-->

Sejumlah Tokoh Sumut Gelar Doa Bersama Malam ke-3 Wafatnya Pak Try

Sebarkan:

Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 RI
Kepergian wakil presiden ke-3 Jenderal (purn) Try Sutrisno ke pangkuan Sang Khalik pada Senin (2/3/2026) tidak hanya menghadirkan duka mendalam secara nasional, tapi juga memunculkan rasa sedih bagi masyarakat Sumatera Utara. Hal ini disebabkan adanya hubungan emosional yang sangat dekat antara almarhum dengan daerah ini.

Untuk mengenang peran Pak Try – demikian sapaan akrabnya – sejumlah tokoh Sumut akan menggelar doa bersama pada malam ketiga atas kepergian sosok teladan itu. Acara takziah dan berkirim doa  diselenggarakan pada Rabu (4/3/2026) di rumah tokoh Melayu Sumut, Syarifuddin Siba, Aobi CafĂ©, jalan Singgalang 1 Medan.

Sejumlah tokoh dan senior Sumut akan hadir menyemarakkan acara itu, seperti  Nurdin Lubis  dan Hasban Ritongan ( keduanya mantan Sekda Sumut), Asren Nasution ( mantan perwira TNI dan juga pejabat Permprovsu), Irmansyah Lubis (Ketua Overlanding Indonesia), Dr Edy Sofyan dan sejumlah pengurus serta mantan pengurus Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45, dan tokoh adat lintas etnis lainnya.

kegiatan dimulai setelah sholat asyar, dibarengi acara pengajian yang disusul tausiah mengenang Pak Try, lalu dirangkai dengan acara berbuka puasa bersama. 

Acara malam takziah itu merupakan persembahan masyarakat Sumut atas pengabdian dan dedikasi Pak Try kepada bangsa.

Syarifuddin Siba menyebutkan, sewaktu menjabat sebagai Panglima TNI hingga sebagai wakil presiden (1993-1998), Pak Try termasuk yang  memberi perhatian cukup  besar bagi kemajuan Sumatera Utara. Tak heran jika sejumlah tokoh etnis, intelektual dan tokoh adat di Sumut merasa dekat dengan sosok tersebut.

"Saat berkunjung ke Sumut,  tak jarang Pak Try selalu menyempatkan bersilaturrahmi dengan para tokoh adat di daerah ini," kata Siba.

Syarifuddin Siba merasakan sendiri betapa santunnya sosok Try dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

“Ia sosok yang rendah hati, sangat membumi dan peduli dengan masyarakat,” tambahnya.

Sebagai panglima TNI dan wakil presiden, sosok Try Sutrisno jauh dari kesan kontroversi. Namanya sama sekali tidak pernah terlibat dalam hiruk pikuk masalah bisnis dan  berbagai kegiatan yang dinilai di luar jalur. Sangat berbeda jauh dengan kebanyakan pejabat yang lainnya.

Tak mengherankan jika sosok Try dikenal sebagai figur pemimpin yang bersih, merakyat dan jauh dari kesan glamor. Saat aktif di Pemerintahan hingga menjelang akhir hayatnya, Pak Try cukup banyak terlibat dalam kegiatan social. 

Pak Try lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur dan termasuk salah satu Wakil Presiden Indonesia yang berasal dari golongan militer.  Ia memulai Pendidikan militer saat diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) ada 1956.

Adapun Try Sutrisno sudah mengenal Pak Harto di masa Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962.

Singkat cerita pada 1974, ia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Pada Agustus 1985, pangkat Try Sutrisno naik menjadi Letnan Jenderal TNI sekaligus diangkat menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakil KSAD) mendampingi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) saat itu Jenderal TNI Rudhini.

Tak lama menjabat sebagai Wakil KSAD, pada Juni 1986 atau 10 bulan sejak diangkat menjadi Wakil KSAD, Try pun kemudian diangkat menjadi KSAD menggantikan Rudhini.

Selanjutnya, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1992-1997 memilih Try Sutrisno menjadi Wakil Presiden mendampingi Soeharto melalui Sidang Umumnya pada 1993. Pada 1998 tugasnya sebagai wakil presiden berakhir dan digantikan oleh BJ Habibie dalam Sidang Umum MPR. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini