![]() |
| Beginilah sepinya pagelaran PRSU 2026 |
Memasukipekan terakhir pelaksanaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026, tanda-tanda kegagalan semakin tampak di depan mata. Jumlah pengunjung sangat jauh dari harapan. Transaksi bisnis sangat minim. Para pedagang yang terlanjut menyewa lapak mengaku rugi besar. Bisa dikatakan, PRSU 2026 adalah yang terburuk dalam sejarah.
Konser music akhir pekan yang biasanya selalu menjadi magnet untuk memikat pengunjung, tetap gagal menghadirkan penonton dalam jumlah besar.
Wajar saja, sebab dari 15 penyangi dan group band yang diundang, paling hanya satu dua yang memikat, seperti konser Maliq D’Essensials yang berlangsung pada 11 Juli 2026 dan Budi Doremi pada 24 Juli. Selebihnya, yang tampil adalah penyanyi yang kurang mengundang minat pengunjung.
Minimnya pengunjung yang hadir membuat para pengelola usaha kuliner kecewa berat. Mereka rugi besar.
Tadinya mereka berharap bisa meraup untung dengan membuka dagangan di event itu. Namun yang didapat justru kehancuran. Tidak sedikit pedagang kuliner yang sudah menghentikan usahanya pada pekan kedua.
“Semakin lama kita buka, semakin besar kerugian. Dari pada rugi terus, lebih baik tutup saja sekalian. Memang parah kali PRSU tahun ini. Kami sering membuka usaha di acara seperti ini, baru tahun ini pelaksanaanya hancur-hancuran. Semua pedagang rugi,” kata Deni, pengelola usaha warung nasi di arena itu.
Deni mengaku setiap ada PRSU, ia selalu menyewa lapak untuk usaha kuliner. Biasanya sewa selama acara digelar. Ia berani melakukan itu karena berharap bisa meraup untung lumayan seperti PRSU sebelumnya.
Namun tahun ini, yang didapat hanyalah buntung.
Padahal biaya sewa lapak cukup mahal. Tarif sewa lapak mencapai 10 juta selama PRSU berlangsung. Kalau yang mau sewa harian, bayarnya Rp270 ribu per hari.
Deni menyewa lapak sepanjang acara, selama 31 hari. Ia mengaku terbuai janji panitia yang mengatakan PRSU kali ini akan mendulang sukses besar karena menyajikan acara lebih baik dibanding sebelumnya. Ia juga mendengar Gubernur Bobby Nasution begitu yakin akan suksesnya PRSU tahun ini sehingga bertekad mendorong PRSU masuk Kalender Nasional.
“Kalau sudah masuk Kalender tingkat nasional, artinya memang PRSU era Bobby ini sudah sangat hebat lah. Katanya akan dihadiri ratusan ribu pengunjung. Makanya kami tertarik sewa lapak, langsung kontrak selama acara berlangsung,” kata Deni.
Ia begitu optimis, sebab Gubernur Bobby dan Pj. Sekda Sulaiman berani memasang target bisa menghadirkan 300 ribu pengunjung ke arena PRSU 2026. Dengan kata lain, rata-rata setiap harinya event itu setidaknya bisa mendatangkan sekitar 10 ribu.
”Kami tentu saja tergoda dengan angka itu. Bisa mendatangkan pengunjung rata-rata 10 ribu per hari, itukan luar biasa. Tentu itu peluang emas untuk usaha kuliner,” kata Deni.
Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Jangankann mendatangkan pengunjung 10 ribu per hari, bahkan 200 orang per hari saja sulit.
Di akhir pekan yang biasanya ramai didatangi pengunjung karena ada konser musik, kenyataanya tetap sepi. Hanya saat konser Maliq D’Essesial dan Budi Doremi jumlah pengunjung lumayan ramai, berkisar 1.000 orang. Itupun mereka datang hanya untuk nonton konser.
“Setelah konser selesai, pengunjung pulang. Mereka tidak tertarik berkeliling di arena PRSU karena memang tidak ada yang menarik. Warung kuliner pun sepi” ujar Deni.
Pada hari-hari biasa, praktis yang ada di PRSU itu hanyalah petugas yang berjaga di stand masing-masing. Pengunjung yang bayar tiket bisa dihitung dengan jari.
“Hancur kalilah pokoknya,” kata Deni. “Makanya, saya berpendapat PRSU tahun ini merupakan yang terburuk dalam sejarah. Harusnya Gubernur Bobby malu dengan situasi ini. Terlalu besar janjinya, realitanya jauh dari harapan,” tambahnya.
Situasi itu sangat berbeda dengan event PRSU sebelumnya di mana pada siang hari pun pengujung juga banyak yang datang.
PRSU terakhir yang digelar sebelumnya adalah pada 16 Juni hingga 17 Juli 2023 di masa Gubernur Edy Rahmayadi. PRSU di masa itu bisa dikatakan cukup sukses.
Sampai hari penutupan, jumlah pengunjung yang membeli tiket tercatat mencapai 120 ribu orang. Jumlah traksaksi yang berlangsung selama kegiatan berkisar Rp50 miliar. Tampak jelas kalau Gubernur Edy Rahmayadi merancang PRSU tersebut dengan tim kerja yang professional.

Penjualan tiket yang sepi saat pagelaran PRSU
Artis yang didatangkan setiap pekan juga cukup berkelas. Sebut saja misalnya, Gigi Band, Setia Band, Anji, Mahalini, Ungu, Virzha, dan Naff. Pernyanyi seperti itu jelas punya penggemar cukup banyak. Tak heran jika setiap akhir pekan, pengunjung selalu membludak.
Harga tiket di masa itu juga relatif murah, Rp 20 ribu di hari biasa, Rp 50 ribu (khusus di hari Sabtu karena ada konser music).
Adapun pada 2024 dan 2025 kegiatan PRSU ditiadakan dengan alasan berbeda. Pada 2024 ditiadakan karena padatnya agenda Pemilu, sedangkan pada 2025 ditiadakan dengan karena untuk efisiensi anggaran. Baru pada 2026 event PRSU kembali dihadirkan. Jadi ini yang pertama di era Gubernur Bobby Nasution.
Sayangnya, kegiatan ini berlangsung tanpa perencanaan yang matang. Bobby dan panitia pelaksana hanya mengumbar janji dan berkoar-koar di media, menggambarkan seolah PRSU tahun ini sangat Istimewa karena jauh lebih menarik dibanding PRSU sebelumnya. Namun yang tampak di lapangan berbanding terbalik.
Parahnya lagi, harga tiket naik drastis. Harga tiket di hari biasa sebesar Rp35 ribu, sedangkan di akhir pekan Rp75 ribu. Sedangkan pada PRSU sebelumya, harga tiket cuma Rp20 ribu di hari biasa, dan Rp50 ribu saat berlangsung konser. Jadi ada kenaikan 75 persen.
Selain harga tiket melonjak, panitia juga mengundang artis yang sebagian besar kurang memiliki penggemar di Sumut. Sebut saja misalnya, artis dangdut Juwita bahar, Happy Asmara dan Nasar. Ada pula artis yang namanya tidak terlalu terkenal, seperti Mahen, Osen Hutasoit, Tony Q Rasfata, Jun Munthe dan Band Indie.
Hanya sedikit artis yang punya nama, seperti Maliq D’Essensial, Budi Doremi, dan Ghea. Dari semua artis itu, praktis hanya saat konser Maliq D Essesial yang pengunjungnya ramai. Selebihnya sepi.
Makanya sangat aneh mengapa panitia PRSU 2026 berani memasang target bisa menjaring 300 ribu pengunjung selama 31 hari pagelaran. Gila kan..! Sepertinya panitia tidak punya otak..!
Akhirnya yang dihasilkan adalah kekecewaan public. Anggaran habis, penonton sepi. Pedagang rugi. Tak heran jika panitia PRSU 2026 jadi sasaran caci maki.
Sampai-sampai anggota Komisi B DPRD Sumatera Utara, Rudi Alfahri Rangkuti malu melihat pelaksanaan PRSU tahun ini. Ia lantas mendesak Gubernur Bobby untuk mencopot Direktur Utama PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU) selaku ketua peyelanggara acara.
Rudi juga kecewa dengan Bobby karena tidak bisa memimpin tim yang baik untuk menyelenggarakan PRSU berkualitas.
Menurut Rudi, ada dua faktor utama yang membuat PRSU sepi peminat. Pertama, harga tiket masuk yang nak terlalu mahal, dan kedua, konsep acara yang tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Sangat membosankan. Anak kecil pun tidak tertarik datang.
"Konsepnya itu-itu saja, tidak ada inovasi baru yang membuat masyarakat tertarik untuk datang. Akhirnya masyarakat merasa bosan karena acaranya yang monoton," kata Rudi saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (20/7/2026).
Belum ada pernyataan resmi dari Gubernur Bobby dan Pj Sekda Sulaiman Harahap terkait minimnya pengunjung di PRSU tahun ini. Bisa jadi mereka sedang merancang siasat agar saat penutupan nanti bisa menyampaian pidato bahwa PRSU 2026 berlangsung sukses, pengunjung yang membludak dan transaksi puluhan miliar.
Hahhaa…awas, jangan sampai tertipu penguasa bermulut besar. Lihat kenyataanya di lapangan…!***
