![]() |
| Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal yang akan dilantik sebagai penasihat presiden bidang tenaga kerja |
Tentang kabar pelantikan Said Iqbal itu dibenarkan oleh Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea yang sudah terlebih dahulu bergabung dalam system pemerintahan Prabowo. Andi sendiri saat ini menjabat sebagai Staf Ahli Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di bidang Ketenagakerjaan.
Dengan demikian semakin bertambah tokoh buruh yang masuk dalam lingkup pemerintahan. Sebelumnya pada 27 April lalu, Presiden Prabowo juga telah melantik Mohammad Jumhur Hidayat, Ketua Umum KSPSI sebagai Menteri Lingkungan Hidup.
KSPSI selama dikenal sebagai organisasi buruh yang sangat aktif menggelar aksi demo menuntut kesejahteraan pekerja. Said Iqbal, Jumhur dan Andi Gani adalah sosok yang aktif memimpin aksi demo itu.
Tapi kini ketiganya telah masuk dalam system Pemeritatahan. Bisa dikatakan, langkah Prabowo merangkul mereka masuk dalam lingkungan kabinet adalah untuk meredam kemungkinan mencuatnya aksi buruh.
Prabowo sangat takut dengan aksi buruh itu karena saat ini tekanan ekonomi bagi masyarakat Indonesia semakin berat. Harga -harga melambung, pengangguran meningkat di mana-mana, jumlah pekerja yang mengalami PHK terus membludak.
Biasanya para buruh yang paling kritis memprotes masalah ini. Kalau buruh sudah marah, protes akan busa merembek ke segala penjuru. Gerakan buruh ini akan terus menyebar ke berbagai daerah.
Makanya Prabowo berupaya cepat untuik mengantisipasi situasi ini. Ia berharap dengan ditariknya para tokoh buruh ke dalam Pemerintahan, ancaman aksi demo buruh sudah tidak menguat lagi.
Terkait dengan pelantikannya sebagai penasihat presiden, Said Iqbal belum mau banyak berkomentar.
"Kita tunggu saja pengumuman resmi dari Mensesneg atas nama Presiden," kata Said saat dihubungi Kajianberita.com pada Minggu, 7 Juni 2026.
Namun saat ditanya soal sikapnya jika diajak bergabung dalam pemerintahan, Said Iqbal tidak mau menolak.
“Ya, mati kita bantu Pemerintah untuk menyelesaikan masalah buruh. Oleh karena itu Said hanya mau menggeluti bidang yang selama ini dia geluti sebagai pimpinan serikat buruh. Kalau di bidang ketenagakerjaan, ya saya setuju," tuturnya.
Profil Said Iqbal
Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968. Dia menyelesaikan pendidikan di SMAN 51 Jakarta pada 1987 dan kemudian melanjut kan Pendidikan di Politeknik (Teknik Mesin) Universitas Indonesia.
Selesai dari UI, ia melanjutkan Pendidikan jenjang S1 di Fakultas Teknik Mesin Universitas Jaya Baya. Kemudian sukses menggapai Master Ekonomi (S2) dari Universitas Indonesia.
Nama Said Iqbal pertama mencuat sebagai aktivis buruh kala ia berjuang di tempatnya bekerja di Perusahaan Elektronika di Kabupaten Bekasi pada 1992. Pasca reformasi setelah Pemerintah membebaskan pendirian serikat pekerja tanpa harus berafiliasi kepada Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Said Iqbal bersama tokoh buruh lainnya mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Di FSPMI, pada 1999-2006, Said Iqbal dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal. Kemudian pada periode berikutnya hingga saat ini, Iqbal mendapat amanah sebagai presiden. Sebagai pimpinan di organisasi itu, Iqbal terkenal vocal memperjuangkan nasib buruh, baik itu menyangkut upah, hak pekerja, dan lainnya.
Bersama organisasi buruh lainnya, ia lantas membentuk payung bagi organisasi buruh yang ada di Tingkat nasional. Payung itu adalah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) yang mewadahi sejumlah organisasi buru, seperti FSPMI, SPN, ASPEK Indonesia, FSPKEP, FSP Farkes, FSP PPMI, FSP ISI,FSP Pariwisata Ref, hingga PB PGRI. Iqbal menjabat sebagai presiden pertama di KSPSI.
Semua masalah terkait pekerja selalu mereka kritis. Bahkan sampai-sampai isu pengangkatan guru honorer pun muncul dalam aksi-aksi buruh. Sikap vokalnya yang meminpin aksi buruh itu membuat nama Iqbal semakin popular.
Pada 2013 lalu, Said Iqbal meraih penghargaan internasional The Febe Elisabeth Velasquez Award yakni sebagai tokoh Buruh terbaik dunia dari serikat pekerja Belanda, FNV. Penghargaan ini biasanya diberika bagi para aktivis buruh yang aktif berjuang demi tegaknya hak-hak buruh di negara masing-masing.
Dalam pemilihan itu, Said Iqbal menyisihkan 200 kandidat lainnya dari seluruh dunia berkat militansinya mengawal demokrasi dan kebebasan berserikat melalui FSPMI dan KSPI.
Selain orator ulung yang tajam saat bersuara di jalanan, Said Iqbal juga jago menulis. Ia secara rutin menuliskan gagasannya tentang perjuangan buruh di Koran Perjoeangan, media cetak internal yang dimiliki FSPMI.
Bukunya berjudul ‘Gagasan Besar Serikat Buruh’ sudah diterbitkan. Jika tampil di televisi pun, Said Iqbal tidak lagi canggung saat harus berhadapan dengan lawan bicara yang berseberangan pendapat.
Dengan masuknya Iqbal dalam jajaran cabinet, akankan nasib buruh akan terus diperjuangkan? Atau jangan-jangan nasib buruh akan diabaikan karena pemimpin mereka telah menikmati hidup tenang di balik ruang mewah dan ber-AC ?
Pertanyaan ini yang belum terjawab. Para buruh masih menunggu kenyataan yang akan terjadi ke depan.
Namun para buruh harus paham bahwa kekuasaan itu adalah candu. Ia mampu memberi nikmat yang bisa membuat orang lupa asal usulnya. Lihat saja berapa banyak para aktivis yang kini tak lagi memiliki daya kritis membela rakyat setelah mereka mendapat fasilitas lengkap dari penguasa.
Bukan tidak mungkin Said Iqbal akan mengalami situasi itu. Maka itu, seharusnya organisasi buruh harus bisa menyiapkan figur baru yang siap memimpin gerakan buruh di jalanan. Buruh harus berani bersuara menuntut pemerintah mencampakkan Said Iqbal, Andi Gani dan Jumhur Hidayat dari kekuasaan manakala mereka berkhianat.
Pokoknya jangan sampai gerakan buruh menjadi alat dagangan para pimpinan buruh. Maka itu, semua buruh harus memantau tiga tokoh KSPSI itu yang kini hidup nyaman berdampingan dengan penguasa. Ganyang mereka jika tidak lagi konsisten pada nilai-nilai perjuangan pekerja. ***
