![]() |
| Prof. Koentjoro Soeparno |
Menurut Koentjoro, penjelasan langsung dari Jokowi dinilai dapat mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat.
Koentjoro mengaku kritik yang selama ini disampaikannya telah muncul sejak Jokowi masih menjabat sebagai Presiden RI. Ia berharap mantan kepala negara itu tetap berpegang pada kejujuran dalam menyampaikan informasi kepada publik.
"Kepada Pak Jokowi dan kawan-kawan yang kami sampaikan adalah agar kembali kepada jalan yang lurus, Pak. Jangan banyak berbohong," ujar Koentjoro, dilansir pada Rabu (29/7/2026).
Ia menilai seorang presiden memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu, menurut dia, kritik yang disampaikan merupakan bagian dari kepedulian sebagai warga negara terhadap pentingnya keteladanan seorang pemimpin.
"Jadi, kami dulu memprotes Bapak karena Bapak sebagai Presiden. Presiden itu salah satu tugasnya di dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa," katanya.
Koentjoro kemudian menyampaikan harapannya agar polemik mengenai ijazah Jokowi dapat diakhiri melalui penjelasan yang terbuka kepada masyarakat.
Menurut dia, langkah tersebut akan lebih baik dibandingkan membiarkan berbagai spekulasi terus berkembang.
"Karena itulah maka saya berkeinginan agar jangan berbohong, jangan membohongi rakyat yang berlalu setelah berlalu," ujarnya. Ia meyakini klarifikasi dari Jokowi akan memberikan kepastian bagi masyarakat.
"Tapi kalau Bapak bisa melakukan satu klarifikasi, akan jauh lebih baik dan akan menyenangkan masyarakat," ucapnya.
Di sisi lain, Universitas Gadjah Mada masih konsisten membela Jokowi. Pimpinan kampus itu menegaskan bahwa ijazah dan skripsi Joko Widodo merupakan dokumen asli.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, mengatakan seluruh proses akademik Jokowi selama menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan terdokumentasi dengan baik. Hanya saja ada beberapa cacatan yang hilang.
![]() |
| Jokowi dan dokumen ijazahnya |
Sigit menegaskan tidak ada keraguan mengenai status Joko Widodo sebagai alumni Fakultas Kehutanan UGM. Menurut dia, seluruh tahapan pendidikan, mulai dari perkuliahan hingga penyelesaian tugas akhir, telah dijalani sesuai ketentuan yang berlaku.
Pernyataan UGM tersebut telah disampaikan sebelum perkara dugaan ijazah Jokowi bergulir di pengadilan dan menjadi salah satu rujukan dalam menjawab keraguan yang berkembang di ruang publik.
Namun banyak yang yakin kalau pernyataan UGM itu disampaikan di bawah tekanan demi menjaga marwah seorang presiden. Apalagi ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan di ijazah Jokowi sebagaimana yang telah diteliti oleh kelompok yang menuding kepalsuan ijazah itu.
Jokowi sendiri sempat memunculkan nama Kusmujo sebagai dosen pembimbingnya. Anehnya Kusmujo kemudian membantah pernyataan itu. Ada-ada saja…****

