Malaysia tegas menyatakan perjanjian dagangnya dengan
Amerika Serikat tidak lagi berlaku setelah Mahkamah Agung AS membatalkan dasar
hukum tarif timbal balik yang sebelumnya dipakai Washington. 
Menteri Investasi dan perdagangan Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani
Pernyataan itu disampaikan Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysi Datuk Seri Johari Abdul Ghani, perjanjian dagang timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Malaysia dan AS diteken pada 26 Oktober 2025.
Dalam skema itu, tarif barang Malaysia ke pasar AS turun dari 47 persen menjadi 24 persen, lalu 19 persen, sementara sejumlah produk mendapat bea masuk nol persen. Sebagai gantinya, Malaysia membuka akses pasar yang lebih luas dan memberi sejumlah konsesi kebijakan kepada AS.
Masalah muncul setelah Mahkamah Agung AS pada 20 Februari 2026 memutuskan bahwa IEEPA tidak memberi kewenangan kepada presiden untuk mengenakan tarif semacam itu. Dengan putusan itu, dasar hukum yang menopang kebijakan tarif Trump runtuh.
Sesudah putusan itu, Trump tetap melanjutkan tekanan dagang dengan jalur lain. Ia menerapkan tarif 10 persen untuk semua negara selama 150 hari, lalu menyatakan tarif itu akan diganti menjadi 15 persen. Di saat yang sama, Washington juga membuka penyelidikan dagang baru terhadap banyak negara.
Kuala Lumpur menilai perjanjian itu tak lagi punya pijakan yang sama seperti saat ditandatangani. Lembaga Global Trade Research Initiative menilai keadaan ini bisa mendorong negara lain meninjau ulang kesepakatan serupa dengan AS, karena keuntungan tarif yang dijanjikan sudah hilang, sementara tekanan dagang dari Washington tetap jalan.
Selain Malaysia, Indonesia juga menandatangani kesepakatan dagang ART dengan Amerika untuk penurunan tarif bea masuk itu. Perjanjian dagang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Donald Trump di Washington pada 18 Februari 2026.
Banyak analisi ekonomi dan politisi nasional yang memprotes isi perjanjian itu karena sangat tidak seimbang. Amerika sangat diuntungkan karena bisa menguasai sumber daya alam Indonesia. Mereka juga leluasa memasukkan produk non sertifikasi halal ke Indonesia.
Sementara Indonesia hanya meminta penurunan tarif hingga 19 persen. Sebagian ada yang memang no persen. Tapi intinya, perjanjian itu sangat tidak seimbang karena lebih banyak menguntungkan Amerika.
Ironisnya, dua hari setelah penandatanganan ART itu, Mahkamah Agung membatalkan semua kebijakan tarif Donald Trump. Kebijakan tarif hanya bisa berlaku 10 persen. Artinya, ART yang ditandatangani dengan Indonesia juga seharusnya batal.
Malaysia dengan lantang berani menyatakan kalau kesepakatan dagang dengan Amerika telah dibatalkan. Mereka cenderung merujuk kepada Keputusan Mahkamah Agung Amerika yang justru menekan tarif menjadi lebih murah.
Sedangkan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo, sama sekali tidak berani mengambil langkah pembatalan apapun. Prabowo sangat takut dengan Trump. Bahklan sampai-sampai ia tunduk kepada perintah Trump yang memaksa Indonesia berpihak kepada Israel untuk konflik yang terjadi di Palestina.
Indonesia dipaksa masuk menjadi anggota Board of Peace yang di dalamnya terdapat perwakilan Israel. Sementara perwakilan Palestina sama sekali tidak dilibatkan.
Begitupun, Prabowo masih berupaya membodohi rakyat Indonesia dengan mengatakan bahwa Board of Peace akan berjuang bagi kemerdekaan Palestina. Ia mengaku akan membawa Indonesia keluar dari organisasi itu bila tujuannya tidak untuk kemerdekaan Palestina.
Pandangan apa itu? Apa mungkin lembaga yang dikelola Amerika dan Israel bersedia memberikan kemerdekaan bagi Palestina? sedangkan mereka justru ingin menguasai wilayah itu. Apakah Prabowo menganggap semua warga Indonesia ini orang bodoh?
Saat ini Amerika malah sedang mempertimbangkan kemungkinan mendukung invasi Israel di wilayah Timur Tengah semakin diperluas. Pekan ini Trump sedang membahas perlunya perluasan serangan Israel ke Libanon dengan alasan untuk memburu kelompok Hizbullah.
Masih percaya kalau Amerika dan Israel mau memberi kemerdekaan kepada Palestina? Berarti Anda percaya dengan iblis..!***