-->

Hindari Propaganda Amerika dan Israel, Prabowo Tunda Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza

Sebarkan:

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi saat konferensi pers di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (6/1/2025).
Setelah mendapat kritik bertubi-tubi, Presiden Prabowo mulai menyadari kesalahannya soal campur tangan Indonesia yang membantu Amerika dan Israel dalam menguasai Palestina. Salah satu bentuk kesadaran itu adalah ditundanya pengiriman pasukan TNI ke Gaza.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan bahwa Pemerintah Indonesia resmi menunda pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza setelah melihat buruknya eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Prasetyo belum mengelaborasi sampai kapan pengiriman pasukan akan ditunda. Menurutnya, penundaan  itu sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Semua di-hold, ya sampai batas waktu yang belum ditentukan,” ujar Prasetyo kepada awak media, Selasa (17/03/2026).

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan Indonesia berkomitmen mengirim 8.000 pasukan perdamaian ke Gaza. Hal ini disampaikan Prabowo di sela-sela pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) di Washington D.C., Kamis (19/2/2026) waktu setempat.

Prabowo mengatakan Indonesia siap mengirim pasukan perdamaian untuk berpartisipasi aktif dalam International Stabilization Force (ISF). Adapun, salah satu tugas ISF adalah menstabilkan lingkungan keamanan di Gaza.

“Oleh karena itu, kami menegaskan kembali komitmen untuk menyumbangkan sejumlah besar pasukan, hingga 8.000 atau lebih jika perlu. Kami siap menyumbangkan pasukan untuk berpartisipasi aktif dalam International Stabilization Force agar perdamaian ini dapat terwujud,” ujar Prabowo, Kamis (19/2/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Komandan International Stabilization Force (ISF) Mayor Jenderal Angkatan Darat AS Jasper Jeffers mengatakan Indonesia telah menerima tawaran sebagai Wakil Komandan ISF.

Banyak yang mengecam langkah Prabowo yang mengirim pasukan TNI ke Gaza karena mereka yakin kehadiran TNI di sana pasti akan membuat suasana semakin kacau. Terlebih setelah Prabowo membawa Indonesia bergabung dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian.

Semua orang tahu, Board of Peace adalah organisasi yang berada di bawah kendali Amerika dan Israel. Indonesia dipaksa ikut bergabung dalam organisasi itu karena rasa takut Prabowo kepada Trump.

Masuknya Indonesia dalam Board of Peace kabarnya merupakan salah satu persyaratan agar Trump mau memberikan keringanan tarif bagi masuknya produk Indonesia ke Amerika.

Ironisnya, demi penurunan tarif impor itu, Prabowo rela menjual harga diri bangsa dengan menandatangani perjanjian dagang yang tidak seimbang. Amerika benar-benar sangat diuntungkan dalam perjanjian dagang itu. Setidaknya, negara itu kini bisa menguasai sumber daya alam hasil tambang Indonesia.

Yang menyedihkan lagi, Indonesia wajib tunduk kepada kebijakan Amerika yang memaksa Indonesia masuk dalam board of Peace. Prabowo diiming-iming bahwa Board of Peace akan merancang kemerdekaan bagi Palestina. Apa masuk diakal janji seperti ini?

Pastinya hanya orang yang tidak punya akal sehat yang percaya janji tersebut. Bagaimana mungkin Amerika dan Israel mau memerdekakan Palestina sementara sampai saat ini kedua negara itu terus melakukan serangan ke seluruh wilayah itu. Malah negara tetangga Palestina, Libanon, juga mereka invasi.

Malah Israel bertekad akan melanjutkan penguasaan mereka terhadap negara-negara lain di sekitar Timur Tengah. Saat ini Israel dan Amerika sedang berjuang untuk menaklukkan Iran. 

Masih mau percaya Israel dan Amerika akan memerdekaan Palestina? Mungkin hanya orang yang tidak punya otak yang percaya janji manis ini.

Entah mengapa, Prabowo justru masih saja percaya dengan  janji itu.  Sampai-sampai ia bertekad akan mengirim pasukan TNI untuk bertugas di  Gaza dengan dalih mengawal perdamaian Palestina.

Rencana ini yang menjadi bahan tertawaan banyak orang. Betapa tidak, jika pasukan TNI akan dikirim ke Palestina, sudah pasti saat di lapangan, pasukan itu berada di bawah komando pasukan Board of Peace, bukan lagi di bawah kendali Prabowo.

Mereka akan tunduk kepada komandan Board of Peace yang notabene  berada dalam kendali Amerika dan Israel. Komandan ini pasti tahu bahwa pasukan TNI akan berpotensi berhadapan dengan pasukan Israel.

Untuk mencegah hal itu,  nantinya pasukan TNI tentu tidak akan ditempatkan di kawasan-kawasan yang rawan konflik dengan Israel, melainkan ditempatkan di basis-basis Hamas dan pejuang Palestina lainnya. Dengan demikian, ada peluang Amerika dan Israel untuk mengadu domba pasukan TNI dengan para pejuang Palestina.  

Jika kedua pasukan ini terlibat dalam konflik, maka situasinya akan semakin rumit karena kehadiran pasukan TNI di Gaza justru menghadirkan konflik baru antara Indonesia dengan pejuang Palestina.

Oleh sebab itu, sejak awal pimpinan Hamas sudah menyerukan agar Indonesia jangan sampai mengirim pasukan TNI ke Gaza. Bagaimanapun juga, Amerika dan Israel akan berupaya menciptakan konflik baru antara Palestina dan pasukan Indonesia.

Berkali-kali para pengamat mengingatkan Prabowo tentang kemungkinan scenario buruk ini, tapi karena Prabowo begitu takut dengan Turmp, ia berupaya menutup mata.

Sampai akhirnya Prabowo mulai sadar dengan kemungkinan strategi Amerika dan Israel itu, sehingga akhirnya  pengiriman pasukan TNI ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Tentu saja ini kabar baik bagi rakyat Indonesia. Dengan demikian TNI tidak menjadi korban adudomba saat berada di Gaza. Semestinya Prabowo mengambil langkah selanjutnya, yakni menarik Indonesia dari Board of Peace yang jelas-jelas dibawah kendali para zionis.

Negara sekecil Malaysia saja berani melawan kebijakan ekonomi Trump dan menolak merendahkan harga diri  bangsa mereka dibawah kendali Amerika. Anehnya, Indonesia kok seperti ayam sayur. Dasar antek asing..!***

 

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini