-->

Teriak 'Free Palestina..!', Aktivis Flotilla Dipaksa Sujud Menyembah Bendera Israel

Sebarkan:

y

Sebanyak 430 relawan yang bergabung dalam Global Sumud Flotilla dipaksa sujud menyembah bendera Israel. Dari 430 relawan itu, terdapat 9 dari Indonesia.
Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Maimon Herawati, membenarkan adanya kekerasan terhadap relawan Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditahan oleh pasukan Israel sejak Senin (18/5/2026). Kekerasan tersebut tampak jelas melalui video yang diunggah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, di media sosial.

Dalam video itu, sejumlah relawan terlihat berlutut dengan tangan terikat di depan bendera Israel. Salah satu relawan perempuan sempat meneriakkan “Free Palestine”. Namun ia kemudian dijambak sebelum dipaksa menundukkan kepala hingga bersujud.

Sedangkan  Ben-Gvir terlihat tersenyum sambil berjalan mengelilingi para relawan sambil mengibarkan bendera Israel.

Maimon mengatakan video tersebut memang memperlihatkan relawan Global Sumud Flotilla yang ditangkap saat misi kemanusiaan menuju Gaza.

“Kalau video kekerasan itu memang terjadi. Salah satu perempuan yang berteriak ‘Free Palestine’ lalu kemudian rambutnya dijambak dan kepalanya didorong ke bawah itu sahabat saya. Beliau berasal dari Irlandia,” kata Maimon dalam konferensi pers virtual GPCI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Ia mengaku mengenali salah satu korban dalam video tersebut, meski sebagian besar wajah relawan lain tidak terlihat jelas.

“Adapun wajah-wajah yang lain kami belum bisa mendeteksi kecuali satu politisi dari Italia,” ujarnya. Maimon juga menegaskan perlakuan kasar terhadap para relawan memang benar terjadi.

“Pertanyaannya apakah kekerasan itu terjadi? Terjadi karena memang begitulah Israel. Kita harus tahu mereka jauh lebih brutal disiksa oleh penjahat kemanusiaan itu,” katanya.

Di antara ratusan relawan yang ditahan Israel, terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI). Namun hingga kini kondisi mereka belum dapat dipastikan. Pemerintah Indonesia tidak tahu harus berbuat apa menangani kasus itu. Apalagi Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono terkesan kebigungan.

Sugiono disebut-sebut Menlu yang tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.  Selama kepemimpinannya, banyak kebijakan Kemenlu yang kacau balau. Tak heran jika citra Indonesia semakin menurun di Tingkat internasional.

Tampaknya WNI yang ikut ditangkap dalam rombongan itu hanya bisa berharaap dari bantuan negara lain, bukan dari pemerintah Indonesia.  Bahkan sampai saat ini pemerintah tidak bisa mencari informasi soal keberadaan 9 WNI yang ikut diculik pasukan Israel itu.

“Sampai saat ini saya tidak bisa memastikan apakah sembilan sahabat-sahabat kita ada di antara teman-teman yang terlihat sedang diperlakukan tidak baik,” tutur Maimon.

Global Sumud Flotilla sebelumnya menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza sebelum dicegat pasukan Israel di perairan internasional. Sebanyak 430 relawan kemanusiaan yang bergabung dalam konvoi itu diculik dan ditahan oleh pasukan Israel. Selama penahanan, mereka mendapat perlakuan yang kejam.

Saat ini, jaringan relawan internasional disebut tengah mengupayakan pembebasan seluruh aktivis yang ditahan. Soal upaya dari Pemerintah Indonesia, jangan berharap banyak. 

Kalaupun para aktivis itu nantinya akan dibebaskan,  sama sekali bukan karena perjuangan dari Pemerintah Indonesia, tapi berkat bantuan dari internasional karena sebagian besar dari 430 relawan yang ditahan itu adalah warga Eropa. Hanya 9 yang berasal dari Indonesia. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini