-->

Dino Patti Djalal Kritik Perjalanan Luar Negeri Prabowo, Teddy Membalas seperti Anak-anak

Sebarkan:

Dino Patty Djalal

Perjalanan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali keluar negeri menghadirkan kritik tajam dari Dino Patti Djalal, diplomat sarat pengalaman yang terkenal sebagai penggagas perkumpulan diaspora Indonesia. Kritik itu sangat wajar, sebab sejak dilantik sebagai Presiden pada Oktober 2024, Prabowo sudah melakukan 26 rangkaian perjalanan dinas luar negeri (atau sekitar 49 hingga 58 lawatan spesifik) ke 29 negara berbeda.

Dalam kurun waktu tersebut, ia telah menghabiskan total lebih dari 100 hari di luar negeri. Bisa dikatakan, Prabowo adalah presiden yang paling  banyak melakukan perjalanan keluar negeri. 

Sudah pasti anggaran yang digunakannya sangat besar. Padahal manfaat perjalanan itu tidak jelas.

Maka itu, Dino Patti Djalal yang pernah menjabat Duta Besar di Amerika Serikat dan wakil Menteri Luar Negeri menyarankan agar Prabowo mengurangi perjalanan ke luar negeri itu.

"Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," ujar Dino.

Dino menilai Prabowo menjadi kepala negara tersering yang melakukan perjalanan ke luar negeri sejak menjabat. Ia menyebut kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar, termasuk biaya rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler, hingga pengamanan.

"Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri," katanya.

Satu perjalanan ke luar negeri, menurut Dino, bisa menelan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Berangkat dari itu, Dino menyarankan lima hal kepada Prabowo. Berikut saran dari Dino:

Pertama, Dino menyarankan Prabowo lebih mengandalkan video call, Zoom call, atau telepon untuk berkomunikasi dengan pemimpin dunia. Kata Dino, biasanya pembicaraan kunjungan bilateral berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam.

"Untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain, kami menyarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan video call atau Zoom atau telepon," ujar Dino.

Perihal ini, Dino mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, yang sudah 17 kali menelepon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kata Dino, Claudia belum sekali pun melakukan pertemuan bilateral, padahal Amerika adalah mitra perdagangan terbesar bagi Meksiko.

Kedua, Dino menyarankan Prabowo memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional bertemu kepala negara lain yang juga hadir. Dino menyebut Presiden Finlandia Alexander Stubb pernah meminta waktu bertemu dengan Prabowo saat sidang PBB di New York, tapi tidak direspons.

"Untuk menghemat biaya dan waktu, kami juga menganjurkan agar Presiden Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara lain yang juga hadir," kata Dino.

"Konon, sewaktu menghadiri sidang PBB di New York tahun lalu, Presiden Finlandia Alexander Stubb, yang merupakan pemimpin Barat yang paling progresif dan pidatonya juga banyak disorot, meminta waktu untuk bertemu dengan Presiden Prabowo di New York, tapi tidak pernah direspons, entah kenapa," imbuhnya.

Tak hanya itu, ia mengatakan dalam KTT ASEAN di Cebu, Filipina, seorang kepala pemerintah negara ASEAN mengarahkan pertemuan bilateral, tapi juga tidak pernah direspons. Dino menyarankan Istana menerapkan formula 1 plus 8, yaitu dalam menghadiri forum internasional, Prabowo bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang juga hadir.

Ketiga, Dino menyarankan kunjungan internasional Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik. Dino mengamati ada sejumlah kunjungan yang dilakukan secara spontan, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas, sehingga secara garis besar perlu dipetakan setahun sebelumnya.

"Baik Seskab Teddy atau Menlu Sugiono perlu mengumumkan rencana kunjungan Presiden ke suatu negara satu bulan sebelumnya, atau minimal seminggu sebelum hari-H. Dan diumumkan juga bersamaan dengan negara yang akan dikunjungi. Kunjungan Presiden ke Pakistan dan Rusia sewaktu bencana banjir Sumatera misalnya dilakukan tanpa ada informasi apapun kepada publik sebelum berangkat. Perlu lah diterapkan asas akuntabilitas dan transparansi karena cukup sering publik tidak tahu Presiden ada di mana di luar negeri," ujar Dino.

Keempat, Dino menyarankan untuk satu tahun ke depan Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Tanah Air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. Dino mencontohkan Presiden China Xi Jinping, yang lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri.

"Saya juga menganjurkan untuk satu tahun ke depan Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Tanah Air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. Inilah yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri," kata Dino.

Dan kelima, Dino menyarankan ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat ditangani Menlu Sugiono. Hal ini menurut Dino akan menghemat biaya karena perjalanan Menlu hanya didampingi oleh tiga orang staf, akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan presiden.

"Di sini Menlu Sugiono harus melepaskan diri sebagai bagian dari entourage Presiden, yang harus selalu berada di samping Presiden. Ingat, Menlu Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, dan Retno Marsudi semuanya tidak pernah menempatkan diri sebagai bagian dari entourage presiden dan mereka fokus total untuk menangani politik luar negeri," tuturnya.

Tanggapan Kekanak-Kanakan Teddy

Saran dari Dino itu pun ditanggapi Seskab Teddy Indra Wijaya. Soal biaya ke luar negeri, kata Teddy, kelebihan biaya kunjungan luar negeri Prabowo ditanggung pribadi.

"Karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau luruskan beberapa hal," kata Teddy melalui video yang diunggah akun media sosial Sekretariat Kabinet, Senin (1/6).

Prabowo Subianto, Presiden yang paling banyak menghabiskan uang untuk perjalanan ke luar negeri
Teddy menyampaikan terima kasih atas masukan yang telah diberikan dengan sangat cermat dan terstruktur. Teddy mengatakan kelebihan biaya kunjungan luar negeri Prabowo dari kocek pribadi. Anehnya, Teddy  menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan.  Terlihat jelas Teddy seperti seorang anak-anak.

"Saya pikir Beliau adalah Diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," kata Teddy.

Dalam video itu, terlihat sekali kalau tulisan ‘3 bulan’  dibuat cetak tebal sebagai penegasan. Bagi public yang cerdas tentu paham kalau masalah itu  tak ada hubungannya dengan kritik yang disampaikan oleh Dino. Apalagi soal kunjungan Prabowo ke luar negeri ini juga menjadi isu yang meresahkan rakyat. Teddy juga dinilai merendahkan Dino hanya karena menjabat tiga bulan saja sebagai Wamenlu. Teddy tidak sadar kalau ia sedang mempermalukan dirinya sendiri.

Apalagi ada punya pernyataan bahwa perjalanan Prabowo itu telah berhasil  menghadirkan investasi sebesar Rp2.430 triliun dalam satu setengah tahun terakhir. Tentu saja pernyataan ini semakin kekanak-kanakan, sebab investasi yang dihasilkan dari perjalanan itu masih bersifat komitmen.

Dan bisanya, banyak sekali komitmen investasi yang tidak bisa direalisasikan. Hanya janji manis, tapi berujung rasa hambar.  

Lagi pula, tentu kapasitas Teddy tidak sebanding dengan Dinoa Patty Djalal yang berpengalaman luas dalam diplomasi internasional. Karir Dino dicapai karena kecerdasannya, sementara karir Teddy terlihat jelas sangat karbitan. 

Teddy  begitu cepat naik pangkat tanpa melalui proses yang normal. Semua itu karena hubungan istimewanya dengan Presiden Prabowo. Sampai-sampai ada yang mengatakan kalau hubungan mereka tidak wajar karena penyimpangan prilaku. Malah dalam beberapa meme yang beredar di media sosial, Teddy disebut-sebut sebagai ibu negara.

Sedangkan Dino adalah sosok pemikir yangcerdas.  Saat usia muda ia sudah banyak mendapat undangan sebagai pembicara di tingkat internasional. Ia pernah tampil  di BBC World Debate di Inggris berhadapan dengan diplomat senior Ramos Horta di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia.

Dino juga sosok yang berperan besar membangun komunitas diaspora Indonesia yang menyatukan keturunan Indonesia dari berbagai belahan dunia. Ia terkenal sosok diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.

Saat menjabat Dubes Indonesia di Amerika Serikat, Dino sukses  menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Ia lalu mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yang ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak Indonesia di panggung global.

Tenddy sepertinya tidak paham dengan pengalaman Dino ini sehingga ia mencoba menyudutkan Dino dengan logika kekanak-kanakan. Tak heran, reaksi publik pun bermunculan di berbagai platform media sosial. Warganet beramai-ramai mendukung Dino dan menyudutkan Teddy.

Di sisi lain, sejumlah komentar juga menyoroti latar belakang Teddy yang sebelum menjabat Sekretaris Kabinet dikenal sebagai ajudan Presiden Prabowo. Perdebatan mengenai kapasitas dan pengalaman kedua tokoh tersebut pun semakin ramai diperbincangkan.

Situasi itu membuat nama Teddy menjadi sorotan publik yang menuai pandangan negatif. Pada akhirnya tanggapan orang-orang dekat Prabowo terhadap kritikan Dino itu justru mempermalukan diri mereka sendiri. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini