![]() |
| Suasana Muktamar NU |
Boleh saja Nahdlatul Ulama mengklaim sebagai organisasi agama Islam terbesar di Indonesia, namun harus dipahami, organisasi ini sama sekali tidak bisa mandiri. Ketergantungan mereka terhadap asupan dana dari pemerintah sangat besar. Maka itu, siapapun yang terpilih sebagai ketua NU pada muktamar ke-35 yang sedang berlangsung saat ini, niscaya nantinya tetap membawa ormas ini sebagai pendukung pemerintah.
Hal itu pun bisa dilihat dari peran orang-orang pemerintah dalam pelaksanaan Muktamar yang sedang berlangsung. Setidaknya tiga kelompok besar yang bermain dalam muktamar ini.
Tokoh tersebut, salah satunya adalah Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul yang menjabat sebagai sekjen PBNU yang juga menteri sosial kabinet Prabowo. Sosok ini terlihat ingin memasangkan Kiai Miftah dengan Gus Kikin: sebagai Rais Am dan Ketua Umum,.
Gus Ipul sedang berjuang keras agar Gus Kikin, pengusaha migas yang kemudian jadi kiai Pondok Tebuireng, bisa terpilih. Gus Ipul punya cara yang sangat pragmatis. Apalagi mantan ketua umum Gerakan Pemuda Ansor –underbow militan NU– itu sudah sangat berpengalaman "bertempur" di pemilihan apa pun, termasuk tiga kali di Pilgub Jatim –dua kali menang, sekali kalah.
Gus Ipul tentu telah banyak belajar dari kekalahannya melawan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim. Sudah pasti Ia tidak ingin kalah lagi di pemilihan rais am dan ketua umum PBNU. Ia jadi lokomotif tim sukses pasangan Kiai Miftah dan Gus Kikin.
Lokomotif kedua bernama Nusron Wahid si mantan ketua GP Ansor yang kini menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang di kabinet Presiden Prabowo.
Nusron menginginkan agar Kiai Zulfa dari Banten sebagai ketua umum.
Satu lokomotif lagi milik Muhaimin Iskandar. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa. Sosok ini merupakan mantan ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia-nya NU yang kini menjabat menteri koordinator dalam kabinet Presiden Prabowo.
Muhaimin menginginkan agar KH Yusuf Chudlori sebagai ketua umum NU. Makanya, jangan heran kalau ketiga lokomotif ini akan meminta restu dari Prabowo untuk mendapatkan dukungan bagi jagoan mereka masing-masing. Bisa dikatakan ketiga orang itulah yang sebenarnya sedang bertempur di dalam selimut.
Tiga-tiganya jagoan dalam memenangi persaingan dalam berbagai muktamar. Cara-cara apa pun bisa dikopi untuk diterapkan di Muktamar NU sekarang, "Termasuk cara karantina.
Tiga tim dari tiga lokomotif itu sampai punya gerakan "jemput bola". Mereka saling menjemput peserta muktamar di bandara. Mereka saling menyediakan angkutan gratis. Bukan dibawa ke Jombang, tetapi ke tempat persinggahan misterius di suatu tempat.
Ada yang menyebut mereka itu disekap. Setidaknya dikarantina. Para pemilik suara itu dikumpulkan sampai berhasil diyakinkan untuk mau memilih calon yang diinginkan. Setelah berhasil, peserta itu masih harus dijaga, diawasi, diintip, dibuntuti: jangan sampai berkhianat.
Dengan membaca situasi itu, maka bisa dipastikan, siapapun ketua NU yang bakal terpilih tetap akan menjadi bagian dari penjilat penguasa. Hanya dengan menjilat maka organisasi ini akan bisa eksis mendapatkan dana dari APBN.
Kalau dana pribadi, jelas Ormas ini tidak memiliki kemampuan membiayai dirinya sendiri. NU kalah jauh dari Muhammadiyah yang terkenal sebagai salah satu ormas dengan aset terbesar di dunia.
Syukurnya NU lebih banyak berjaya di pulau jawa. Makanya NU identik dikatakan sebagai Islam Jawa. Semoga ormas seperti ini tidak terlalu dominan di Sumatera. ***
