-->

Pelaksanaan AFF U-19 2026 Kacau Balau, Exco PSSI dan Bobby Berusaha Sudutkan Rico Waas

Sebarkan:

Bobby Nasution dan EXCO PSSI mengumumkan bahwa Stadio Teladan tidak bisa digunakan karena dianggap belum selesai

Euphoria pelaksanaan turnamen sepakbola ASEAN usia di bawah 19 tahun atau AFF U-19 yang berlangsung di Sumatera Utara ternyata menghadirkan keserabutan manajemen. Belakangan ini mulai terlihat ada unsur permainan politik yang dilakukan Exco PSSI dan Gubernur Sumut Bobby Nasution untuk menyudutkan Walikota Medan Rico Waas.

Kehebohan terbaru dari pelaksanaan kejuaraan itu adalah mencuatnya kisruh soal pembayaran biaya hotel bagi tim peserta.

Sampai-sampai ada  tim peserta, seperti Timor Leste yang sejatinya menginap di Grand Mercuri Hotel Medan, kemudian harus check out dari hotel  karena belum adanya pembayaran yang jelas. Tim dari Fhilipina juga mengalami masalah yang sama.

PSSI dan panitia lokal menuding kalau semua ini terjadi akibat tidak adanya komitmen Pemko Medan untuk memenuhi janji untuk membayar biaya hotel itu.

Semestinya, menurut versi PSSI, akomodasi hotel itu ditanggung oleh Pemko Medan. Hal itu sudah tertuang dalam perjanjian yang disepakati sejak awal.

“Kami kecewa karena Pemko Medan tidak berkomitmen soal pembayaran akomodasi negara peserta AFF . Kasihan para pemain muda yang mau mengasah mental, mereka harus dipusingkan karena soal uang hotel,” kata salah seorang Panitia Pelaksana ASEAN Boys Championship, Muhammad Fauzi, Senin (1/6/2026) di Medan.

Tudingan Fauzi itu tentu saja sangat menyudutkan Walikota Medan Rico Waas. Tak pelak lagi, Rico menjadi korban caci maki di media sosial. Ia dianggap pemimpin yang tidak bertanggungjawab karena tidak mau memenuhi janji dengan baik. Dampaknya, Indonesia sebagai tuan rumah merasa dipermalukan.

Merasa nama baiknya dirusak, kali ini Rico tidak mau tinggal diam. Ia membongkar fakta bahwa sebenarnya tidak pernah ada perjanjian bahwa Pemko Medan menanggung biaya akomodasi bagi peserta AFF U-19. Masalah akomodasi itu sama sekali tidak pernah dibahas PSSI dan panitia bersama Pemko Medan.

“Tidak ada perjanjian mengenai hal itu sama sekali. Tudingan mereka itu asal-asalan,” kata Sekda Kota Medan Wirya Alrahman mewakili Walikota Rico Waas.

Dalam perjanjian awal, ujar Wirya, Pemko Medan hanya terlibat dalam persiapan AFF U-19 sebatas penyediaan dan pembenahan fasilitas stadion serta lapangan yang akan digunakan selama turnamen berlangsung.

"Sejak awal tidak pernah ada komitmen dari Pemko Medan untuk menanggung biaya hotel maupun penginapan peserta. Masalah itu tidak pernah dibahas sama sekali. Yang diminta kepada kami hanya pembenahan lapangan dan stadion," ujar Wiriya, Selasa (2/6/2026).

Menurut Wiriya, dalam pertemuan yang digelar pada Maret 2026, Pemko Medan hanya diminta menyiapkan lapangan Stadion Teladan sebagai salah satu venue, serta Stadion Kebun Bunga, dan Lapangan Taman Cadika sebagai tempat latihan para peserta.  Semua tugas itu telah dilaksanakan Pemko Medan.

“Belakangan kok muncul tuduhan bahwa Pemko Medan harus menanggung biaya hotel para peserta?” tanya Wirya.

Tuduhan ini yang kemudian dibantah Pemko Medan. Bagaimana pun juga Pemko Medan tidak mungkin bisa sembarangan mengeluarkan biaya untuk akomodasi itu. Ada aturan yang harus disepakati sejak awal. Tidak boleh asal sembarangan klaim.

Wirya memang mengaku kalau pada 24 Mei 2026 atau sepekan sebelum pertandingan dimulai, pernah ada surat dari PSSI kepada Pemko Medan yang meminta dukungan pembiayaan akomodasi bagi para peserta tertentu. Namun Pemko Medan sama sekali tidak pernah menyetujui permintaan itu.

Permintaan seperti itu tidak dapat  mereka penuhi karena tidak memiliki dasar regulasi yang menjadi landasan untuk penggunaan anggaran daerah. Tanpa regulasi yang jelas, tentu saja Pemko Medan tidak mau mengeluarkan anggaran sembarangan.

Maka itu, permintaan untuk pembiayaan akomodasi itu itu sama sekali tidak pernah disetujui Pemko Medan.

"Kami melihat tidak ada ketentuan atau aturan yang dapat mengakomodasi permintaan tersebut. Anggaran juga tidak tersedia di Pemko Medan, sehingga tidak bisa dipenuhi. Kami tidak pernah menyatakan setuju dengan permintaan itu," tegas Wirya.

Lebih lanjut Wirya memaparkan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan serta Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pekan Keolahragaan, penyelenggaraan kejuaraan olahraga internasional merupakan tanggung jawab induk organisasi cabang olahraga terkait.

"Dalam hal ini penyelenggaranya jelas PSSI dan panitia lokal dari kantor Gubernur Sumut. Bahkan ada surat dari Sekretaris Jenderal Kemenpora kepada PSSI tertanggal 29 April 2026 terkait penyelenggaraan AFF. Jadi, penunjukan Sumatera Utara sebagai tuan rumah merupakan kewenangan dan tanggung jawab PSSI bersama federasi sepak bola terkait," ujarnya.

Karena itu, Pemko Medan menilai tidak tepat jika biaya akomodasi peserta dibebankan kepada pemerintah daerah melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).

Menurut Wiriya, penggunaan dana BTT sebagaimana diatur dalam PP Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah tidak dapat diterapkan untuk pembiayaan akomodasi peserta AFF U-19.

"Jangan kemudian tiba-tiba meminta menggunakan dana BTT. Tidak bisa seperti itu. Pemda hanya membantu penyediaan fasilitas stadion dan lapangan," katanya.

Untuk memperjelas persoalan tersebut, Pemko Medan telah mengirim surat kepada Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri pada 26 Mei 2026 guna meminta pendapat dan penjelasan terkait permintaan dukungan pembiayaan yang disampaikan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Kami tahu secara aturan bahwa hal itu tidak boleh dibiayai oleh Pemerintah daerah. Selain itu, dari awal memang tidak pernah ada pembicaraan atau komitmen terkait pembiayaan akomodasi. Yang diminta hanya dukungan fasilitas stadion dan lapangan," ucapnya.

Kinerja Panitia yang Buruk

Penjelasan Wirya  ini kian menegaskan betapa buruknya kinerja panitia lokal dalam pelaksanaan AFF U-19 kali ini. Malah terkesan kalau konflik ini sengaja dicuatkan untuk merusak citra Rico Waas sebagai Walikota Medan. Yang menjadi komando untuk merusak citra Rico Waas itu adalah Gubernur Bobby Nasution bekerjasama dengan PSSI.

Ujung-ujungnya, akan muncul tuduhan di ruang publik bahwa  Rico gagal membantu pelaksaan AFF U-19. Kalaupun manajemen pelaksana kacau balau, maka nantinya Rico yang menjadi kambing hitam.

Serangan terhadap Rico Waas ini sebenarnya sudah tampak sejak mencuat kabar bahwa Stadion Teladan tidak layak dijadikan sebagai tuan rumah untuk venue AFF U-19 kali ini. Padahal sebenarnya kebutuhan utama stadion itu telah disiapkan Pemko Medan.

Bahkan Rico telah mengajak ASN dan masyarakat untuk  menggelar gotong royong di area stadion, meski secara teknis tanggungjawab proyek itu masih berada di pihak kontraktor karena pekerjaan belum diserahterimakan.

Namun tiga hari sebelum kejuaraan dimulai, muncul pernyataan dari Gubernur Bobby Nasution bahwa Stadion Teladan belum layak digunanakan. Bukan hanya itu, Bobby sempat mengatakan bahwa Stadion Kebun Bunga dan Lapangan Cadika juga tidak bisa digunakan untuk tempat latihan bagi para peserta.

Nyatanya, ucapan Bobby itu salah besar. Lapangan Cadika dan Kebun Bunga tetap bisa digunakan untuk arena latihan bagi para peserta. Sejumlah negara, seperti tim Thailand dan tim Vietnam telah menggunakan arena itu pada kesempatan yang berbeda.

Saat lapangan mereka gunakan, pengawalan dilakukan secara ketat sehingga tidak bisa ditonton oleh publik.

Bahkan untuk Stadion Teladan pun, sebenarnya masih layak digunakan sebagai venue bagi pertandingan antarnegara sahabat, bukan untuk tim nasional.

