menyangka aksi seperti itu sempat menghadang Jokowi yang hendak masuk ke ruang pertemuan.

Demonstrasi Makassar mencerminkan dinamika demokrasi yang terus bergerak. Jalanan menjadi ruang artikulasi kritik sekaligus arena kontestasi narasi antara kekuasaan dan aspirasi warga. Simbol, metafora, dan pernyataan politik terbukti mampu memantik reaksi sosial yang luas.

Di antara asap ban dan gemuruh orasi, Makassar sore itu bukan sekadar menyaksikan demonstrasi. Kota ini menjadi panggung tempat ide, identitas, dan kekuasaan saling berhadapan membentuk fragmen demokrasi yang masih mencari keseimbangannya.

Aksi seperti itu akan terus terjadi manakala Jokowi akan berkunjung ke kota lainnya untuk menjalankan kampanye demi kekuasaan keluarganya di panggung politik.  

Mahasiswa tidak anti PSI, tapi resah dengan nafsu politik Jokowi yang tetap mengintai ruang indah untuk menempatkan anak dan menantunya dalam lingkup kekuasaan. Cara-cara busuk bisa jadi akan terus dilakukan demi memenuhi hasrat politik itu, mulai dari mengubah Undang-undang sampai mengandalkan Partai Coklat..! ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini