![]() |
| Lokot Nasution, Ketua Demokrat Sumut |
Terbukti, selama lima tahun belakangan ini, kata Burhanuddin Sitepu, kegiatan partai nyaris tidak ada yang bisa dirasakan pengurus dan kadernya. Lokot dinilai hanya asyik dengan kepentingannya sendiri, seakan tidak peduli pada upaya membesarkan partai.
“Bayangkan saja, rapat pengurus nyaris tidak pernah diadakan. Padahal dalam AD/ART, ada kewajiban menggelar rapat pengurus, baik itu yang sifat bulanan, triwulan dan semester. Bahkan ada pula rapat akhir tahun sebagai evaluasi menyeluruh. Sayangnya, semua ini tidak pernah dilakukan selama kepemimpinan Lokot Nasution selaku ketua," tegas Burhanuddin Sitepu SH kepada wartawan, Senin (31/8).
Dengan minimnya pertemuan pengurus itu, konsolidasi internal partai nyaris tidak pernah dilakukan. Para pengurus tidak bisa bergerak karena mereka cenderung menunggu komando ketua, sementara komando itu tidak pernah ada.
“Ini yang membuat partai Demokrat mengalami kemunduran di Sumut lima tahun terakhir. Kondisi itu terbukti dengan berkurangnya perolehan kursi partai di DPRD Provinsi,” kata Burhanuddin Sitepu.
Akibat sikap kurang peduli yang diperlihatkan ketua, banyak kader yang kemudian pindah ke partai lain.
“Ada tokoh partai lain yang tadinya bergabung ke Demokrat, tapi melihat kinerja partai begitu pasif, mereka kembali ke partai yang lama. Ada juga kader asli Demokrat yang pindah ke partai lain karena gagasannya tidak bisa disaluran di partai ini,” kata Burhanuddin.
Tak heran jika struktur pengurus partai Demokrat Sumut yang awalnya cukup gemuk hingga mencapai 300 orang, perlahan mulai pecah. Sebagian besar sudah tidak peduli dengan kondisi partai karena mereka tidak pernah dilibatkan.
“Bahkan kalau pun sekarang pengurus diminta menghadiri pertemuan, untuk mengumpulkan 20 pengurus saja pasti sulit. Saya berani mengatakan ini karena selama lima tahun kepemimpinan, Lokot Nasution tidak ada kerja nyata ketua untuk partai," kata Burhanuddin Sitepu.
Burhanuddin sendiri dikenal sebagai politisi senior Demokrat Sumut. Ia pernah menjabat Ketua DPC Partai Demokrat Kota Medan periode 2017-2022 dan tiga periode duduk sebagai anggota DPRD Kota Medan.
Sebagai kader sejati partai, Burhanuddin mengaku sangat sedih dengan kondisi partainya saat ini.
![]() |
| Burhanuddin Sitepu, wakil ketua II DPD Demokrat Sumut |
" Saya berharap dengan momentum Musda kali ini akan terpilih figur ketua dan pengurus yang memikirkan masa depan partai. Bukan memikirkan kepentingannya saja," tegasnya.
Hal senada disampaikan tokoh senior Demokrat lainnya, Armyn Simatupang. Anggota DPRD Sumut ini memang tidak menyebut nama Lokot Nasution secara langsung, namun ia sangat menyayangkan sistem kepemimpinan di partai yang cenderung bermain untuk kepentingan sendiri.
“Pemimpin yang sifatnya one man show jelas tidak baik bagi partai. Semoga pemimpin seperti ini jangan lagi dipilih pada Musda mendatang,” kata Armyn.
Ia berharap semangat kemajuan yang dicanangkan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono bisa dijalankan pengurus Partai Demokrat Sumut ke depan ini.
Dua kandidat Bersaing
Sejauh ini baru dua nama yang mencuat untuk bersaing pada Musda Partai Demokrat Sumut yang berlangsung sebelum akhir tahun ini. Selain Lokot Nasution yang ngotot untuk kembali memimpin, juga muncul kandidat lain yang tidak kalah kuatnya, yakni Sabam Sinaga, anggota komisi X DPR RI asal pemilihan Sumut.
Mencuat kabar kalau Sabam Sinaga sudah mendapat restu dari ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono. Lebih dari setengah pengurus DPC Partai Demokrat kabupaten/kota di Sumut juga sudah memastikan memberikan suara kepada sosok yang satu ini.
Meski demikian, Lokot tidak mau menyerah begitu saja. Walau peluang untuk menang sangat tipis, tapi ia tetap tidak mau mundur. Lokot berupaya mencari cara lain untuk kembali berkuasa, termasuk dengan berupaya mendapatkan restu dari Ketua Majelis Tinggi Partai, Susillo Bambang Yudhoyono.
Tak heran jika ia sangat aktif mengikuti perjalanam SBY ke berbagai daerah. Bahkan ketika SBY menjalani pemeriksaan kesehatan di Amerika, Lokot ikut menyusul beberapa hari kemudian untuk ‘setor muka’. Sampai hari ini Lokot dikabarkan masih berada di Amerika demi untuk bisa dekat dengan SBY.
Lokot tidak bermain sendiri, ada beberapa rekannya pengurus pusat yang mendukung aksinya itu. Rekan-rekannya itupula yang disebut-sebut merekayasa aksi di KPK untuk menuding bahwa Sabam Sinaga pernah terlibat korupsi penjualan alat-alat kesehatan.
Sejauh ini tudingan kasus korupsi yang dialamatkan kepada Sabam Sinaga tidak mendapat respon dari KPK maupun pengurus pusat Demokrat sebab tuduhan itu tidak disertai data yang kuat. Sebaliknya, kasus korupsi yang sempat menyeret Lokot Nasution terus menjadi pembicaraan karena namanya beberapa kali disebut di pengadilan tindak pidana korupsi di Semarang maupun di Medan.
Bahkan Lokot sudah pernah diperiksa di KPK dan dihadirkan sebagai saksi di persidangan. Wajar jika kemudian suara-suara internal yang meminta Lokot melepas jabatan ketua Demokrat Sumut semakin menguat. Demi perjuangan partai, Lokot diminta legowo meninggalkan jabatan itu.
Lokot Nasution terpilih sebagai ketua Demokrat Sumut dalam Musda di Medan yang berlangsung pada Maret 2022 setelah unggul dari dua pesaingnya, Armyn Simatupang dan Tondi Roni Tua.
Dibanding dua pesaing itu, Lokot sebenarnya merupakan sosok yang belum lama bergabung sebagai politisi Demokrat. Sebelumnya, alumni SMAN 3 Medan ini lama berkarir sebagai ASN di Kementerian Perhubungan.
Pada 2019 Lokot melepaskan status ASN dan terjun ke politik sebagai kader Partai Demokrat. Pada 2020 sempat dipercaya sebagai wakil bendahara di tingkat pusat. Namun baru dua tahun menduduki jabatan itu, Lokot kemudian memutuskan kembali ke Medan untuk memimpin DPD Partai Demokrat Sumatera Utara.
Pada Pemilu 2024 lalu ia sukses merebut satu dari tiga kursi Demokrat Sumut untuk duduk di DPR RI. Tak heran jika Lokot lebih sering menghabiskan waktunya di Jakarta ketimbang mengurus partai di Sumut. ***