Untuk pertandingan nasional, sudah pasti wajib dilaksanakan di Stadion Utama Deli Serdang karena penontonnya akan membludak. Tapi untuk pertandingan antar tim tamu, seharusnya bisa dilaksanakan di Stadion teladan karena jumlah penonton relatif sedikit.

Terkait Stadion Teladan, Sekda Wirya Alrahman sejak awal menegaskan bahwa kontrak untuk proses penyelesaikan proyek itu sesuai kesepakatan dengan kontraktor adalah  sampai  September 2026.

“Dari awal PSSI sudah mengetahui bahwa stadion itu masih dalam tahap pengerjaan melalui proyek APBN dan APBD. Meski demikian, Pemko tetap berupaya maksimal mendukung pelaksanaan AFF dengan membenahi fasilitas yang diperlukan seperti kamar mandi, ruang ganti pemain, dan ruang ofisial," katanya.

Semua pekerjaan itu sudah tuntas. Anehnya, tetap saja dianggap tidak layak sebagai venue pertandingan. Belakangan mencuat kabar kalau pertandingan tetap akan dilaksanakan di Stadion Teladan, tapi tanpa ada penonton.

Mirip Perdebatan soal JIS 

Sikap PSSI dan panitia lokal yang terus menyudutkan Pemko Medan dianggap terlalu mengada-ngada. Terkesan sangat politis dengan tujuan untuk merusak citra Rico Waas.

Terlihat jelas ada kerjasama antara Bobby Nasution dan Exco PSSI dalam mengampanyekan kegagalan Rico Waas membangun stadion legendaris di Kota Medan itu.

Kasus ini mirip dengan Upaya yang dilakukan Joko Widodo – semasa masih menjabat presiden – bekerjasama dengan PSSI untuk merusak citra Anies Baswedan yang telah sukses membangun Jakarta International Stadium (JIS) yang sangat megah di Kota Jakarta.

Jokowi dan PSSI rupanya tidak mau menerima kenyataan itu. Mereka iri, sehingga berupaya mencari-cari kelemahan proyek itu. Sampai-sampai Jokowi bersedia mengeluarkan biaya cukup  besar untuk menukar rumput dan membenahi sejumlah konstruksi bangunan.  Padahal perbaikan itu sebenarnya tidak signifikan. 

Walikota Rico Waas saat mengecek proyek Stadion Teladan
Yang telah dibangun Anies Baswedan sebenarnya sudah layak menjadi stadion internasional.  Tapi oleh Jokowi, sengaja dicari-cari kelemahannya agar citra Anies rusak di ruang public.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jokowi sangat takut kalau citra Anies meningkat di mata publik, sebab sosok itu akan menjadi ancaman bagi kekuasaannya di masa depan. Kalau citra Anies meroket dan kemudian ia terpilih sebagai presiden, bisa jadi Jokowi akan meringkuk di penjara dalam kasus korupsi.

Scenario yang sama terkesan dijalankan oleh Bobby Nasution dan Exco PSSI di Kota Medan. Mereka sepakat menyatakan Stadion Teladan yang dibenahi Rico Waas tidak layak menjadi tuan rumah pelaksanaan AFF U-19.  Tujuannya sebenarnya untuk merusak citra Rico sebagai sosok yang dianggap berjasa besar menyelesaikan proyek itu.

Maklum saja, di ruang publik, promosi Stadion Teladan begitu gencar sehingga mampu menaikkan citra Rico Waas sebagai sosok yang berada di belakangan proyek itu.

Sebelumnya, saat Walikota Medan masih dijabat Bobby Nasution, Stadion Teladan sama sekali tidak berbentuk. Bobby bisa dikatakan sosok yang merusak stadion itu. Ia tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Sampai melebihi waktu yang ditentukan, Bobby tetap tidak mampu menyelesaikan proyek itu.  Selama di bawah kendali Bobby Nasution, proyek Stadion Teladan hancur lebur. Baru di masa Walikota Rico Waas, stadion itu mulai berbenah, bahkan sudah tampak megah.

Untuk diketahui, hubungan Bobby dan Rico Waas sudah tidak harmonis lagi.  Keduanya saling serang di depan publik. Terutama Bobby, sangat aktif menyudutkan dan mencari-cari kesalahan Rico Waas.

Pelaksanaan AFF U-19 juga terkesan digunakan Bobby untuk kembali menyerang Rico. Namun dari fakta yang terungkap, ternyata biang keroknya ada di panitia lokal dan Exco PSSI dalam mengatur semua persiapan itu.

Panitia lokal adalah orang-orang pilihan Bobby, sedangkan jaringan PSSI sampai sekarang masih diisi orang-orang pro Jokowi. Tak heran jika AFF U-19 sarat dengan kepentingan politik untuk menjatuhkan lawan. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini