Sejak awal program Makan bergizi Gratis (MGB) mendapat
banyak kritik dari sejumlah ahli. Program ini tidak bermanfaat, tidak efisien,
menghabiskan anggaran besar dan tidak bisa menjadi andalan bagi masa depan
bangsa. Menghabiskan uang hingga Rp350 Triliun per tahun untuk makan gratis, jelas
merupakan langkah yang sia-sia.
Ilustrasi para maling berpesta menikmati hasil korupsi progam MBG. Foto karya AI
Dengan uang sebanyak itu, ada program penguatan sumber daya manusia lain yang bisa dilakukan. Semisal, memperkuat Pendidikan di pedesaan, penambahan program Pendidikan gratis, mempertajam program vokasi dan lainnya. Makan gratis bagi anak sekolah, jelas terlalu mengada-ngada. Program ini hanya menghabiskan anggaran tanpa arah yang jelas.
Adalah seorang anak muda berstatus mahasiswa yang cukup keras menentang program MBG ini. Dialah Tyo Ardianto, ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM (Universitas Gadjah Mada) yang aktif berkampanye untuk menghentikan progam MBG ini. Bisa dikatakan, anak muda ini pengkritik program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang paling keras dan vokal.
Tyo mengkritik dengan sangat tajam program MBG yang dianggapnya tidak bermanfaat. Tyo menyorot tajam berbagai penyelewengan dalam program itu. Tyo berani terus terang mengatakan bahwa Ketua BGN (Badan Gizi Nasional) Dadan Hindayana seharusnya masuk penjara. Tyo pula yang pertama mencetuskan istilah MBG dengan sebutan”Maling Berkedok Gizi”.
Tyo kuliah di Jogja, sangat akrab dengan budaya pelesetan Jogja. Tapi, kali ini bukan pelesetan yang bikin senyum. Pelesetan Tyo itu bisa bikin perut mulas.
Terbukti, kritik Tyo menemukan kebenarannya. Dadan Hindayana dan dua wakilnya, Sonny Sonjaya dan Lodewyk Pusung, digerebek Kejaksaan Agung di pagi buta, lalu digelandang dengan rompi merah muda dan tangan diborgol sebagai tersangka.
Kasus korupsi tersebut bukan skandal. Itu tragedi. Bagaimana sebuah program yang dipertahankan Presiden Prabowo Subianto dengan segenap kemampuan yang ada ternyata keropos dan membusuk dari dalam.
Sebuah program yang diharapkan menjadi ikon Prabowo. Sebuah program yang ingin dicatat sebagai legasi Prabowo ternyata remuk redam dari dalam.
Sejak program itu diluncurkan, berbagai kritik keras bermunculan. Bermacam-macam laporan mengenai korupsi dan salah kelola bermunculan. Namun, Prabowo bergeming. Prabowo pasang badan.
Sampai akhirnya tiba di satu titik. Prabowo tidak bisa lagi mengelak dan harus menyerah. Ia dikhianati secara telanjang oleh orang yang ia beri kepercayaan menjalankan program andalannya.
Prabowo mengaku sedih. Tapi, itu tidak cukup. Ia harus bertanggung jawab. Ia tidak bisa berlepas diri. Tragedi korupsi MBG itu menjadi tanggung jawab pribadinya.
Prabowo harus mengakui kesalahan dan harus meminta maaf kepada publik. Prabowo harus mengakui bahwa, lagi-lagi, ia salah memilih orang.
Bagaimanapun juga, Dadan Hindayana adalah pilihan Prabowo langsung. Tidak ada konsultasi dengan siapa pun. Prabowo melakukan handpick, memungut langsung Dadan dengan tangannya. Dan, Prabowo salah.
Ini tentu kesalahan fatal dalam melakukan judgment terhadap seseorang yang akan memimpin sebuah program besar. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa pola rekrutmen dengan menggunakan insting seperti yang dilakukan Prabowo bisa membawa bencana.
Tragedi MBG itu seharusnya bisa dijadikan momen oleh Prabowo untuk jeda. Untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG. Saatnya Prabowo mau sedikit buka telinga untuk mendengarkan para pengkritiknya.
Tapi, itu bukan gue banget. Bukan Prabowo kalau mau mendengar masukan. Bukan Prabowo kalau mau mendengar kritik. Bukan Prabowo kalau mau mengakui kesalahan. Bukan Prabowo kalau tidak keras kepala.
Prabowo keras kepala. Ia mengakui itu. Dan bangga. Sambil berusaha sedikit melucu ia memegang kepalanya. Katanya, keras kepala perlu untuk mempertahankan prinsip.
Prinsip keras kepala itulah yang dipertahankan Prabowo. Alih-alih jeda sambil merenung dan mengevaluasi, Prabowo langsung tancap gas. Mengangkat Nanik S. Deyang sebagai pengganti Dadan. Bukan sebagai Plt atau Pjs sambil mencari orang yang lebih tepat, tapi langsung meng-handpick Nanik sebagai pejabat permanen.
Sekali lagi Prabowo masuk ke lubang yang sama. Publik tahu, tidak ada alasan yang paling masuk akal kecuali bahwa orang pilihan Prabowo itu adalah orang dekatnya. Prabowo suka sekali dikeliling bubble yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
Francis Fukuyama membagi kepercayaan sosial berdasarkan luas radius kepercayaan (radius of trust). Fukuyama mengategorikan masyarakat ke dalam dua kelompok, yaitu high-trust society, ’masyarakat dengan tingkat saling percaya yang tinggi’, dan low-trust society, ’masyarakat yang hanya percaya pada lingkungan sempit seperti keluarga dan kekerabatan’.
Masyarakat yang hanya percaya pada lingkaran kecil, nepotisme, atau ikatan primodial sering kali menghambat kerja sama skala besar di luar kelompoknya, yang berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi dan demokrasi.
Masyarakat demokratis yang matang justru membutuhkan kepercayaan antarpribadi yang meluas (general trust). Ruang lingkup kepercayaan yang terbatas bisa menjadi ciri dari kultur low trust, yang menjadi tantangan bagi terciptanya masyarakat sipil yang kuat dan demokratis.
Prabowo cenderung punya low trust kepada orang lain. Ia lebih percaya kepada orang-orangnya sendiri, termasuk Tim Mawar. Ia memberikan jabatan tinggi kepada anggota Tim Mawar, tapi tidak semuanya berhasil. Salah satunya, Dirjen Bea Cukai Letjen Djaka Budi Utama, sedang dibidik dalam kasus korupsi.
Prabowo boleh saja tetap keras kepala. Korupsi merajalela di sekitarnya. Nilai tukar rupiah ambruk. Krisis ekonomi dan politik di depan mata. Kalau Prabowo tetap keras kepala, cepat atau lambat, ia bisa kehilangan kepalanya.
Rakyat Indonesia harusnya mendukung gagasan Tyo yang sampai sekarang tetap bersikeras menentang MBG ini. Penangkapan Dadan dan dua rekannya bukanlah penyelesaian yang diharapkan. Tyo tetap menuntut agar Pemerintah seharusnya mengalihkan dana MGB yang sangat besar itu ke bidang lain yang lebih bermanfaat untuk penguatan ekonomi bangsa. ***